Tampilkan postingan dengan label Japanese Culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Japanese Culture. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 September 2011

Weaboo dan Wapanese

Kamis, September 08, 2011 65 Comments Stored
Sering dengar kedua istilah diatas tapi belum tahu artinya? Atau masih asing di telinga kalian dan baru pertama kali ini mendengar? Postingan berikut akan menjelaskan apa sebenarnya Weaboo dan Wapanese itu. Isi artikel MURNI hasil salin tempel dari sumber yang gua sebut dibawah, it means gua TIDAK MEMILIKI tulisan ini. Okeh mamen >:3

Sumber: Kaskus

Artikel di atas ditulis secara apa adanya. Sebaiknya dibaca baik-baik hingga selesai untuk menghindari trolled. Penulis mohon maaf apabila ada kekurangan atau kata-kata yang menyinggung perasaan.

Originally written by Haekel Needs a Girl!
January 19, 2010


Weaboo adalah seseorang yang terobsesi dengan budaya Jepang, dan mereka cenderung untuk bertingkah laku seperti orang Jepang, padahal mereka bukanlah orang Jepang, bukan lahir di Jepang dan bukan warga negara Jepang.

Sementara pengertian Wapanese adalah seseorang yang cenderung bertingkah laku seakan-akan mereka tinggal di Jepang, meskipun mereka bukan warga negara Jepang dan tidak tinggal di Jepang, mereka berharap mereka terlahir dan hidup di Jepang.

Ungkapan Weaboo atau Wapanese memiliki suatu kesamaan dimana ungkapan ini ditujukan kepada mereka yang terobsesi dengan budaya Jepang, tidak hanya terbatas pada anime, manga, atau game, tetapi lebih ke budayanya atau yang mereka anggap 'sangat Jepang' atau sesuatu yang membuat mereka seakan-akan mereka berada di Jepang, sekalipun kenyataannya mereka BUKANLAH di Jepang.

Weaboo atau Wapanese dianggap 'retarded' atau terbelakang karena mereka dianggap kurang menghargai budaya bangsa dan negaranya sendiri (untuk yang sudah tingkat parah).

Berikut ini adalah ciri-ciri weaboo atau wapanese yang sering ditemukan di Indonesia:

  1. Cenderung mengubah namanya (baik nama panggilan maupun nama di situs-situs social networking, forum, dan sebagainya) dengan nama-nama yang bernuansa Jepang (biasanya nama dari tokoh favoritnya), atau kalau perlu lengkap dengan kanji/hiragana/katakananya. Pengubahan nama ini pun tidak hanya secara parsial namun secara keseluruhan.

    Contohnya misalkan nama aslinya sesuai KTP adalah Dwi Ayu Anggraini, biasa dipanggil Ayu, ia terobsesi dengan anime/manga Shuugo Chara, lalu ia mengubah namanya menjadi Hoshino Hinamori, kecuali kalau namanya Ayu Hinamori, atau Ayu 'Hinamori' Anggraini, setidaknya dia masih mencantumkan nama pemberian orang tuanya.

    Perubahan nama mereka ini cenderung cukup mengganggu (terutama dalam social networking seperti Facebook) karena cenderung menyulitkan orang lain untuk mencarinya kecuali teman-teman satu minat yang sering bersamanya, apalagi jika namanya sering berubah-ubah.

    Penggunaan partikel -chan, -kun, -san, dan sebagainya masih bisa ditoleransi.

  2. Profile photo, terutama dalam social networking seperti Facebook biasanya menggunakan tokoh anime/manga, aktor/aktris Jepang, atau orang Jepang yang lagi cosplay, nyaris tidak ada foto asli.

    Kalaupun menggunakan foto asli, biasanya diedit biar terasa nuansa Jepangnya misalnya dihias dengan tulisan Jepang atau bagian jerawatnya ditutupi dengan bunga sakura, misalnya.

  3. Suka atau sering mengikuti acara cosplay (costume playing), dan biasanya kostum yang dipakai adalah yang berkaitan dengan budaya Jepang, misalnya yang cewe menggunakan yukata, kimono, gothic lolita, seifuku (seragam sekolah untuk cewe), dan sebagainya. Untuk yang cowo biasanya cosplay menggunakan pakaian seperti yang dipakai oleh personil band-band Jepang (J-pop atau J-rock) seperti L'arc~en~Ciel, Gazette, Morning Musume, Dir en Grey, dan sebagainya.

    Umumnya rambut mereka pun ikut diwarnai, padahal banyak juga tokoh anime, manga, game, atau aktris/aktor Jepang yang berambut hitam, sama seperti warna rambut orang Indonesia pada umumnya dan tidak perlu diwarnai.

  4. Menyukai lagu-lagu Jepang (J-pop dan J-rock), diatas 90% bahkan cenderung tidak menyukai atau membenci lagu dari negeri sendiri kecuali dari band negeri sendiri yang bernuansa J-pop atau J-rock seperti J-rocks. Lagu western pun kurang disukai. Playlist lagu mereka dipenuhi dengan lagu-lagu Jepang, kalau video dipenuhi oleh video klip lagu-lagu Jepang dan video live band/musisi Jepang favorit mereka.
    Padahal lagu-lagu dari negeri sendiri banyak yang bagus bahkan menurut saya pribadi, ada beberapa lagu pop Jepang (J-pop) yang kedengarannya tidak jauh seperti tipikal lagu pop Indonesia, misalnya lagu-lagunya Yui. Musik Indonesia tidak hanya sebatas di Inbox, Dahsyat, atau Mantap dan tidak hanya sebatas pop melayu yang sekarang jadi mainstream. Masih ada Maliq & D'Essentials, Andra & the Backbone, dan sebagainya. Atau yang indie seperti White Shoes & The Couple Company, Efek Rumah Kaca, dan sebagainya.

  5. Terobsesi ingin belajar bahasa Jepang, berharap mereka bisa tinggal di Jepang dan lancar berbahasa Jepang dengan orang sana. Perlu diketahui bahwa belajar bahasa Jepang itu tidak semudah yang dibayangkan, bahkan orang Jepang sendiri masih ada yang ambigu (karena ada beberapa kosakata Jepang yang sama pengucapannya tetapi beda huruf kanji dan maknanya), dan masih banyak orang Jepang yang kurang bisa membaca kanji. Apalagi Weaboo/Wapanese?

    Kadang bangga dengan Engrisu (Englishnya orang Jepang).

  6. Untuk mereka yang membuat manga atau illust dengan nuansa anime, chara (tokohnya) dinamai dengan nama-nama Jepang. Latarnya pun dibuar se-Jepang mungkin, misalkan dengan bunga sakura, memakai kimono/yukata, atau rumahnya seperti rumah orang Jepang. Jarang sekali kita lihat chara yang anime-ish dengan menggunakan batik, memakai nama orang Indonesia, atau dengan latar yang menggambarkan kehidupan di Indonesia sebenarnya.

    Kalaupun membuat manga dan ingin dipublish, pengarangnya menggunakan pseudonym (nama samaran) dengan nama-nama yang bernuansa Jepang dan tidak menggunakan nama asli. Kalaupun menggunakan pseudonym bukan nama yang bernuansa Indonesia.

  7. Dalam berbicara atau chatting, termasuk wall to wall di Facebook, cenderung menyelipkan bahasa-bahasa Jepang, seperti baka, arigatou, gomennasai, konnichiwa, sayonara, desu, dan sebagainya. Karena tidak semua orang mengerti bahasa-bahasa seperti itu kecuali kalau dengan temannya yang sehobi atau satu minat.

  8. Weaboo atau Wapanese seringkali diidentikkan dengan anime, manga, atau game, tetapi sebenarnya pernyataan itu kurang begitu benar, mengingat intensitas menonton anime, membaca manga, dan bermain game (game dari Jepang seperti Final Fantasy series atau Persona series) mereka yang saya tahu kurang begitu tinggi dan tidak setinggi otaku/nijikon/hikkikomori. Mereka lebih identik dengan budaya Jepang, baik budaya secara tradisional maupun kontemporernya.

    Mereka yang identik dengan anime, manga, atau game cenderung lebih tepat disebut otaku, hikkikomori (untuk yang jarang keluar rumah), bahkan nijikon (untuk yang terobsesi dengan cewe/cowo anime/manga/game). Sementara Weaboo/Wapanese umumnya lebih identik dengan J-music, dorama, tokusatsu, film action Jepang, dan budaya Jepang secara umum seperti bunkasai, bon odori, matsuri, dan sebagainya.

    Penjelasan lebih jauh tentang otaku: Pengertian Otaku

  9. Cenderung bangga dengan barang-barang asli dari Jepang. Kalaupun ada toko yang menjual barang-barang asli dari Jepang, mereka cenderung berbelanja di situ. Baik berupa makanan, figure, peralatan rumah, perabotan dapur, pakaian, dan sebagainya.
    Untuk beberapa benda yang khusus dijual di Jepang, seperti CD music, figure, book, hingga barang-barang limited edition pun mereka sampai membelinya dengan pre-order internet atau menitip kenalan yang pergi ke Jepang atau orang Jepang sendiri tidak peduli semahal apapun harganya atau serumit apapun bahasa yang digunakan 'bahasa planet'.

  10. Untuk makanan dan minuman, mereka cenderung membeli makanan/minuman khas Jepang, seperti sushi, donburi, ramen, ocha, takoyaki, okonomiyaki, dan sebagainya, termasuk makanan ringan seperti Pocky, senbei, atau minumannya Pocari Sweat.

  11. Weaboo atau Wapanese biasanya merupakan anggota yang fanatik atau yang paling niat dalam grup-grup tertentu, grup yang berkaitan dengan japan lovers atau cosplay khususnya. Grup semacam ini memang belakangan menjamur, baik di sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi, seiring dengan meningkatnya jumlah orang yang minat dengan hal-hal yang berbau Jepang.

  12. Cowo Weaboo/Wapanese cenderung terobsesi menjadi bishonen, dimana rambut gondrong model harajuku dan full make-up khas personil band-band J-pop atau J-rock seperti Hyde atau Gackt.

  13. Untuk mereka yang hobi bermusik atau ngeband, biasanya membawakan lagu-lagu Jepang, jarang sekali terlihat membawakan lagu-lagu Indonesia atau Western. Nama band, grup, atau stage name mereka menggunakan nama-nama yang bernuansa Jepang, bahkan tidak jarang yang cenderung meniru bahkan plagiat grup/musisi Jepang tertentu.

  14. Menganggap bahwa Jepang adalah negara terbaik sedunia dan mereka berharap terlahir dan tinggal di sana karena mereka menganggap bahwa di Jepang itu serba ada dan serba enak, minimal melanjutkan sekolah di sana, dimana mereka yang pernah ke Jepang cenderung dikagumi oleh teman-teman satu minatnya.

    Padahal kalau kita sering menjelajah internet atau forum, atau sering membaca artikel tertentu tentang pengalaman hidup di Jepang, hidup di sana tidak seindah dan tidak semudah yang dibayangkan. Gaji di sana boleh relatif lebih besar dan dianggap lebih 'layak' daripada di Indonesia, tetapi hal itu seimbang dengan biaya hidup mereka di sana yang relatif besar. Belum juga termasuk perilaku masyarakat Jepang yang katanya relatif sibuk dan unfriendly, terlepas dari obsesi-obsesi mereka yang gila tetapi unik dalam teknologi dan inovasinya.

  15. Berharap dapat berpasangan dengan Cowo/Cewe Jepang (atau yang penampilannya tipikal oriental, tidak harus terbatas Jepang saja tetapi Korea, China, dan Taiwan juga bisa) yang menurut mereka tampan, keren, dan stylish. Kalaupun dari dalam negeri menginginkan sosok Cowo/Cewe yang penampilannya seperti itu atau sesama 'Japan lover'.

  16. Kamar mereka penuh dengan benda-benda yang berbau Jepang, misalkan ornamen-ornamen yang berkaitan dengan budaya Jepang, poster artis/aktor/band/penyanyi Jepang, action figure (anime/manga/game/tokusatsu), pakaian cosplay, boneka Jepang, dan sebagainya.


Ungkapan Weaboo atau Wapanese sendiri merupakan ungkapan negatif, dimana mereka dianggap retarded, faggot, dan sebagainya. Namun walaupun begitu setiap orang memang mempunyai hak untuk menyukai sesuatu serta bebas berekspresi. Oleh karena itu ungkapan Weaboo atau Wapanese mempunyai batasan tertentu, jadi bukan berarti mereka yang menyukai anime/manga/game, suka cosplay, suka budaya Jepang, dan sebagainya itu dapat dengan mudahnya disebut weaboo/wapanese.

Batasan seseorang disebut Weaboo/Wapanese antara lain:

  1. Kurang menghargai budaya dan negara sendiri. Misalnya menganggap budaya Indonesia itu sampah, tidak ada yang bagus serta berharap terlahir dan tinggal di Jepang. Atau sama sekali tidak menyukai lagu Indonesia karena generalisasi terhadap budaya Indonesia secara asal-asalan.

  2. Kurang menghargai nama, identitas asli, dan penampilan sendiri. Misalnya membenci nama sendiri dan berharap orang tuanya memberinya nama-nama Jepang.

  3. 'Memalsukan' profile di Facebook atau social networking lainnya, dibuat se-Jepang mungkin dan seakan-akan dia adalah orang Jepang, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Padahal orang Jepang sendiri jarang yang menggunakan Facebook dan ber-social networking.

  4. Mengabaikan kewajibannya sebagai pelajar atau mahasiswa untuk proyek yang berkaitan dengan obsesinya. Misalnya rela bolos sekolah untuk membuat kostum untuk cosplay atau rela mengabaikan kuliahnya untuk sibuk dengan band j-pop atau j-rocknya.

  5. 'Ngambek' kalau tidak mempunyai barang-barang yang berkaitan dengan Jepang, termasuk mereka yang tidak mau makan kalau makanannnya bukan masakan Jepang. Misalnya sampai mengurung diri di kamar karena tidak punya yukata atau rela tidak makan seharian karena makanannya bukan masakan Jepang seperti sushi, okonomiyaki, dan sebagainya.

  6. Berharap terlahir di Jepang dan menjadi orang Jepang, tinggal di Jepang, serta mempunyai pasangan orang Jepang.

  7. Cowo yang terobsesi ingin menjadi bishonen (Cowo cantik), bahkan mungkin ada yang sampai menjadi yaoi (baik hanya becanda maupun beneran)

  8. Memakai kostum cosplay bukan pada tempatnya, misalnya memakai jaket Persona 4 waktu acara perwalian atau cosplay di kampus sewaktu ada acara reuni angkatan senior (kalau ingin mengambil gambar kan ada acara cosplay atau gathering khusus)

  9. Tidak ada keinginan untuk memajukan bangsa sendiri.


Gambar: dari sini desu~



ZSRV5KCJHZ4M

Sabtu, 05 Februari 2011

Parah, Anggota Parlemen Jepang Meraba Dada Anggota Parlemen Wanita

Sabtu, Februari 05, 2011 1 Comment Stored
Anggota parlemen merupakan wakil rakyat yang seharusnya menjadi contoh yang baik, tapi apa jadinya jika mereka mengambil kesempatan di tengah keributan sidang parlemen. Gambar di bawah menunjukkan sikap mereka.






Biarpun kelakuan wakil rakyat kita banyak yang nggak bener, tapi kayanya nggak se-nggak-senonoh ini deh...


Source : Whooila

Sabtu, 22 Januari 2011

Seni Petani Jepang Dalam Menggarap Sawah

Sabtu, Januari 22, 2011 3 Comments Stored
Seni melukis sawah dengan padi terdapat di Jepang. Setiap tahun, orang-orang membuat gambar-gambar baru di sawah mereka degan menggunakan padi yang ditanam sesuai pola-pola yang sudah dibuat sebelumnya. Untuk pewarnaanya dengan menggunakan jenis-jenis padi yang berbeda.























Sayangnya itu hanya terlihat sampai padi dipanen pada bulan September.


Sumber : Berita Unik & Whooila

Rabu, 19 Januari 2011

Tashiro, Pulau Di Jepang Yang Penduduknya Kebanyakan Kucing

Rabu, Januari 19, 2011 5 Comments Stored

DESA Tashiro dikenal di Jepang sebagai 'Pulau Kucing'. Namun kini warganya yang kebanyakan sudah lanjut usia mengharapkan hal lain yakni kedatangan warga baru. Dihuni 100 warga, rata-rata di atas 70 tahun, komunitas Tashiro mengharap para kucing bisa menjadi magnet dalam kampanye menarik wisatawan dan pada akhirnya menambah jumlah penghuni desa.

"Kalau dilihat desa ini seolah begitu damai. Tapi kalau misalnya ada kebakaran, tidak ada yang bisa menolong kami. Saya berharap banyak anak muda pindah ke sini. Di Tashiro banyak warga yang mau mengajari mereka cara menangkap ikan," ungkap Yutaka Hama, 49, sebagai pimpinan badan promosi wisata Tashiro.

Hama pindah ke Tashiro beberapa tahun lalu dan kini juga mencari nafkah sebagai pengelola penginapan dan nelayan. Istrinya, Aiko, sejauh ini merupakan perempuan termuda di desanya pada usia 37 tahun. Selain Aiko, kebanyakan perempuan Tashiro sudah berusia di atas 60 tahun.

Tashiro tidak dihuni seekor anjing pun. Selain itu, pemandangan yang biasa terlihat di kota-kota modern di Jepang juga absen. Sebut saja misalnya toko serba ada, lampu lalulintas sampai anak-anak. Populasi manusia di situ telah menurun sepuluh kali lipat sejak 1960, karena banyak warga pindah ke kota lain.


Namun beberapa tahun lalu, Tashiro mulai terkenal sebagai 'Pulau Kucing'. Waktu itu sebuah stasiun televisi membuat acara tentang Jack the Lop Ear, seekor kucing jantan belang hitam-putih. Sekarang Jack adalah atraksi utama di kotanya. Gerak-geriknya yang lamban dibanding kucing lain malah membuat popularitasnya meroket.

"Saya begitu senang bisa melihat Jack. Setelah pensiun, saya mau tinggal di sini saja," tutur Shiho Amano, 18, yang menyukai kucing. Amano khusus datang dari Nagoya ke Tashiro untuk menyaksikan pameran foto yang digelar badan promosi wisata. Telepon genggamnya sudah penuh oleh foto-foto kucing terkenal itu.

Jack bukan kucing pertama yang menjadi idola nasional di Jepang. Bukan juga yang pertama mampu membawa keberuntungan untuk sebuah wilayah. Tahun lalu seekor kucing bernama Tama diangkat sebagai "pimpinan" stasiun kereta api Kinokawa di prefektur Wakayama.

Sebuah topi kepala stasiun pun diberikan kepadanya. Kehadiran Tama menggiring turis ikut datang ke kota kecil tersebut.

Para nelayan Tashiro sering memberi ikan kepada para kucing, Kehadiran kucing jadi gampang terdeteksi di pulau seluas 3,14 kilometer persegi dan terletak 20 kilometer dari pelabuhan Ishinomaki di utara Jepang itu.


Kapal feri penghubung ke pulau ini biasanya hanya mengangkut 10-20 penumpang per hari setelah musim panas. Namun sejak September lalu, jumlah itu meningkat dua kali lipat di hari biasa dan lebih dari tiga kali lipat pada akhir pekan.

"Kami lihat makin banyak yang datang membawa kamera dan makanan, bukannya alat pancing," ujar seorang pegawai kapal feri Ajishima. Ditambahkannya, para turis tetap datang meski sudah dekat musim dingin.


Source : Jelajah Unik

Minggu, 16 Januari 2011

Taijin Kyofusho, Sindrom Aneh Orang Jepang

Minggu, Januari 16, 2011 1 Comment Stored
Ilmu psikiatri mengenal jenis sindrom atau gejala khas yang berhubungan dengan budaya, salah satunya bisa ditemukan di Jepang. Sedikitnya, orang Jepang punya 4 gangguan perilaku aneh yang jarang terjadi pada individu yang berasal dari kebudayaan lain.

Sindrom yang berhubungan dengan budaya tertentu disebut culture specific syndrome. Sebagian besar merupakan gangguan mental dan perilaku, meski ada juga yang berupa penyakit fisik misalnya sindrom Nakalanga di Uganda yang menyebabkan penderitanya muntah terus menerus.

Meski masih kontroversial karena belum banyak diteliti, culture specific syndrome diakui sebagai kategori tersendiri dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental DisordersAmerican Psychiatric Association. Di dalamnya terdapat sejumlah sindrom unik dari berbagai kebudayaan.




Salah satunya adalah sindrom unik dari Jepang yakni Taijin Kyofusho yang kurang lebihnya bisa diartikan sebagai gangguan (sho) rasa takut (kyofu) terhadap hubungan interpersonal (taijin). Dalam bahasa Inggris, sindrom ini disebut dengan istilah Social Anxiety Disorder.

Meski demikian, gejala yang muncul dalam Taijin Kyofusho sangat khas dan tidak sama seperti social anxiety disorder pada orang barat. Gejalanya hanya dialami oleh orang yang hidup dengan kebudayaan Jepang atau beberapa kebudayaan lain di Asia Timur.

Dikutip dari Informahealthcare, keempat gejala yang termasuk sindrom Taijin Kyofusho adalah sebagai berikut. (DSM) yang disusun oleh :

  1. Sekimen-kyofu, yakni takut melihat wajah yang bersemu kemerahan (ereuthophobia).
  2. Shubo-kyofu, yakni takut pada cacat tubuh atau (body dysmorphic disorder).
  3. Jikoshisen-kyofu, yakni takut untuk menatap lawan bicara.
  4. Jikoshu-kyofu, yakni takut pada bau badan sendiri (osmophobia).


Dr Katsuaki Suzuki dari Hamamatsu University membuktikan dalam sebuah penelitian terbaru, sindrom ini memang banyak dialami oleh penduduk Asia khususnya Jepang. Beberapa di antaranya bahkan tidak dapat ditemukan di masyarakat yang hidup dengan kebudayaan barat.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Psychiatry tersebut mengungkap, orang Jepang lebih rentan dibanding orang Barat untuk mengalami sindrom tersebut karena adanya konsep tentang rasa malu. Orang Jepang umumnya tak cuma takut merasa malu tapi juga tak ingin mempermalukan lawan bicara.


Sumber : Whooila

Kamis, 13 Januari 2011

Bukti Kejujuran Orang Jepang yang Sulit Ditiru Bangsa Indonesia

Kamis, Januari 13, 2011 4 Comments Stored


Sebenarnya sih ini bukan pasar yah karena penjual disana adalah para petani yang membuka lapak sendiri-sendiri untuk menjual hasil kebunnya yang tersisa (kebanyakan).

Dan kalau dilihat, tidak ada bedanya dengan pasar yang ada di Indonesia, kecuali satu perbedaannya yaitu tidak ada orang yang menjaga untuk lapaknya tersebut.




Jadi bagaimana transaksinya? Mudah kok, mereka (si penjual) telah mencantumkan harga di setiap barang dagangannya dan apabila ada pembeli yang datang untuk membelinya, si pembeli cukup masukkan uang seharga barang yang dibeli ke tempat yang telah disediakan.

Dan percaya atau tidak, boleh dibilang hampir tidak ada satupun petani yang rugi karena berdagang dengan cara sepeti ini. Atau dengan kata lain, semua pembeli selalu membayar apa yang mereka ambil.



Nah, ini dia sebenarnya yang ingin kami bahas, yaitu KEJUJURAN yang menurut kami saat ini semakin langka di dunia, terutama di Indonesia.

Kami sempat membaca berita bahwa ada sekolah menengah di Indonesia yang mendirikan 'kantin kejujuran' dan hanya dalam waktu hitungan minggu, kantin tersebut bangkrut karena ternyata banyak siswa/ siswi yang tidak membayar sehabis makan.

Padahal di lain sisi, kantin itu berada di salah satu sekolah favorit di daerahnya yang berarti pasti sebagian besar siswa/ siswi disana dari golongan cukup mampu.




Mohon maaf kalau kami tidak sependapat dengan anggapan bahwa 'orang yang tidak jujur itu pasti identik dengan orang miskin' dan karena mereka tidak punya uang makanya mereka berbuat tidak jujur.

Menurut kami, KEJUJURAN bukanlah sesuatu yang bisa diukur dari banyaknya materi maupun tingkat pendidikan tetapi lebih ke moral dan rasa malu yang bisa ditanamkan oleh orang tua maupun lingkungan sekitar.

Dalam hal ini, kita tidak harus selalu mencontoh teknologi yang berasal dari Jepang saja tetapi tidak ada salahnya kita juga mencontoh moral dan rasa malu yang mereka miliki.

Benar, tidak semua orang Jepang disana jujur tetapi setidaknya kalau bicara persentase, tentu jauh lebih baik dari negara kita. Setuju kan dengan kita?


Sumber : Whooila

Selasa, 27 April 2010

Maid vs Meido, Between Reality and the Otaku's Dream Girl

Selasa, April 27, 2010 10 Comments Stored
Sekarang ini, banyak sekali anime dan manga yang menampilkan tokoh maid, atau setidaknya menggunakan kostum/seragam maid, misalnya Mahoromatic, Kore ga Watashi no Goshujin-sama, Hanaukyo Maid Tai, dll. Sekali lihat saja, penonton rasanya tidak akan mengalami kesulitan untuk mengenali para tokoh maid ini, terutama karena mencoloknya kostum yang mereka gunakan. Tetapi antara maid dalam anime dan manga, sebut saja Andou Mahoro, dan profesi maid sebenarnya tentu ada perbedaan. Artikel ini mengajak kalian untuk melihat dunia para maid dari sudut pandang budaya Jepang kontemporer, dan dari budaya barat jaman dulu dimana maid memainkan peran sentral.


The Maid / Meido Figure

Kata "maid" berasal dari bahasa Inggris dan dapat diartikan sebagai pelayan wanita yang dipekerjakan untuk menangani urusan rumah tangga (domestic service). Dengan kata lain, maid atau lebih tepatnya maidservant, adalah pembantu rumah tangga.

Maid biasanya bertugas untuk mengurusi pekerjaan-pekerjaan rumah tangga seperti memasak, menyetrika, mencuci, membersihkan rumah, berbelanja, mengurus anak, sampai mengajak anjing keluarga berjalan-jalan. Peran maid juga terkadang mengurusi para lansia, atau orang-orang yang menderita kecacatan dan tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari mereka. Di negara-negara Barat terutama era Victoria (di Eropa), seorang maid biasanya diharapkan untuk bekerja sampai 15 jam/hari dan seringkali diwajibkan untuk memakai seragam.


PAINTING: Seorang maid dilukiskan sedang membuat jamuan bagi majikannya

Di Jepang, kehadiran figure maid seperti di Amerika dan Eropa sangatlah jarang. Tentu saja ada rumah tangga besar yang memang bergaya Barat, atau hotel-hotel kelas atas yang mempekerjakan wanita dengan istilah maid. Tetapi di dunia hiburan, terutama seperti yang disebutkan diatas, yaitu dalam kultur otaku dan anime Jepang, maid adalah figur yang penampilannya cukup populer.

Selain dalam anime dan manga, karakter maid juga sering muncul dalam event-event cosplay dan pameran seputar industri anime dan manga. Maid juga sering menjadi tema utama dalam maid cafe, sejenis kafe/restoran yang didekorasi khusus untuk para otaku. Sesuai namanya, pelayan di sebuah maid cafe mengenakan seragam maid, atau setidaknya yang dianggap sebagai seragam maid Barat.


KOSTUM MAID DI JEPANG: Seragam maid versi Eropa cukup populer di kalangan cosplayer Jepang. Juga untuk SPG yang ingin menjangkau komunitas otaku


The Maid's Place

Dalam rumah tangga modern, jarang ditemukan lebih dari satu maid yang bekerja full time, kecuali di rumah-rumah ekstra besar, hotel berbintang, atau Buckingham Palace. Dan seperti pembantu rumah tangga pada umumnya, tugas maid adalah mengurusi pekerjaan rumah tangga seperti memasak, menyetrika, mencuci, dll.


EMMA: Manga yang menampilkan maid sesuai dengan kondisi sebenarnya pada era Victoria di Eropa

Sebaliknya, dalam era Victoria rumah tangga besar, terutama rumah tangga aristokrat, mempekerjakan setidaknya sepasukan pelayan. Dari butler dan footmen sampai koki dan tukang kebun, ada setidaknya puluhan pekerja dengan tugas masing-masing. Demikian pula terdapat sejumlah besar maid, masing-masing dengan tanggung jawab sendiri. Pada masa itu, pelayan dalam rumah tangga besar, selain memiliki tugas masing-masing, juga memiliki posisi unik dalam hirarki pelayan. Sebagai contoh, pasukan pelayan umumnya dikepalai seorang butler, sedangkan tukang kebun biasanya berada di jajaran paling bawah. Tentu saja jajaran maid juga disusun menurut hirarki yang ketat. Kelompok maid secara hirarkis dibagi sebagai berikut:
  • Head House Parlour maid (atau Head House maid, Head Parlour maid)
    Dalam rumah tangga tempatnya bekerja, Head House Parlour maid akan tampak lebih seperti manajer daripada pelayan, dengan tugas utamanya mengkoordinir pembagian kerja dan memastikan para maid yang dibawahnya mengerjakan tugas-tugasnya.

  • House Parlour maid / House maid (Under Head House Parlour maid jika hanya ada satu)
    Istilah ini biasanya mengacu pada maid secara umum, terutama yang tidak memiliki tugas atau daerah tanggung jawab yang spesifik.

  • Chamber maid
    Bertugas membersihkan dan merapikan ruang-ruang tidur.

  • Nursery maid
    Tugas utamanya adalah mengurus dan merapikan nursery atau ruang bermain anak-anak. Maid ini beranggung jawab kepada nanny dari rumah tangga yang bersangkutan.

  • Kitchen maid / Between maid / Hall Girl
    Seperti namanya, tugas kitchen maid adalah di dapur. Dalam hal ini, posisi seorang kitchen maid berada dibawah koki, tetapi diatas Scullery Maid (dijelaskan dibawah). Istilah Hall Girl (yang hampir eksklusif digunakan di Amerika Serikat) mengacu pada salah satu tugas utamanya, yaitu menjadi pelayan di ruang pelayan (Servant's Hall). Sedangkan istilah Between Maid berasal dari tugas-tugasnya yang berada dibawah tanggung jawab beberapa "petinggi" sekaligus.

  • Scullery maid
    Di dasar hirarki para maid, kita temukan para Scullery maid. Biasanya mereka mendapat tugas-tugas yang paling berat, seperti mencuci/membersihkan lantai, kompor, panci, piring, dll. Tetapi seorang scullery maid tidak akan pernah menyentuh peralatan makan dari bahan porselen mahal, kristal, atau bahan-bahan mahal lainnya. Selain pekerjaannya yang berat, scullery maid biasanya juga dipandang rendah oleh pelayan-pelayan lain, bahkan biasanya diacuhkan sama sekali oleh anggota rumah majikannya.

Diluar hirarki normal ini, masih ada satu tipe maid, yaitu Lady's maid. Seorang lady's maid adalah pelayan senior yang bertanggung jawab langsung kepada nyonya rumah. Tugas utama seorang lady's maid adalah mengurusi pakaian dan aksesoris nyonya rumah. Ia juga harus bisa menjahit dan manata rambut. Posisi lady's maid dalam rumah tangga cukup tinggi, dan membuatnya cukup disegani pelayan/pekerja lain di rumah tangga tadi.

Tentu saja hirarki seperti diatas sudah tidak dipraktikan lagi dan hampir tidak ada rumah tangga dengan jumlah pelayan cukup banyak yang memungkinkan hirarki seperti itu.


Back to Japan!

Dalam kebudayaan Jepang kontemporer, pelayan wanita dalam rumah tangga dipekerjakan sesuai kebutuhan. Memang ada keluarga denga rumah tangga bergaya Barat yang mempekerjakan maid yang dimodelkan pada maid tradisional Eropa (misalnya seperti yang digambarkan dalam anime Shingetsutan Tsukihime), tetapi pada umumnya posisi maid kontemporer serupa dengan pembantu rumah tangga pada umumnya.

Sebaliknya dalam kultur otaku, seperti dipaparkan sebelumnya, bukan fungsi maid yang menjadi fokus, melainkan figurnya. Karakter maid seringkali disebut gadis impian otaku, terutama seperti yang digambarkan di anime dan manga. Penampilan menarik, sabar, pintar masak, dan yang paling utama, penurut dan setia. Bagi mayoritas otaku di Jepang (yang notabene juga mayoritas pria) mencari pasangan hidup sangat sulit. Bahkan banyak pula yang menghindari hubungan romantis karena kompleksitas dan masalah-masalah yang mungkin dihadapi. Dalam figur maid, mereka menemukan figur yang sangat menarik dan loyal, tetapi tidak akan menimbulkan komplikasi.


MAID DALAM ANIME: Ciri khas maid versi anime...seragam imut, penampilan menarik, senyum manis, Kawaii >_<


Jadi bukan fungsi maid yang menjadikannya penting bagi kalangan otaku di Jepang, melainkan figurnya. Seperti kata banyak orang...
"The Otaku's Dream Wife"


Souce: Advance Magazine #03 (2006)

Selasa, 26 Januari 2010

Sejarah Bajak Laut

Selasa, Januari 26, 2010 9 Comments Stored
Dari anime, manga, game, sampai film, kostum Halloween dan buku cerita anak-anak, era klasik Bajak Laut yang penuh romansa dan petualangan tidak pernah habis menjadi sumber inspirasi.


• The Life of Pirates

Bajak Laut. Mendengar istilah ini, biasanya yang terbayang adalah kapal perang penuh meriam, dan gerombolan bajak laut dengan pedang dan pistol siap menyerbu kapal dagang yang terdekat. Per definisi, bajak laut atau pirate(s) adalah pelaku perampokan di perairan. Selain perampokan, mata pencaharian bajak laut juga meliputi penculikan atau penjarahan di daerah pesisir pantai.

Biasanya, bayangan kita tentang bajak laut adalah gerombolan kriminal yang ganas, hidup di luar kekangan masyarakat, tetapi juga lihai dancerdik, dan memiliki segunung harta karun. Dalam kenyataannya, hidup seorang bajak laut sangat susah. Seringkali mereka kekurangan makanan, atau kekurangan zat gizi yang menimbulkan penyakit, dan tak jarang mati muda. Hal ini diperparah lagi dengan konflik yang seringkali terjadi antara sesama awak kapal, dan bahaya ketika melakukan perampokan. Diantara mereka yang selamat, jarang ada yang bisa "pensiun" dengan kaya raya.

Meskipun kehidupan bajak laut terkesan brutal, dan memang demikian sebenarnya, mayoritas kelompok bajak laut bisa dibilang cukup demokratis. Ada hak untuk memilih dan mengganti pimpinan. Kapten kapal yang memegang tampuk pimpinan biasanya adalah petarung ulung yang dapat dipercaya oleh anak buahnya, dan bukan hanya sekedar figur yang dipilih oleh kalangan atas. Dan ada pembagian harta rampasan yang adil dan merata. Seluruh awak kapal, melalui sebuah sistem aturan yang rumit, akan mendapatkan bagian dari apapun jarahan yang didapatkan. Bahkan, biasanya ada sistem kompensasi untuk mereka yang terluka ketika menyerang kapal.

Umumnya kelompok bajak laut juga terbuka bagi kaum buangan dari masyarakat. Bahkan jika menyerang kapal yang mrngangkut budak, mereka biasanya membebaskan budak-budak tadi, dan menerima mereka sebagai bajak laut. Selain itu, kehidupan sebagai awak kapal perang di jaman imperialisme Eropa memang sangat tidak manusiawi. Dibawah tekanan kebrutalan kapten kapal (yang pada jaman itu praktis berkuasa absolut di kapalnya) dan bahaya kehidupan di laut, banak awak kapal, karena tak tahan dengan kondisi di kapalnya, kebencian terhadap negara yang dianggap telah meninggalkan mereka, dan bagaimanapun juga telah cukup mahir bekerja di kapal, malah mengubah haluan dan bergabung dengan bajak laut ketika kapal mereka diserang.


• Pirates Through the Ages...

Bajak laut pertama muncul di sekitar laut Aegea, sekitar abad ke 13 SM. Dilanjutkan dengan kemunculan bangsa Thyrrenia dan Thracia di pulau Lemnos pada abad ke 5 M yang penghidupannya sebagian besar didapatkan melalui pembajakan di laut sekitarnya. Satu lagi klan bajak laut ternama di masa itu adalah bangsa Illyria yang tinggal di bagian barat semenanjung Balkan dan beroperasi di laut Adriatik sampai akhirnya ditumpas oleh angkatan laut kekaisaran Romawi pada tahun 68 SM.

Bajak laut pada abad pertengahan diwakili oleh antara lain kelompok Narentine yang sejak pertengahan abad ke 7 menempati daerah Pagania di semenanjung Balkan. Mulai pada tahun 642 mereka mulai menyerang Italia Selatan, tentu saja ketika angkatan laut Venezia sedang sibuk dengan perang di luar negeri. Kelompok-kelompok bajak laut yang cukup dikenal antara lain bajak laut Irlandia, kelompok Ushkuinik dati Novgorod, dan tentu saja bangsa Viking dari daerah Skandinavia. Mulai abad ke 13, Asia juga mengenal kelompok bajak laut yang cukup tenar, yaitu Wako yang bermarkas di Jepang. Kelompok Wako bahkan beroperasi sampai ke daerah Cina dan Korea.


• And the Golden Age of Pirates...

Dan sampailah kita ke jaman keemasan bajak laut, sebuah era yang mendefinisikan apa yang kini menjadi bayangan kita ketika membicarakan bajak laut: era bajak laut di Karibia. Tepatnya, era bajak laut di kepulauan Karibia berlangsung dari sekitar tahun 1560-1730, dengan selang waktu antara 1640-1680 menjadi masa jaya bajak laut di perairan tersebut.

Berkembangnya bajak laut di kepulauan Karibia ditimbulkan oleh, dan bahkan kurang lebih menyerupai, konflik seputar perdagangan dan kolonisasi di antara negara-negara Eropa yang terlibat dalam kolonisasi dunia baru pada saat itu, yaitu Inggris, Belanda, Spanyol, dan Perancis. Selain itu, garis pantai kepulauan Karibia menyediakan banyak pantai terisolasi tempat bajak laut dapat berlabuh atau mendirikan markas sementara. Dua markas bajak laut yang paling terkenal pada era ini adalah Tortuga pada tahun 1640an (yang juga ditampilkan dalam film Pirates of the Caribbean : Curse of the Black Pearl dan Pirates of the Caribbean : Deadman's Chest) dan Port Royal sejak tahun 1655. Bahkan ada semacam perkumpulan bajak laut berpusat di Tortuga yang dinamakan Brethren of the Coast.

Seperti seringkali disinggung dalam kedua film diatas, ada semacam aturan yang disebut the Pirate's Code. Dalam kenyataannya, pada era bajak laut di kepulauan Karibia memang ada semacam kumpulan untuk bajak laut, antara lain untuk hal-hal seperti pembagian harta rampasan, disiplin di kapal, penyelesaian konflik antar sesama awak kapal, disiplin dan hukuman. Diantara sekian banyak versi aturan ini, yang paling populer (walaupun belum pernah dibuktikan) adalah yang ditetapkan oleh dua kapten bajak laut ternama Henry Morgan dan Bartholomew Roberts (Black Bart), dan dikenal sebagai pirate code of the Brethren.

P.S: Dua nama diatas jadi inspirasi untuk nama Kapten Morgan dan Bartholomew Kuma dalam One Piece


• Until Now...

Sampai saat ini, bajak laut masih menjadi masalah besar di perairan negara berkembang (terutama Indonesia, yang menduduki peringkat teratas jumlah insiden bajak laut di perairannya). Biasanya mereka beroperasi dalam tim kecil dan menggunakan perahu motor kecil yang mudah disamarkan untuk mengejar kapal barang yang melambat ketika memasuki perairan sempit (seperti Selat Malaka misalnya). Bajak laut modern juga cenderung mengincar uang dan barang-barang pribadi awak kapal, walaupun terkadang mereka memang mengambil alih kapal tadi, kemudian menjualnya setelah mengubah identitasnya (dicat ulang, dan dengan surat-surat keterangan palsu). Operasi mereka biasanya didukung oleh senjata dan peralatan modern. Tetapi faktor utama yang menyebabkan bajak laut menjamur adalah kurangnya patroli polisi dan angkatan laut.


• Some Trivia
  • Walking the plank adalah hukuman yang sering terlihat dalam film, komik atau buku cerita mengenai bajak laut. Si terhukum dipaksa berjalan di sepanjang sebuah papan sampai jatuh ke laut, biasanya dalam kondisi terikat atau lokasi dimana banyak terdapat ikan hiu. Walaupun dalam imajinasi modern hukuman ini praktis identik dengan bajak laut, dalam kenyataannya walking the plank sangat jarang digunakan.



  • Ada juga bajak laut yang dikenal dengan istilah privateer atau corsair. Bedanya dengan bajak laut "biasa" adalah bahwa mereka mempunyai "surat jalan" dari suatu negara untuk menyerang kapal milik musuh negara tadi. Kedengaran mirip Shichibukai-nya Eiichiro Oda di One Piece ya *yang memang terinspirasi dari privateer/coscair ini*

  • Davy Jones adalah istilah pelaut jaman dulu untuk laut selatan. Sedangkan Davy Jones' Locker adalah idiom untuk dasar laut, tempat peristirahatan terakhir pelaut yang tenggelam. Sampai saat ini, asal muasal istilah dan nama Davy Jones masih belum jelas. Istilah Davy Back Fight dalam One Piece terinspirasi dari sini.

  • Senjata "tradisional" bajak laut : pistol flintlock dan cutlass, sejenis pedang yang paling umum digunakan awak kapal. Cutlass bahkan masih menjadi senjata standar kelasi Angkatan Laut AS sampai tahun 1949.


Ahoy Matey!

Tanggal 19 September adalah "International Talk Like a Pirate Day", sebuah hari raya parodi yang bermula di Amerika Serikat pada tahun 1995. Pada hari ini, orang-orang diajak untuk berbicara menggunakan aksen dan istilah-istlah khas bajak laut, misalnya :

Ahoy! = Halo! (sapaan)
Arrrr! = eksklamasi, seruan
Aye! = ya (afirmasi)
Blimey! = seruan ketika terkejut
Jack Tar = kelasi kapal
Lad = sebutan untuk lelaki yang lebih muda
Lass = sebutan untuk wanita yang lebih muda
Landlubber = "orang darat", yang tak terbiasa berada di laut
Matey = sebutan ketika menyapa teman
Sail ho! = seruan ketika kapal lain terlihat
Shiver me timbers! = seruan ketika terkejut



Source : Advance #08 2006


• Inspired by Pirates
One Piece



Pirates of the Caribbean



Captain Hook (Peter Pan)



Water World




Kamis, 14 Januari 2010

Kagutsuchi, the Fire God

Kamis, Januari 14, 2010 3 Comments Stored
Dalam anime My-HiME, Mai memiliki child yang bernama Kagutsuchi. Kagutsuchi dalam anime ini digambarkan seperti seekor naga yang memiliki kekuatan yang sangat besar dan mampu mengeluarkan kekuatan api yang tidak bisa ditandingi oleh HiME yang lain. Tetapi tahukan kalian bahwa Kagutsuchi merupakan salah satu dari mitologi Jepang yang cukup terkenal?


Izanagi dan Izanami

Kagutsuchi adalah dewa api yang lahir dari pasangan dewa Izanagi dan Izanami. Mereka adalah dua dewa muda yang dipilih untuk menyelesaikan kekacauan di bumi dalam mitologi Jepang. Izanagi digambarkan sebagai sosok pria yang tinggi dan kuat, sedangkan Izanami adalah seorang wanita yang cantik dan memiliki kepribadian yang sempurna. Dewa memberikan sebuah tombak yang bernama Amanonuboko kepada Izanagi untuk membantunya menelesaikan tugas mereka.

Izanagi dan Izanami tutun ke bumi dan dengan menggunakan Amanonuboko, kekacauan yang terjadi di bumi dapat diselesaikan. Mereka berdua memutuskan untuk menjadikan bumi sebagai tempat tinggal mereka dan hidup di sebuah pulau bernama Onoroko. Setelah beberapa lama, Izanagi dan Izanami memutuskan untuk menciptakan beberapa pulau. Untuk itu, Izanagi dan Izanami harus menjadi sepasang suami istri dan melakukan ritual dengan mengelilngi bumi, dimana Izanagi harus mengelilingi dari arah kiri sedangkan Izanami dari arah kanan. Sehingga ketika mereka bertemu, maka mereka akan saling mengenal diri mereka dan saling mencintai. Mereka melakukannya dan ketika bertemu, Izanami memulai permbicaraan dengan berkata bahwa ia sangat senang karena bertemu dengan pemuda yang sangat gagah. Izanagi menjawabnya dengan berkata bahwa ia sangat senang bertemu dengan gadis yang sangat cantik. Tetapi Izanagi berbicara dengan nada yang menunjukkan kekecewaan. Akhirnya merekapun menjadi suami istri.


The Omen

Waktu berlalu dan Izanami akhirna melahirkan anak pertamanya, Hiruko. Tetapi anaknya lahir dengan tubuh sangat lemah dan tidak memiliki tulang. Izanagi mengatakan bahwa ini adalah pertanda dari dewa. Ia meminta Izanami untuk membuang bayi itu dengan meletakannya pada sebuah perahu dan menghanyutkannya ke laut. Setelah ini Izanagi menghadap dewa untuk meminta petunjuknya. Dewa tidak senang dengan pernikahan mereka berdua karena dalam ritual pernihakan mereka, Izanami berbicara lebih dulu, padahal seharusnya Izanagi dulu yang berbicara (hal ini yang kemudian menjadi kepercayaan bahwa pria memiliki kekuasaan lebih daripada wanita dalam kebudayaan Jepang). Dan untuk itu mereka berdua harus mengulang ritual pernikahan mereka. Lalu mereka mengulang ritual tersebut, tetapi kali ini Izanagi dulu yang berbicara dan mereka merasakan perasaan cinta yang baru. Mereka mulai menciptakan pulau-pulau baru dan melahirkan anak-anak untuk menghuni pulau-pulau itu. Setelah 14 pulau tercipta dan 35 anak yang dilahirkan oleh Izanami, Izanagi mengatakan bahwa mereka belum memiliki anak yang mewakili elemen api. Tetapi kali ini kelahiran dewa api Kagutsuchi membawa petaka bagi Izanami. Ia terbunuh oleh kekuatan api dari Kagutsuchi yang lahir dari tubuhnya.

Izanagi sangat terpukul karena kematian Izanami. Izanagi menguburkan Izanami di gunung Piba yang berada di Papaki. Setelah itu Izanagi kembali dan membunuh Kagutsuchi menggunakan pedang dengan cara memenggal kepalanya. Izanagi berniat untuk mengembalikan istrinya dan ia pergi ke Yomi, dunia kematian. Izanagi bertemu bayangan istrinya, Izanami memberi peringatan jika ia kembali ke dunia, Izanagi tidak boleh melihat dirinya yang sudah hangus terbakar. Namun keinginan Izanagi untuk melihat istrinya sangat besar, alhasil ia hanya menemukannya sudah menjadi mayat hangus. Izanami marah karena suaminya tak bisa mengabulkan permintaanya itu. Izanami menjadi setan dan mengirim antek-antek setan untuk mengejar Izanagi. Izanagi lolos dari kejaran dan menyegel gerbang Yomi. Segel itu ialah tanda mereka bercerai (Yomotsu Hirasaka).

Izanami bersumpah untuk membantai 1000 orang tiap hari di Jepang, tetapi Izanagi bersumpah untuk menciptakan 1500 orang tiap harinya.

Dari mata kirinya, Izanagi menciptakan dewa matahari, Amaterasu. Dewa bulan, Tsukiyomi dari mata kanannya. Dan Susan-no-O, dewa badai dari hidungnya.

Kematian Kagutsuchi mengakibatkan lahirnya beberapa dewa baru, diantaranya adalah :
  1. Ipa-saku, Ne-saku dan Ipa-tutu-no-wo (mewakili elemen batu)
  2. Pi-paya-pi dan Mika-paya-pi (mewakili elemen api)
  3. Kuro-okami dan Kura-mitu-pa (mewakili elemen air)

Dewa-dewa yang lahir dari darah Kagutsuchi ini kemudian menjadi elemen penting dalam ritual pembuatan pedang Jepang.


Source : Advance #08 2005 dan Kaskus *dengan perubahan seperlunya*


[L]ain Disconnected © 2008 - | Powered by Blogger | Read Disclaimer