Tuesday, April 27, 2010

Maid vs Meido, Between Reality and the Otaku's Dream Girl

Tuesday, April 27, 2010 10 Comments Stored
Sekarang ini, banyak sekali anime dan manga yang menampilkan tokoh maid, atau setidaknya menggunakan kostum/seragam maid, misalnya Mahoromatic, Kore ga Watashi no Goshujin-sama, Hanaukyo Maid Tai, dll. Sekali lihat saja, penonton rasanya tidak akan mengalami kesulitan untuk mengenali para tokoh maid ini, terutama karena mencoloknya kostum yang mereka gunakan. Tetapi antara maid dalam anime dan manga, sebut saja Andou Mahoro, dan profesi maid sebenarnya tentu ada perbedaan. Artikel ini mengajak kalian untuk melihat dunia para maid dari sudut pandang budaya Jepang kontemporer, dan dari budaya barat jaman dulu dimana maid memainkan peran sentral.


The Maid / Meido Figure

Kata "maid" berasal dari bahasa Inggris dan dapat diartikan sebagai pelayan wanita yang dipekerjakan untuk menangani urusan rumah tangga (domestic service). Dengan kata lain, maid atau lebih tepatnya maidservant, adalah pembantu rumah tangga.

Maid biasanya bertugas untuk mengurusi pekerjaan-pekerjaan rumah tangga seperti memasak, menyetrika, mencuci, membersihkan rumah, berbelanja, mengurus anak, sampai mengajak anjing keluarga berjalan-jalan. Peran maid juga terkadang mengurusi para lansia, atau orang-orang yang menderita kecacatan dan tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari mereka. Di negara-negara Barat terutama era Victoria (di Eropa), seorang maid biasanya diharapkan untuk bekerja sampai 15 jam/hari dan seringkali diwajibkan untuk memakai seragam.


PAINTING: Seorang maid dilukiskan sedang membuat jamuan bagi majikannya

Di Jepang, kehadiran figure maid seperti di Amerika dan Eropa sangatlah jarang. Tentu saja ada rumah tangga besar yang memang bergaya Barat, atau hotel-hotel kelas atas yang mempekerjakan wanita dengan istilah maid. Tetapi di dunia hiburan, terutama seperti yang disebutkan diatas, yaitu dalam kultur otaku dan anime Jepang, maid adalah figur yang penampilannya cukup populer.

Selain dalam anime dan manga, karakter maid juga sering muncul dalam event-event cosplay dan pameran seputar industri anime dan manga. Maid juga sering menjadi tema utama dalam maid cafe, sejenis kafe/restoran yang didekorasi khusus untuk para otaku. Sesuai namanya, pelayan di sebuah maid cafe mengenakan seragam maid, atau setidaknya yang dianggap sebagai seragam maid Barat.


KOSTUM MAID DI JEPANG: Seragam maid versi Eropa cukup populer di kalangan cosplayer Jepang. Juga untuk SPG yang ingin menjangkau komunitas otaku


The Maid's Place

Dalam rumah tangga modern, jarang ditemukan lebih dari satu maid yang bekerja full time, kecuali di rumah-rumah ekstra besar, hotel berbintang, atau Buckingham Palace. Dan seperti pembantu rumah tangga pada umumnya, tugas maid adalah mengurusi pekerjaan rumah tangga seperti memasak, menyetrika, mencuci, dll.


EMMA: Manga yang menampilkan maid sesuai dengan kondisi sebenarnya pada era Victoria di Eropa

Sebaliknya, dalam era Victoria rumah tangga besar, terutama rumah tangga aristokrat, mempekerjakan setidaknya sepasukan pelayan. Dari butler dan footmen sampai koki dan tukang kebun, ada setidaknya puluhan pekerja dengan tugas masing-masing. Demikian pula terdapat sejumlah besar maid, masing-masing dengan tanggung jawab sendiri. Pada masa itu, pelayan dalam rumah tangga besar, selain memiliki tugas masing-masing, juga memiliki posisi unik dalam hirarki pelayan. Sebagai contoh, pasukan pelayan umumnya dikepalai seorang butler, sedangkan tukang kebun biasanya berada di jajaran paling bawah. Tentu saja jajaran maid juga disusun menurut hirarki yang ketat. Kelompok maid secara hirarkis dibagi sebagai berikut:
  • Head House Parlour maid (atau Head House maid, Head Parlour maid)
    Dalam rumah tangga tempatnya bekerja, Head House Parlour maid akan tampak lebih seperti manajer daripada pelayan, dengan tugas utamanya mengkoordinir pembagian kerja dan memastikan para maid yang dibawahnya mengerjakan tugas-tugasnya.

  • House Parlour maid / House maid (Under Head House Parlour maid jika hanya ada satu)
    Istilah ini biasanya mengacu pada maid secara umum, terutama yang tidak memiliki tugas atau daerah tanggung jawab yang spesifik.

  • Chamber maid
    Bertugas membersihkan dan merapikan ruang-ruang tidur.

  • Nursery maid
    Tugas utamanya adalah mengurus dan merapikan nursery atau ruang bermain anak-anak. Maid ini beranggung jawab kepada nanny dari rumah tangga yang bersangkutan.

  • Kitchen maid / Between maid / Hall Girl
    Seperti namanya, tugas kitchen maid adalah di dapur. Dalam hal ini, posisi seorang kitchen maid berada dibawah koki, tetapi diatas Scullery Maid (dijelaskan dibawah). Istilah Hall Girl (yang hampir eksklusif digunakan di Amerika Serikat) mengacu pada salah satu tugas utamanya, yaitu menjadi pelayan di ruang pelayan (Servant's Hall). Sedangkan istilah Between Maid berasal dari tugas-tugasnya yang berada dibawah tanggung jawab beberapa "petinggi" sekaligus.

  • Scullery maid
    Di dasar hirarki para maid, kita temukan para Scullery maid. Biasanya mereka mendapat tugas-tugas yang paling berat, seperti mencuci/membersihkan lantai, kompor, panci, piring, dll. Tetapi seorang scullery maid tidak akan pernah menyentuh peralatan makan dari bahan porselen mahal, kristal, atau bahan-bahan mahal lainnya. Selain pekerjaannya yang berat, scullery maid biasanya juga dipandang rendah oleh pelayan-pelayan lain, bahkan biasanya diacuhkan sama sekali oleh anggota rumah majikannya.

Diluar hirarki normal ini, masih ada satu tipe maid, yaitu Lady's maid. Seorang lady's maid adalah pelayan senior yang bertanggung jawab langsung kepada nyonya rumah. Tugas utama seorang lady's maid adalah mengurusi pakaian dan aksesoris nyonya rumah. Ia juga harus bisa menjahit dan manata rambut. Posisi lady's maid dalam rumah tangga cukup tinggi, dan membuatnya cukup disegani pelayan/pekerja lain di rumah tangga tadi.

Tentu saja hirarki seperti diatas sudah tidak dipraktikan lagi dan hampir tidak ada rumah tangga dengan jumlah pelayan cukup banyak yang memungkinkan hirarki seperti itu.


Back to Japan!

Dalam kebudayaan Jepang kontemporer, pelayan wanita dalam rumah tangga dipekerjakan sesuai kebutuhan. Memang ada keluarga denga rumah tangga bergaya Barat yang mempekerjakan maid yang dimodelkan pada maid tradisional Eropa (misalnya seperti yang digambarkan dalam anime Shingetsutan Tsukihime), tetapi pada umumnya posisi maid kontemporer serupa dengan pembantu rumah tangga pada umumnya.

Sebaliknya dalam kultur otaku, seperti dipaparkan sebelumnya, bukan fungsi maid yang menjadi fokus, melainkan figurnya. Karakter maid seringkali disebut gadis impian otaku, terutama seperti yang digambarkan di anime dan manga. Penampilan menarik, sabar, pintar masak, dan yang paling utama, penurut dan setia. Bagi mayoritas otaku di Jepang (yang notabene juga mayoritas pria) mencari pasangan hidup sangat sulit. Bahkan banyak pula yang menghindari hubungan romantis karena kompleksitas dan masalah-masalah yang mungkin dihadapi. Dalam figur maid, mereka menemukan figur yang sangat menarik dan loyal, tetapi tidak akan menimbulkan komplikasi.


MAID DALAM ANIME: Ciri khas maid versi anime...seragam imut, penampilan menarik, senyum manis, Kawaii >_<


Jadi bukan fungsi maid yang menjadikannya penting bagi kalangan otaku di Jepang, melainkan figurnya. Seperti kata banyak orang...
"The Otaku's Dream Wife"


Souce: Advance Magazine #03 (2006)

Saturday, April 24, 2010

Day 04 : Satu Hari yang Tenang

Saturday, April 24, 2010 2 Comments Stored
Aneh melihat hari ini Abby dan Keira berjalan bersama ke sekolah. Biasanya saat Keira berangkat, Abby masih tergolek di tempat tidur. Saat itu 4 buah jam wekernya akan bekerja keras membangunkan. Pada pukul 7 pagi itulah semua kesibukan -dan kepanikan- Abby dimulai, dari hanya menyikat gigi dan cuci muka tanpa mandi (dia selalu mandi malam sebelum tidur, toh setelah itu tidak akan berkeringat, pikirnya), memakai seragam dan sepatu berantakan, mengikat rambut panjang kemerahannya asal-asalan, berlari menuruni tangga menuju meja makan mengambil sebuah roti (kau tahu ini tidak akan cukup untuk perut Abby, apalagi setelah tahu makanan itu harus dibagi dengan makhluk lain dalam tubuhnya), dan berlari lagi menuju sekolah yang gerbangnya sudah hampir tertutup. Hebatnya, dia melakukan semua ini hanya dalam waktu 15 menit. Sisanya, pada pertengahan jam pelajaran dia akan meringis kesakitan karena penyakit mag nya kambuh.

Tapi pagi ini dia tidak bisa tidur dengan tenang. Bagaimana tidak, sepanjang malam dia diganggu oleh Nite yang terus menjilatinya meski sudah ditendang dan diusir sesering mungkin. Tak heran gumpalan kantung mata hitam tampak jelas menggantung dibawah matanya sekarang. Ada bagusnya juga dari kejadian ini, Abby bisa merasakan bagaimana nikmatnya sarapan pagi -dengan porsi yang lebih besar dari orang normal- tanpa perlu cemas mengejar waktu.

"Besok dia harus tinggal denganmu", untuk kesekian kalinya Abby menguap lebar, matanya berair.

"Dia peliharanmu, bukan peliharaanku", Keira membenarkan letak tas silangnya.

"Hei, dia juga kucingmu sekarang, ingat!" Abby mengatakan itu sambil mengacungkan cincin di tangannya.
"Lagupula, dia cukup praktis, kurasa. Dia bisa berubah menjadi bentuk kucing normal pada umumnya. Kekuatan ZeaL, eh? Orangtua kita pun tidak akan curiga jika kucing normal tinggal di rumah kan?"

"Tidak-tidak!" Keira mempercepat langkahnya.
"Aku percaya adanya keajaiban kalau kau berhasil bangun dan sarapan pagi. Tapi kurasa ini bukan keajaiban, melainkan kucing itu terus menjilatimu sepanjang malam, kan? Membayangkan dia mengotori wajahku dengan ludahnya sudah membuat muak!"

"Dia juga tanggung jawabmu, bodoh!" Abby bergegas menyusul Keira.

"Kalau saja kau tidak pingsan saat itu, aku tidak akan sial seperti ini!" Keira semakin mempercepat langkahnya.

"Memangnya mauku pingsan seperti itu, hah?" Abby kesal, mengimbangi langkah Keira yang sekarang lebih mirip berlari kecil.

"Dan apa kau punya ide, penjelasan macam apa yang cukup masuk akal tentang jendela kamar yang pecah pada orangtuaku jika mereka pulang nanti?" Keira berlari meninggalkan Abby.

"Memangnya aku peduli soal itu?" Abby berteriak, merasa tersaingi berlari menyusul Keira yang jauh di depan.
"Pikirkan sisi positifnya! Kau bisa menyalurkan hasrat yurimu yang selalu terpendam pada Lu tercinta dengan adanya Nite! Mengerti maksudku?"

"Aku tidak sekotor itu, Gale!" Keira semakin berlari kencang.

"Jangan munafik, manusia yuri!" tak mau kalah Abby terus berlari.

Dan entah sejak kapan, perjalanan menuju sekolah itu berubah menjadi sebuah perlombaan lari.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


Mereka sampai di sekolah dengan bermandikan keringat. Sebenarnya tidak usah terburu-buru seperti itu, toh ini masih pagi dan belum banyak siswa yang datang. Setelah mencapai gerbang sekolah -dan menaiki beberapa anak tangga-, dengan sendirinya Abby dan Keira saling membuang muka dan berjalan berjauhan. Meski sekelas tujuan mereka tidaklah sama. Abby melenggang santai -sambil mengatur napas- ke koridor kiri, dan aku yakin itu langsung menuju ke kelasnya, 11-4. Tapi Keira berjalan ke arah sebaliknya, ke ruang OSIS di ujung koridor kanan. Awalnya Keira yakin disitu belum ada siapa-siapa, tapi melalui kaca pintu dia melihat punggung seseorang yang, nampaknya, sedang mengerjakan sesuatu.

"Lu", Keira mengagetkan orang itu yang langsung berbalik dengan kaku.
"Sedang apa kau?" Keira menutup pintu perlahan.

"Ini kan hari Rabu, giliranku membersihkan ruang OSIS. Kau lupa?" Lu, Luna Cole tepatnya, menghentikan sejenak kegiatan menyapunya dan menyapa Keira dengan senyuman, seperti biasa.

Tentu saja sebagai ketua OSIS Keira biasanya tidak pernah lupa. Mengingat begitu banyak kejadian absurd yang terjadi kemarin, masuk diakal kalau dia melupakan hal-hal rutin seperti ini.

"Kau kenapa, Kei? Wajahmu sedikit pucat pagi ini, sakit?" Luna mengeluarkan selembar tisue dan mengelap wajah Keira yang masih sedikit berkeringat.

"Ah, tidak, hanya, aku buru-buru datang ke sekolah tadi, bersama Abby. Kau tahu kan, setiap bersamanya pasti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."

"Mesranya", Luna terkekeh kecil.

"Lu! Yang seperti ini bencana!" kau bisa lihat Keira sedikit merajuk ketika mengatakan ini.

Lagi-lagi Luna hanya tersenyum sambil terus mengelap keringat Keira. Matanya terfokus pada tisue di tangan, tidak memperhatikan Keira yang saat itu menatapnya dengan sorot aneh yang biasanya muncul -di anime dan manga- ketika seorang merasakan perasaan khusus pada lawan jenisnya. Yang jelas tatapan itu tidak pernah muncul sama sekali ketika dia memandang Abby.

"Manusia yuri!" seseorang berteriak dari luar dan pintu dibuka dengan kasar. Keira yang salah tingkah langsung mengalihkan pandangannya pada objek lain di ruangan itu, dan Luna yang terkejut tak sengaja menjatuhkan tisue nya.
"Pembicaraan kita belum selesai! Cepat ikut aku dan lihat siapa tamu istimewa yang datang", Abby langsung menarik kasar tangan Keira, menyeret mungkin kata yang lebih tepat.

"Sopan sedikit Gale! Tidak lihat aku sedang ngobrol dengan orang lain?" Keira menarik tangannya dengan tidak kalah kasar.

"Tidak apa-apa Kei. Lagipula pekerjaanku sudah hampir selesai", dari belakang Luna menjawab.

"Lihat? Tuan puterimu saja bilang tidak apa-apa. Cepat!" Abby kembali menyeret Keira.
"Kami pergi, Lu!" Abby langsung menutup pintu.

Mereka berjalan melintasi ruang olah raga yang jaraknya cukup jauh, melintasi kandang binatang, dan berakhir di gudang tua.

"Tidak bisakah kau menghargai orang yang sedang berbicara, Gale?"

"Maksudmu, orang yang sedang bermesraan? Masalah ini lebih penting! Lihat disana!" Abby menunjuk ke dalam gudang, pada sosok berbulu abu-abu cerah belang putih tebal yang sedang berdiri dengan ekor melingkar di kakinya.

"Apa? Kucing biasa kan?"

"Lihat baik-baik!"

Saat itu si kucing perlahan membesar. Kaki depannya berdiri naik ditopang kaki belakang, punggungnya lurus sampai ke atas. Tapal-tapal kucingnya yang halus perlahan berubah menjadi jari-jari manusia, dan cakarnya berubah menjadi kuku-kuku yang sama tajamnya (kuku inilah yang mencakar Keira di awal cerita). Semua bulu di badannya tidaklah selebat yang tadi, dan -entah muncul dari mana- tubuhnya ditutupi oleh baju berlengan pendek hijau cerah serta celana pendek kuning yang terobek tidak rapi di bagian ujungnya dan bolong pada bagian ekor. Saat perubahan itu terjadi, lonceng kuning di lehernya tak henti bergemerincing tergoyang-goyang.

"Onee-kun!" secepat kilat manusia kucing -yang aku yakin Nite- itu meloncat ke arah Keira dan bersiap menjilat. Sayangnya, dia berhasil ditendang Keira tepat di muka dengan sukses. Itu tidak membuatnya menyerah dan berusaha menjilat Keira lagi.
"Semalaman aku tidak bertemu Onee-kun, rasanya rindu sekali!"

"Heh, kenapa membawa kucing ini kemari?!" Keira masih berusaha menjauhkan Nite.

"Aku masih cukup waras untuk tidak menyelundupkannya kemari! Dia datang sendiri, bodoh!"

"Ya lalu? Apa ada Sathoclea lain yang menyerang? Kalau iya, urus saja sendiri! Yang diincar kan kau, bukan aku!"

"Tidak, nyaa~no. Tidak ada apapun yang menandakan keberadaan Sathoclea lain."

"Lalu kenapa kemari? Merepotkan!"

"Aku ingin main dengan para Onee ku, nyaa~no."

"Mengertilah, Nite. Ini sekolahan, kau tidak bisa ada disini meski dalam bentuk kucing sekalipun. Pulanglah dan tunggu kami di rumah seperti kucing peliharaan yang baik", Abby kelihatannya sedikit menghargai Nite daripada Keira, malahan aku tidak pernah mendengar Keira memanggil namanya seperti Abby.

"Bosaaaaaaaaaaaan...." Nite menggeliat malas.

KRIIIINNGGG

"Dengar? Bel sudah berbunyi dan kami harus masuk kelas. Lakukan sesukamu, asal jangan berkeliaran dengan...dengan wujud manusia!" Keira bersiap pergi.

"Dia benar, Nite. Pulanglah", Abby menyusul Keira dan meninggalkannya sendiri.

Saat kedua partnernya menjauh, muncul binar nakal dari mata Nite.
"Nyaa, tidak ada salahnya melihat-lihat tempat ini", dan Nite kembali berubah menjadi kucing biasa.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


Pelajaran pertama hari itu adalah Sejarah yang membosankan, dengan guru yang membosankan pula. Dia sudah cukup tua dan memakai kacamata tebal, lebih tepat disebut menerangkan pelajaran untuk dirinya sendiri karena tidak pernah berhenti berbicara atau memberikan kesempatan pada muridnya untuk bertanya. Tapi aku yakin kalaupun dia melakukan itu, tidak ada yang mau bertanya atau berkomentar. Kebanyakan murid lebih memilih tidur (Abby tidak menyia-nyiakan kesempatan ini) atau diam-diam membaca komik yang diselipkan diantara buku pelajaran. Sang guru tidak pernah memperhatikan karena dia terlalu sibuk pada perkataannya sendiri. Tapi kau tahu tidak ada murid yang benar-benar membencinya.

Keira memanfaatkan waktu luang itu untuk memeriksa kembali pekerjaan OSIS nya yang belum rampung. Dia mendesah pelan melihat teman sebangkunya telah tertidur pulas entah sejak kapan. Tak habis pikir bintang apa yang menaunginya diatas sana, yang jelas dia yakin bintang itu membawa kesialan. Berturut-turut dia selalu salah mengambil undian dan mendapat tepat yang sama dua tahun ini, di sebelah Abby. Seolah belum cukup, sekarang dia harus berurusan dengan hal-hal yang menurutnya bodoh dan absurd seperti Sathoclea, api kehidupan, ZeaL, dan sebagainya yang tidak ingin dia ingat. Mungkin Keira tidak terlahir dengan bintang yang buruk juga, kurasa, karena di sekolah ini dia menjadi seseorang yang cukup dikenal bahkan mempunyai fans club sendiri (yang anggotanya terdiri dari laki-laki dan perempuan). Dua tahun berturut-turut dia terpilih menjadi ketua OSIS dan ketua klub Anggar.

"Mungkin sumber kesialanku adalah kau", Keira melirik selewat pada Abby yang masih asyik tertidur dan mulai membuat kumpulan liur di pinggir bibirnya. Dia mengalihkan perhatiannya pada jendela yang langsung memberikan pemandangan pucat lapangan sekolah. Dari atas sini dia bisa melihat cukup jelas segerombolan anak yang sedang berlari kecil mengelilingi lapangan. Matanya teralih pada seseorang yang sibuk mencatat absen, kurasa. Luna, rambut pirang panjang yang biasanya dibiarkan tergerai itu diikatnya kali ini. Si sekretaris OSIS mengenakan ikat kepala biru kuning bertuliskan "My Moon" yang entah bagaimana bisa terlihat begitu cocok dipakai olehnya. Kau akan cukup kaget kalau tahu ikat kepala itu pemberian Keira. Dia belajar merajut mati-matian selama tiga bulan dan setelah gagal berkali-kali akhirnya berhasil membuat sebuah ikat kepala yang hasilnya tidaklah serapi buatan toko. Untunglah dia sempat memberikannya tepat di hari ulang tahun Luna bulan lalu, dan Keira berpikir bagaimana mungkin Luna mau memakai benda jelek buatannya.
"Yang penting niat dan prosesnya, bukan hasilnya", ya aku setuju dengan alasan Luna. Toh itu membuatnya tampak makin manis. Tapi karena itu ikat kepala, Luna hanya bisa memakainya saat pelajaran olah raga saja. Tak habis pikir, kenapa mesti ikat kepala? Selera Keira tentang hadiah ulang tahun memang buruk.

Keira terheran, yakin lima menit lalu anak-anak itu masih berlari dengan rapi dan sekarang mulai berkerumun mengelilingi sesuatu. Keira memicingkan mata, dan langsung kesal begitu tahu apa yang ada disana. Nite, dia membuat semua orang -termasuk Luna- melupakan kegiatannya yang langsung sibuk mengelus dan memuji betapa lucunya wajah Nite, betapa halusnya bulu Nite, betapa merdunya suara meongan Nite. Sebenarnya Keira ingin langsung mendatangi Nite dan menendangnya, tapi mengingat disana ada Luna -yang omong-omong sangat menyukai kucing- ditambah jika nanti Nite mulai bertingkah dan membuat semua orang yakin dia adalah kucingnya, Keira hanya terus mengamati dari jendela. Dan kemana guru olahraga? Harusnya dia ada disana untuk mengajar bukan? Sebenarnya guru itu tidak masuk hari ini, sakit sepertinya. Pemandangan itu terus berlanjut sampai pelajaran pertama selesai.

"Abby, cepat bangun! Abby! ABBY!" Keira bereriak kencang ditelinga Abby, membuatnya terlonjak kaget.

"Hei itu menyakitkan! Pelan-pelan saja, aku tidak tuli!"

"Ayo cepat!" Keira menggusur Abby yang masih mengantuk. Dia membawanya keruangan kelas 11-2, kelas Luna.
Disana ada kerumunan kecil, bergegas mereka berdua masuk ke dalamnya. Ternyata Nite -yang dipangku Luna- yang sedang dikerubuti. Tanpa basa-basi Keira langsung menarik Luna, dan menyeret mereka berdua ke ruangan OSIS.

Sesampainya di ruang OSIS, Keira mengunci pintu.
"Ada apa? Kau membuat kucing lucu ini ketakutan", Luna mengelus Nite yang bertingkah manja.

"Pertama, kucing itu tidak lucu sama sekali. Kedua, kucing liar ini milik Abby, jadi Luna, sebaiknya cepat serahkan dia pada Abby agar tidak timbul masalah. Ketiga.."

"Jadi ini kucingmu, Abby?" Luna memotong.

"Uh, oh? Well, iya", Abby yang masih sedikit mengantuk mulai mengerti situasi.

"Wah, kebetulan sekali! Oh ya, pulang sekolah nanti aku boleh pinjam dia tidak? Aku mau pergi ke toko buku membeli beberapa perlengkapan OSIS. Boleh kan? Tentu saja sebagai pemiliknya kau juga boleh ikut, Abby. Itupun kalau kau mau", Luna terus saja mengelus bulu halus Nite.

"Ow, ow, tentu saja tuan puteri. Dengan senang hati aku akan melayani", Abby mengatakan itu dengan nada menggoda, yang aku yakin godaan itu ditujukan pada Keira.

"Aku juga ikut!" Keira menyosor.

"Tidak boleh! Yang diajak hanya aku! Kau khawatir kami akan melakukan sesuatu? Tenang saja, tuan puterimu tidak akan apa-apa. Maksudku, aku tidak se-yuri kau."

"Bu-bukan! Aku juga perlu tahu kan jika ini berhubungan dengan kegiatan OSIS."

"Tidak usah sok-sok menjadi ketua OSIS yang baik. Kau memang munafik!"

"Sudahlah. Kita bertiga -berempat dengan Nite- pergi bersama. Bagaimana?" Luna menengahi.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


Sungguh, Abby menyesal ikut.
Keira dan Luna sibuk mengobrol tentang kegiatan OSIS dan pembicaraan lain yang tidak dia mengerti. Abby jadi merasa terkucilkan, meski tentu saja Luna dan Keira tidak bermaksud demikian. Tapi jika dua orang sudah terlibat perbincangan yang hanya dimengerti oleh mereka berdua dan kau berada diantaranya, mau tidak mau kau akan merasa terkucilkan. Ditambah, sekarang Keira menjadi seorang penjilat yang berpura-pura menyukai kucing dan mengelus kikuk tubuh Nite yang digendong Luna. Pemandangan yang membuat Abby sedikit muak.

Baru saat selesai berbelanja, keberadaan Abby mulai disadari Keira dan Luna. Mereka berpisah di tengah-tengah jalan yang terbelah dua antara barat dan utara.
"Terima kasih sudah menemaniku berbelanja, juga mengizinkan Nite ikut bersamaku. Dia kucing yang benar-benar manis", Luna memberikan Nite pada Abby.

"Tidak masalah. Kurasa dia juga boleh sering-sering menginap di rumahmu, Lu. Iya kan, Kei?"

"Yah, itu lebih baik, kurasa. Aku tidak keberatan."

"Kenapa? Kau tidak keberatan Kei? Kukira ini kucing Abby, kenapa kau yang tidak keberatan?" Luna menatap heran.

"Um, yah, itu.."

"Dia kucing kami berdua, Lu. Kuharap kau tidak marah aku memelihara kucing berdua dengan pangeranmu. Tapi ini bukan keinginan kami, mengerti. Ini hanya kecelakaan", Abby menjawab menggantikan Keira yang tak bisa mengeluarkan alasan.

"Ah, kau benar-benar menyukai kucing sampai-sampai memeliharanya Kei? Aku senang mendengarnya."

"Haha, tentu saja, Lu. Tidak hanya kucing, semua binatang pun aku suka", Keira berkata dengan -entah bagaimana- nada sombong.

"Baiklah, kita berpisah disini. Sampai jumpa besok", Luna berjalan ke arah barat, meninggalkan Keira dan Abby yang berjalan ke arah utara.

"Akting yang bagus, Kei. Terutama bagian ketika kau bilang suka semua binatang. Sukses membuatku ingin muntah."


[ FIN ]

Tuesday, April 20, 2010

Ain Despera Banner

Tuesday, April 20, 2010 2 Comments Stored

Monday, April 19, 2010

Day 03 : The Truth, The History, and The History

Monday, April 19, 2010 2 Comments Stored
"Sudah kubilang kan, aku tidak bisa mengatakannya -bahkan pada Onee-sama sekalipun- jika belum melakukan itu, nyaa", lagi-lagi Nite memiringkan kepalanya.

"Iya lalu yang kau maksud dengan itu, apa?" Abby terlihat kesal, semakin mengeratkan lipatan tangannya, bahunya ikut naik.

"Ngg..perjanjian, nyaa."

"Perjanjian apa?" Keira yang sedari tadi hanya menjadi pendengar mulai ikut angkat suara.

"Nyaa..bagaimana ya. Kalau begini sepertinya aku harus menceritakan semuanya pada Onee-sama, nya!" Nite menggaruk kepalanya menggunakan kaki, ya, kaki. Dan itu membuat lonceng besar yang menggantung di lehernya bergerincing merdu.

"Aku, maksudku kaum sejenisku disebut Sathoclea di dunia asal kami, Nymph. Itulah dunia dimana sesuatu yang disebut kemakmuran terjadi. Rumput disana sehijau jamrud, airnya sangat jernih sampai-sampai kau tidak memerlukan kaca lagi untuk bercermin jika melihat kedalamnya, udaranya sangat bersih -membuatmu ingin menghirupnya lagi dan lagi sampai paru-parumu tidak sanggup menampung udara lebih banyak-, langit birunya membentang luas ditemani awan putih yang selalu berubah bentuk menjadi sesuatu yang menyenangkan -seperti ikan nyaa- membuat orang senang menatapnya lama-lama sambil tiduran diatas hamparan rumput yang masih basah terkena embun pagi, buah-buahannya jauh lebih enak dan menyegarkan dibandingkan buah manapun yang ada di bumi. Para Sathoclea disana sangat ramah dan selalu saling membantu. Sebutkan kebaikan apa saja yang ada di kepala Onee-sama, itulah yang ada disana. Dipimpin oleh Dewi Nymph yang sangat anggun (dan indah), seolah dialah pohon pelindung yang menyejukkan bagi kami. Tapi masa itu sudah cukup lama terlupakan. 50 tahun lalu, seorang penyihir kerajaan yang pada awalnya sangat setia pada Dewi Nymph melakukan pemberontakan. Itu terjadi karena pada saat itu, lahir seorang pangeran dari Dewi Nymph, Pangeran Phoenix (dia yang selalu bersinar memancarkan cahaya kemerahan yang gagah). Dia diramalkan akan bisa membawa negeri kami ke arah yang bahkan jauh lebih baik."

"Hei, bukankah itu bagus? Lalu kenapa ada orang bodoh yang ingin melakukan konspirasi? Maksudku, siapa yang tidak ingin negeri tempatnya tinggal berada dalam kemakmuran?" Keira memotong kalimat Nite.

"Hanya orang super bodoh, Kei, kurasa", Abby mengangguk, dan kali ini duduk di samping Keira untuk ikut mendengarkan.

"Yang namanya pangeran tentu saja akan menjadi penerus kepimpinan kan, nyaa? Penyihir kerajaan yang sebenarnya menginginkan kekuasaan -seperti semua tokoh jahat dalam buku-buku- mulai cemas. Dia melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan sang pangeran. Tapi pengkhianatan ini diketahui oleh Dewi Nymph dan si penyihir berhasil dimusnahkan. Namun sebelum dia mati, dia berhasil mengambil api kehidupan sang pangeran dan menyegelnya. Itu membuat pangeran terus berada dalam keadaan tidur panjang, sampai sekarang. Sejak saat itu, Dewi Nymph selalu murung dan selalu melantunkan lagu-lagu sedih, suaranya jauh lebih merdu dari penyanyi manapun didunia, tapi melodinya mengalun mengandung kesedihan mendalam. Lalu Dewi Nymph memerintahkan semua prajurit kerajaan untuk mencarinya di seluruh penjuru dunia, dan akhirnya api kehidupan itu ditemukan di bumi."

"Dan dimana tepatnya api kehidupan itu disegel, kalau boleh tau?" Abby menimpali.

"Nyaa, kurasa Onee-sama sudah tahu jawabannya. Aku tidak akan datang mengabdi dan menjadi kucingnya Onee-sama jika tidak ada maksud apa-apa kan, nya~noo."

"Tidak, kurasa dia tidak mengerti. Jelaskan saja semuanya", Keira mengangkat bahu.

"Terima kasih, itu sangat membantu", Abby merengut.

"Ngg, api kehidupan itu sebenarnya disegel dalam tubuh anak manusia." Nite kembali berbicara setelah dia mencoba menjilat wajah Abby lagi, tapi langsung ditendang Kei.
"Api itu juga hidup -namanya juga api kehidupan- karena itu adalah sumber kekuatan Pangeran Phoenix. Dia tidak ada bedanya dengan makhluk hidup, membutuhkan makan, dan istirahat. Jadi dia mengambil sedikit energi orang yang ditumpanginya. Api kehidupan membutuhkan istirahat -seperti yang aku bilang tadi- membuat orang yang ditumpanginya memerlukan waktu lebih banyak untuk tidur, untuk dibagi dengan sang api."

Saat itulah mata Keira dan Abby terbelalak, seolah disadarkan oleh sesuatu. Mereka berdua saling berpandangan, dan mulutnya ingin berkata sesuatu, tapi kalimatnya susah sekali keluar seolah tertahan di tenggorokan.

"Onee-sama sudah mengerti kan, nya~no."

"Ma-maksudmu, aku.." Abby masih tersengal, berusaha mengatur napasnya.

"Tubuh Onee-sama lah tempat api kehidupan itu disegel, nyaaa", setelah berkata demikian -berteriak tepatnya-, Nite langsung menubruk tubuh Abby dan menjilati wajahnya. Abby tidak bereaksi apa-apa, masih terlalu kaget mendengar yang barusan. Namun sejurus kemudian kesadarannya kembali, dan dengan susah payah dia berhasil menyingkirkan Nite dari wajahnya.

"Wow, pantas saja si kerbau ini selalu tidur melebihi batas orang normal. Dan herannya, meski kebiasaannya itu juga ditunjang oleh porsi makannya yang juga diatas porsi orang normal, dia tetap tidak berubah menjadi kerbau yang gemuk", Keira berbicara dengan menghembuskan napas berat dan alisnya terangkat tinggi.
"Tapi api itu disegel 50 tahun lalu kan? Lalu kenapa ada dalam tubuh kerbau ini?."

"Itulah salah satu kehebatan si penyihir, nyaa. Dia bisa menyegel api itu pada roh yang bahkan belum terlahir."

"Tunggu apa lagi? Dia yang kau butuhkan kan, kucing? Bawa saja dia sekarang ke duniamu, tidak akan ada yang keberatan", Keira melanjutkan.

"Jangan sembarangan, manusia yuri!"

"Tidak bisa, nyaa. Sebenarnya api kehidupan itu disegel di dua tempat berbeda. Yang satu ada pada Onee-sama, yang satu ada pada orang lain. Seharusnya karena kedua api itu saling berhubungan, mudah bagi kami untuk menemukan lokasinya. Tapi api yang satunya sudah disegel lebih sempurna, jadi susah dicari. Ditambah, keturunan asli si penyihir juga kabarnya sudah tahu dimana lokasi api kedua berada. Mungkin sekarang dia sudah mendampingi si orang kedua itu, nyaa. Itu membuat kami makin sulit melacak jejaknya", Nite kembali menggaruk badannya, membuat Abby dan Keira berpikir untuk memandikannya.
"Api kehidupan tidak berarti apa-apa jika hanya satu yang kembali. Harus dimasukkan ke dalam tubuh pangeran keduanya sekaligus. Tapi jika kedua api itu disatukan tidak dalam tubuh pangeran, maka dia bisa menjadi sebuah sumber kekuatan yang tidak terbatas, nya~no."

"Dan aku berani bertaruh, si keturunan orang bodoh itu pasti menginginkan api kehidupan untuk kepentingannya sendiri kan? Menguasai dunia, menurutku", Keira berasumsi seperti itu berdasarkan semua buku fantasi yang ia baca.

"Benar nyaa. Tidak menutup kemungkinan dia akan membangkitkan kembali si penyihir, ayahnya. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. Mereka berdua akan bisa dengan mudah menguasai dunia Nymph. Bahkan sang dewi sendiri tidak bisa menandingi kekuatan api kehidupan itu jika sudah dipadukan dengan ilmu hitam. Jika sudah menguasai dunia Nymph yang berdiri ditopang ZeaL, maka menguasai dunia lain yang tidak mengenal ilmu ZeaL sama sekali akan sangat mudah."

"Apa itu ZeaL?" Keira bertanya.

"Mungkin jika di bumi, itu bisa disamakan dengan sihir", jawab Nite.

"Ngomong-ngomong tentang mengusai dunia, apa bumi juga termasuk?" Abby terlihat sedikit cemas.

"Tidak menutup kemungkinan, nyaa. Mungkin bumi akan menjadi tempat pertama yang menjadi sasaran setelah Nymph hancur (jangan sampai terjadi), mengingat disinilah tempat api kehidupan disegel."

"Oh bagus", Keira memegangi kepalanya.
"Ayo, lanjutkan. Apa ada berita yang jauh lebih buruk?"

"Sathoclea yang setia pada sang dewi sangat banyak, tapi yang membangkang pun tidak sedikit. Bisa jadi beberapa dari mereka sudah mengetahui berita ini dan mengejar api kehidupan ke bumi."

"Dan aku sudah tau, mereka pasti mengincarku kan?" Abby terlihat makin cemas.

"Kemungkinan terburuk, kau akan mati terbunuh", Keira tersenyum, menunjukkan keriangan yang mengerikan.
Kalimat itu cukup mebuat wajah Abby berubah pucat.

"Itulah kenapa aku ada disini, nya~no," Nite melambaikan satu tangannya ke depan, sangat lucu :3
"Aku disini untuk melindungi Onee-sama -dan api kehidupan- dari para Sathoclea itu. Juga untuk mencari api kehidupan yang satunya lagi."

"Hei, kucing, berarti ini sama saja dengan sebuah perlombaan, kan? Siapa yang jauh lebih cepat menemukan satu sama lain, maka kemungkina dia bisa berpura-pura tidak tahu apa-apa dan membaur diantara kita sambil mengincar si kerbau kan?"

"Onee-sama, ngomong-ngomong orang ini siapa? Dari tadi ikut campur pembicaan kita? Hanya pengecut yang tadi kabur kan nyoo~?" Nite bersungut-sungut.

"Pengecut?" Keira menggeram ke arah Nite.
"Kau bilang apa pada hewan ini, Gale?" Keira membanting kepalanya dengan kasar ke arah Abby.

"Hei, dia hanya kucing, kan? Aku yakin kau tidak sebodoh itu untuk mempercayai ucapannya. Lupakan saja bagian yang ini", Abby bisik-bisik ke telinga Keira, menutup wajahnya dengan tangan. Keira manggut-manggut.

"Ah, saking cepatnya semua hal terjadi, aku jadi lupa mengenalkan diri. Namaku Abby Gale, ABBY Gale (Abby mengeja namanya huruf demi huruf, agar Nite tidak salah mengira namanya Abigail) lalu orang yang suka marah-marah tidak jelas yang yuri ini Keira Way", saat kalimat yuri keluar, Keira terlihat sedikit terganggu.

"Oke, cukup basa-basinya. Sekarang perjanjian macam apa yang kau maksud, kucing?" Keira mengibaskan tangannya ke kiri dan kanan.

"Sebenarnya dibilang perjanjian juga kurang tepat, mungkin lebih cocok dibilang minta ijin. Setelah ini pasti banyak hal tidak diinginkan terjadi di sekitar Onee-sama. Aku sebagai utusan Dewi Nymph harus minta ijin pada Onee-sama untuk melindungi api kehidupan yang ada disana", Nite menunjuk ke dada Abby, mungkin maksudnya api yang ada dalam tubuhnya.
"Bagaimanapun Dewi Nymph merasa sangat bersalah atas kejadian ini -meski tentu saja beliau tidak pernah melakukan kesalahan apapun-, dan tidak enak pada orang yang menjadi tempat api kehidupan bersarang. Jadi dia mengijinkan aku memberikan sedikit ZeaL pada orang yang dimaksud untuk melindunginya dari serangan Sathoclea lain. Oh ya, perjanjian pembagian ZeaL ini tidak akan berhasil tanpa ijin langsung dari Dewi Nymph, jadi tidak sembarangan Sathoclea yang bisa membagi ZeaL nya dengan orang lain. Kecuali keturunan si penyihir itu bisa. ZeaL nya jauh berbeda dengan ZeaL milik Dewi Nymph yang murni. Miliknya memiliki aura yang sangat gelap, memberikan kekuasaan tersendiri untuknya berbagi dengan siapapun. Menurutku, dia bisa memberikan ZeaL hitamnya pada para Sathoclea yang berkhianat pada Dewi Nymph, sehingga memungkinkan mereka melakukan perjanjian ilegal dengan orang bumi."

"Apa kita harus membuat semacam lingkaran-lingkaran dan menuliskan kata-kata aneh..."

"Itu diagram sihir", Keira memotong.

"Ya, aku tahu!" Abby merengut.
"Membuat, yah, diagram, dan mengucapkan mantra-mantra yang kita tidak tahu apa artinya? Lalu, dibutuhkan beberapa tetes darah agar ritual ini sempurna?"

"Onee-sama! Itu kuno sekali >w<
Perjanjian yang begitu tidak dibutuhkan di dunia Nymph."

"O-oh, lalu bagaimana?" wajah Abby terlihat sedikit memerah karena malu.

"Cukup kaitkan jari kelingking kita saja dan berjanji atas hal yang paling kita sukai", jawab Nite.

"Hei, tunggu! Itu mirip seperti permainan anak kecil! Perjanjian macam apa itu? Aku lebih memilih melakukan perjanjian menggunakan diagram sihir daripada perjanjian yang tidak jelas macam begitu", lagi-lagi Keira memotong.

"Oh diamlah yuricon! Lagipula bukan kau kan yang harus melakukan perjanjian? Jadi biarkan aku memilih melakukan hal yang lebih mudah dibandingkan membuat diagram -atau apalah namanya- itu!" Abby memutar bola matanya.

"Yah terserahlah", Keira mengangkat tangan.

"Mungkin ini memang terlihat sederhana, nyaa, tapi begitulah kami. ZeaL yang menjadi hal terpenting ketiga (setelah Dewi Nymph dan Pangeran Phoenix) dilakukan sesederhana dan seefisien mungkin, tapi efeknya sangat besar", entah sudah keberapa kali Nite menggaruk badannya. Dan kali ini wajah Keira yang terlihat memerah.

"Nyah, berikan tangan Onee-sama", lalu mereka mengaitkan kelingking.
"Aku mulai duluan, lalu setelah selesai baru Onee-sama. Ingat, berjanjilah demi hal yang paling Onee-sama sukai," Abby mengangguk dengan pelan namun mantap.

"Aku berjanji..." Nite mengatupkan satu tangan di dadanya dan memejamkan mata. Abby pun melakukan hal yang sama. Saat itu di tempat Abby dan Nite berada, memancar cahaya putih kekuningan dari atas lantai. Keira sedikit kaget, tapi tidak berniat untuk mundur, seolah kakinya sudah dipaku. Kalau boleh ditambahkan, cahaya itu sangat menyilaukan, tapi juga lembut dan hangat. Mungkin Keira memang ingin merasakan kenyamanan cahaya itu dan tidak ingin menyingkir.
"Demi Dewi Nymph dan Pangeran Phoenix yang selalu kulindungi dengan sepenuh hati, aku akan membagi ZeaL Nymph yang murni dan suci dengan orang yang jarinya bertautan denganku."

Ya..ya..
Hanya tinggal ganti saja kalimat 'demi Dewi Nymph dan Pangeran Phoenix' dengan 'makanan enak di seluruh dunia dan waktu tidur yang menyenangkan' kan? Pikir Abby.

Dan inilah saatnya.
Abby mulai mengucapkan kalimat perjanjian itu.
"Aku..."

PRANG!!!
Tiba-tiba kaca jendela kamar Keira pecah! Tidak ada benda apapun yang kelihatan dilemparkan, mungkin kaca itu dipecahkan oleh sebuah tembakan udara super kuat dilakukan seseorang yang entah siapa. Ada alasan mengatakan hal ini, karena melalui kaca yang sekarang sudah bolong itu berhembus udara yang sangat kencang. Untung saja Keira tidak berdiri dekat jendela, jadi dia bisa terhindar dari pecahan kaca yang beterbangan. Tapi tidak dengan seseorang.

Abby dan Nite berdiri tepat di depan jendela. Nite, sudah jelas bisa menghindar mengandalkan gerak refleksnya sebagai seekor kucing. Namun Abby, dia menjadi target sempurna bagi si penyerang dan langsung tumbang. Angin yang ditembakkan -diledakan mungkin- dengan kekuatan besar, efeknya sama dengan sebuah pistol berisi peluru karet. Apalagi jika ditembakan tepat di kepala, itu akan membuat lawanmu pingsan. Abby terkapar tidak berdaya. Dahinya berdarah, bukan karena angin itu, tapi karena potongan kaca yang terbang ke arahnya.

"Sekarang apa lagi, kucing?" Keira menutupi wajah dengan lengannya, menahan angin yang masih berhembus kuat menampar mukanya, namun sudah tidak berbentuk ledakan.

"Aku tidak tahu!" Nite terlihat tegang. Dia berlari ke arah jendela, mencari tahu siapa yang ada diluar sana.
Dan dia cukup kaget setelah tahu apa yang terjadi.
"Tidak kusangka akan secepat ini. Sudah ada Sathoclea yang mengetahui keberadaan Onee-sama", dia menunjuk sebuah objek yang melayang di udara. Seekor Sathoclea jenis elang. Sepertinya tembakan angin itu berasal dari kepakan sayapnya yang sangat kuat.

"Sial! Kalau perjanjiannya belum selesai, kekuatanku pun tidak akan bisa keluar sepenuhnya", Nite mengepalkan tangan, kesal.

"Kenapa begitu?" Keira masih tetap menutupi wajahnya.

"Kekuatan ZeaL akan bertambah jika telah dilakukan oleh dua orang pihak. Karena aku sudah mengucapkan kalimat perjanjiannya, berarti setengah ZeaL milikku sudah ada dalam diri Onee-sama. Bukan berarti kekuatanku akan berkurang, karena seharusnya setelah ZeaL itu diterima Onee-sama, kekuatannya akan semakin membesar karena dipengaruhi oleh api kehidupan. Tapi karena Onee-sama belum mengucapkan janjinya, kekuatan itu tidak akan keluar, dan aku benar-benar kehilangan setengah ZeaL ku."

"Lakukan perjanjiannya denganku!"

"Apa? Ijin Dewi Nymph adalah membagi ZeaL ku dengan Onee-sama! Belum tentu berhasil dan diijinkan jika dilakukan dengan orang lain!"

"Oh ayolah, saat seperti ini masih memikirkan hal begitu?! Kalau kau sangat mengagungkan Dewi Nymph dan bahkan sampai bersumpah demi dirinya, yakinlah dewimu itu sedang menyaksikan hal ini dari sana dan memberikan dispensasi! Meski api kehidupan tidak ada padaku, setidaknya ZeaL mu -ZeaL kita- bisa bertambah meski sedikit. Saat genting seperti ini memangnya kau punya ide lain? Dan jika kita belum melakukan apapun, Abby akan celaka. Kau mau Onee-sama mu tersayang dan api kehidupan itu kenapa-kenapa?!"

Ught, Nite benar-benar terdesak.
"Berikan kelingkingmu nya~!" Nite bergegas.
"Aku berjanji demi Dewi Nymph dan Pangeran Phoenix yang selalu kulindungi dengan sepenuh hati, aku akan membagi ZeaL Nymph yang murni dan suci dengan orang yang jarinya bertautan denganku."

Dan Keira melakukan hal yang sama.
"Aku berjanji demi cokelat dan minuman cola paling enak di seluruh dunia, aku akan membagi ZeaL Nymph yang murni dan suci dengan orang yang jarinya bertautan denganku."

Saat selesai melakukan perjanjian, cahaya itu muncul lagi, kali ini jauh lebih terang. Nite merasa ZeaL yang tadi hilang sudah kembali.
"Sembuhkan Onee-sama!" Nite memegang pinggiran jendela, bersiap melompat.

"Caranya?"

"Keluarkan saja ZeaL dari tanganmu! Sudahlah, cepat! Kau bisa mengira-ngira bagaimana caranya."

Urusan serius begini disuruh mengira-ngira? Kucing sialan!
Keira berpikir, mungkin saja dia harus berbuat seperti yang Nite lakukan pada lengannya.
Pertama, arahkan tangan pada luka yang ingin disembuhkan, sisanya mungkin harus berkonsentrasi agar ZeaL keluar.
Dengan ragu Keira mencoba, dan ternyata itu berhasil! Sebuah cahaya keluar dari tangannya, menghentikan darah yang keluar dari dahi sampai akhirnya menghilangkan bekas luka. Dia mengarahkan tangannya pada sisi lain kepala Abby, mungkin bisa mempercepatnya bangkit dari pingsan. Dilihat dia mulai mengerjapkan matanya sedikit meski tidak sampai sadar. Keira segera membopongnya ke tempat tidur, membiarkan Abby bangun dengan sendirinya.

Sementara diluar.
Sathoclea elang yang dari tadi melayang di udara pun langsung melesat ke arah Nite dengan kecepatan peluru. Dia menukik dengan tajam, disambut Nite yang melompat super tinggi ke arahnya. Masing-masing dari mereka mengepalkan sebuah tinju, dan...
Ketika tinju mereka beradu, timbul sebuah ledakan cukup dahsyat di udara. Nite terkena sedikit, tubuhnya terbanting beberapa meter ke belakang dan pipinya berdarah. Tapi si elang itu berhasil dipukul telak. Tubuhnya jatuh membelah angin, beberapa detik kemudian dia terpental ke tanah, berguling sebentar sampai akhirnya tidak bergerak sama sekali.

"Apa dia sudah kalah? Keira tiba-tiba datang dengan terengah-engah.

"Tidak apa-apa. Ini hanya Sathoclea kelas rendahan. Cukup satu kali pukul sudah tumbang. Hei, Onee-sama bagaimana, nyaa~"

"Oh ya, terima kasih. Berkat penjelasanmu yang sangat lengkap, aku bisa dengan sangat gampang menyembuhkannya", Keira mengatakannya dengan nada suara yang berarti tepat sebaliknya.
"Dia sedang istirahat sekarang."

Melihat sosok Sathoclea elang di hadapannya, Keira berkomentar.
"Hei, kalau kau bisa mengalahkannya sendiri, lalu kenapa pakai acara perjanjian segala? Aku cuma jadi penonton?"

"Nyaa~tunggu dulu Onee-kun."
Onee-kun??? Yang kuingat, beberapa saat lalu Nite masih tidak menganggap keberadaan Keira. Entah sejak kapan dia memanggilnya dengan Onee-kun.
"Sadar tidak, setelah melakukan perjanjian tadi, sebuah cincin telah muncul di jari kelingking Onee-kun?"

Keira melihat kelingkingnya, dan memang terdapat cincin disana.
Hah? Sejak kapan?

"Di tengah cincin itu ada batu emerald hijau dari Dewi Nymph. Coba arahkan cincinnya pada Sathoclea ini, nya."

Keira mengepalkan tangannya ke depan, mengarahkan cincinnya. Saat melakukan itu, keluar cahaya dari tubuh si Sathoclea elang. Cahaya itu sepertinya tersedot ke dalam cincin.

"Apa itu?" Keira heran.

"Itu ZeaL miliknya. Semuanya akan dihisap oleh cincin ini."

"Kalau ZeaL nya habis, dia akan bagaimana?"

Sosok Sathoclea elang di hadapannya mulai tampak samar. Dalam hitungan detik, tubuh yang sudah bergolek tak berdaya itu berubah menjadi kepingan-kepingan yang melayang ke udara. Ketika sudah sampai setinggi kepala, kepingan itu pecah, dan menghilang.

"Itulah yang akan terjadi pada mereka yang tidak setia pada Dewi Nymph."

Keira, yang baru pertama kali melihat kejadian yang tidak ada bedanya dengan kematian ini, hanya bisa memberikan tatapan semu.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


Ketika Keira dan Nite kembali ke kamar, disana mereka menemukan Abby telah sadar, duduk bersimpuh di atas tempat tidur sambil memijit-mijit kepalanya yang masih sedikit pusing. Dan -entah bagaimana- Keira merasa sangat lega. Tentu saja Nite langsung menerjang ke arahnya, tidak menerkam liar seperti biasanya (dia tahu Abby masih pusing), lalu menjilatnya tiga kali. Mereka menjelaskan hal-hal yang tidak sempat Abby dengar dan lihat ketika dia pingsan.

"Apa perjanjian denganku batal?" Abby mulai bertanya setelah kepalanya sudah tidak berkunang-kunang. Saat itulah Keira datang dari luar dan membawa secangkir cokelat hangat.

"Ngg, aku juga sedikit bingung, nyaa. Api kehidupan itu ada pada Onee-sama, jadi tidak mungkin aku tidak melakukan perjanjian dengan Onee-sama. Tapi Onee-kun (saat itu Abby langsung melihat ke arah Keira dengan tatapan yang menyebalkan) telah melakukan perjanjian itu denganku lebih dulu. Mungkin, yah mungkin aku harus tetap menyelesaikan perjanjian dengan Onee-sama, bagaimanapun juga itu harus! Artinya, sekarang aku punya dua orang partner. Umumnya Sathoclea hanya bisa melakukan perjanjian dengan satu orang. Tapi jika ingin melakukan perjanjian dengan orang lain, perjanjian dengan orang pertama harus dibatalkan dulu, setelah itu baru perjanjian kedua -yang baru- bisa dilakukan, nya~"

"Tunggu, umumnya? Memang sebelum dengan kami, perjanjian macam ini sudah sering dilakukan? Kukira kau baru pertama kali ini melakukan perjanjian dengan manusia", Abby menyeruput cokelat panasnya dengan hati-hati sebelum akhirnya bertanya.

"Tentu saja sering, dengan ijin Dewi Nymph pastinya. Tapi kami sering melakukannya dengan sesama Sathoclea di dunia kami. Sedikit berbeda karena kami sama-sama memiliki ZeaL. Dan memang baru kali ini melakukannya dengan manusia -yang tidak memiliki ZeaL-, nya~no."

"Lalu bagaimana? Apa perjanjian denganku juga akan dibatalkan? Kalau begitu cepatlah, aku tidak ingin terlibat dalam hal yang absurd macam begini", Keira menggigit cokelat yang tadi ikut dibawanya dari kulkas.

"Tidak mungkin, nyaa. Kalaupun bisa, yang harus dibatalkan adalah perjanjian dengan Onee-sama yang tadi belum sempat selesai. Tapi kalian tahu itu tidak mungkin aku lakukan, kan? Maksudku, nanti api kehidupan tidak akan terlindungi."

"Batalkan saja perjanjianku dulu. Setelah itu, batalkan perjanjian Kei. Barulah setelahnya lakukan perjanjian ulang denganku. Terdengar sedikit merepotkan sih, tapi hanya itu yang terpikir olehku", kali ini cokelat panas Abby sudah habis setengahnya.

"Itu makin tidak mungkin! Jika ingin melakukan perjanjian baru, Sathoclea harus menunggu tiga bulan dulu. Dan jika kita melakukan rencana Onee-sama, berarti harus menunggu..." Nite berpikir sejenak. "Enam bulan."

"Dan saat itulah monster yang lain akan datang menghabisimu", kalimat Keira terdengar jauh lebih menyebalkan saat mengatakan ini.

"Oh Nite, apa aku memang harus mati seperti itu?" pandangan Abby sedikit memelas.

"Hentikan Abby, tatapanmu itu menjijikan! Kenapa tidak kau coba lanjutkan saja perjanjian yang tertunda tadi, kucing?" Keira mulai bosan dengan pembicaraan ini.

"Apa Dewi Nymph akan mengijinkan perjanjian ganda, nya~no?"

"Apa kalian punya ide lain?" Keira makin terlihat semakin bosan. Saat itu Abby dan Nite berpikir "tidak ada", tapi kalimat itu tak keluar dari mulut mereka.

"Tidak ada salahnya mencoba. Aku tidak ingin mati konyol."

"Kalau begitu berikan kelingking Onee-sama, nya~no. Aku sudah mengucapkannya, tinggal giliran Onee-sama."

Abby cepat-cepat menyeruput cokelat panasnya sampai habis. Dan inilah dia, Abby berdiri mengikuti Nite, mengaitkan kelingking mereka, mengatupkan satu tangan di dadanya dan memejamkan mata.
"Aku berjanji demi makanan enak di seluruh dunia dan waktu tidur yang menyenangkan, aku akan membagi ZeaL Nymph yang murni dan suci dengan orang yang jarinya bertautan denganku."
Saat kelingking mereka bertemu, cahaya putih kekuningan -yang sangat disukai Abby dan Keira- muncul lagi. Namun saat perjanjian selesai dilakukan, cahaya itu berubah menjadi sinar merah yang memancar dengan kuat. Seketika angin berhembus kencang entah dari mana, dan suasana berubah menjadi sedikit menakutkan -sekaligus menenangkan- bagi mereka. Selang beberapa saat, sinar itu perlahan menghilang, sebagai gantinya muncul bulu-bulu cahaya -sepertinya bulu burung- berwarna merah di sekitar mereka, dan ketika akan jatuh menyentuh bumi perlahan menghilang. Itu membuat Keira sedikit tidak nyaman, bukan karena bulu-bulu cahaya itu mengganggu atau sebegainya, tapi karena itu mengingatkannya pada Sathoclea elang yang menghilang di hadapannya persis bulu-bulu tadi.

Sejenak mereka terdiam, tidak yakin apakah yang mereka lakukan itu berhasil atau tidak. Tapi saat Abby melihat di kelingkingnya telah muncul sebuah cincin bermata emerald hijau, dengan sangat malas Keira menyadari, hari-hari merepotkan bersama Abby dan Nite telah menanti.


[ FIN ]

Thursday, April 15, 2010

Blog Favorit

Thursday, April 15, 2010 6 Comments Stored
Dapet tugas tag dari Akane buat posting blog favorit. Tugas tag pertama ini aku kerjain ga pake males oke mungkin sedikit.
Why?
Well, I'm happy to share you about my fave blog anyway. About some blogs that I've always visited and some reasons why I love them
Omong-omong thx to Akane udah jadiin blog ini fave. Really, saya nggak nyangka blog busuk begini bisa dijadiin fave

One Piece Indonesia

Link: http://nakama.co.nr
Owner: This is a public forum. Owned by all members ~(-_-~)
Reason:
"In fact, ini bukan blog sih. NAKAMA is forum anggap aja promosi. Fokusna komunitas One Piece Indonesia. Satu-satuna forum yang sering saya masukin dan emang cuma aktif disini. Sayang si forum sendiri sekarang kering kerontang sepi ga ada orang ORZ. Ayolah yang baca postingan ini join "



Red Black Underlabel

Link: http://underlabel.blogspot.com
Owner: Radzied
Reason:
"Tempat dipajangna gambar-gambar hasil editan. Poto, wallpaper, banner, dll. Banyak tuh editan yang bagus. Cuman sayang ga dibarengin sama tutor gimana cara bikinna. Kebeneran aku juga suka nitip hasil editan disini . Cari di galeri 404 Art Warks sama [L]ain."



Blogspot Tutorial | SEO | Ardi33.web.id
Link: www.ardi33.web.id
Owner: Ardi
Reason:
"Simple, keren, n ringan banget pas dibuka. Ga usah nunggu loading lama buat nampilin semua content blogna. Yang paling penting, isina berguna banget. Soal info, trik, tips, n tutorial blog. Padahal blogwalking kesini juga baru-baru ini, ga nyampe 2 minggu lah. Tapi langsung suka."



ATCHOO!!!

Link: http://4k4n3-chu.blogspot.com
Owner: Akane D'SiLa
Reason:
"Satu-satuna temen blogger yang paling awet! Dari dulu pas jaman-jamanna blog ini masih copo plus masih pasang widget & script ga penting yang bikin berat blog ampe sekarang yang, errrr, kondisina ga jauh beda ==" .. And dari semua temen blogger, kayana Akane yang paling sering ganti template :3 .. Sering saling blogwalking n commenting. Simbiosis mutualisme. Ini anak kebanyakan posting soal daily life na^^' .. Keep blogwalking ya! D:"



Err....cuma segitu --"
Harap maklumi, saya jarang blogwalking sih
Yang diatas kerjain balik tag ini. Kayana udah pada ngerjain tuh

Friday, April 9, 2010

Day 02 : Night

Friday, April 09, 2010 5 Comments Stored
"Nyaaa :3"
Seolah puas dengan hasil kerjanya, gadis cilik yang tiba-tiba muncul dari langit itu berteriak sambil duduk -jongkok tepatnya- dan menjilat tangan kanannya, persis seperti seekor kucing. Mungkin kata persis kurang tepat, karena dia memang seekor kucing. Maksudku, baru kali ini Abby dan Keira melihat makhluk bertelinga (dan telinga itu berada di atas kepala, bukan disamping seperti telinga normal umumnya) dan berekor panjang, mirip kucing, tapi makhluk itu bukan kucing melainkan manusia. Matanya pun mempunyai pupil yang, sepertinya bisa membesar dan mengecil jika terpengaruh cahaya. Ya, seperti kucing. Dan, dia mempunyai kumis. Bukan kumis tebal seperti bapak-bapak tua maksudnya, tapi kumis tipis yang berdiri tegak di masing-masing sisi wajahnya.
Memang, mirip kucing...

"Ka-kau ini, apa?" dengan ragu Abby bertanya.

"Nya? Aku kucingnya Onee-sama", setelah berkata begitu langsung saja dia menerkam Abby dan menjilati wajahnya, seperti seekor kucing menjilati majikannya.

"Huaa! Hentikan!" Abby yang kaget berusaha menyingkirkan gadis kucing itu. Tapi itu tidak membuatnya menghentikan kelakuannya sedikitpun.

Keira yang menonton kejadian itu ikut panik, dan berusaha menyingkirkan si kucing.
"Kau menyakiti temanku! Sekarang pergi kau alien! Hush!" dengan sekuat tenaga dia mengangkatnya dari tubuh Abby. Merasa keasyikannya terganggu, gadis kucing itu menatap Keira dengan tajam, dan mencakarnya.

"Arght!" Keira mundur beberapa langkah, memegangi lengannya yang berdarah.
"Gale, suruh binatang peliharaanmu berhenti, SEKARANG!" Keira menggeram.

"Andai aku bisa sudah kulakukan dari tadi, bodoh!" Abby masih bergulat dengan si kucing.
"Sekarang cepat bantu aku!"

"Tidak! Lakukan saja sendiri! Cakarannya sudah membuatku kapok!"

"Pengecut!"

"Tutup mulut!"

"Oh baiklah, pengecut! Cepat pergi dari sini dan biarkan aku mengurusnya sendiri. Kau ketua OSIS tidak berguna!"

"Gale keparat! Baik aku pergi!" Keira meraih tasnya yang jatuh dan langsung pergi meninggalkan Abby seorang diri, maksudku berdua dengan si kucing.

"Si bodoh itu benar-benar pergi rupanya", Abby makin kesal pada Keira.
"Sekarang, jika benar kau adalah kucingku, ikuti perkataanku!" dikeraskan volume suaranya dengan nada sok tegas.

"Nyaa? Apapun yang Onee-sama katakan, nya~no", si kucing menjawab sambil terus menjilati wajah Abby.

"Pertama, berheti menjilatku!"

Langsung saja kucing itu berhenti dan kembali berjongkok di hadapan Abby sambil tersenyum :3

Dengan kepayahan Abby berdiri, menepuk-nepuk bajunya yang kotor dan dengan napas terengah-engah dia melanjutkan.
"Kedua, siapa namamu dan darimana asalmu!"

"Nyaa, namaku Nite (baca : nait, seperti kalian membaca kata night), dan asalku dari dunia Nymph nya~no", dia menjawab sambil tersenyum. Dan ketika dia tersenyum, matanya terpejam, lucu sekali.

"Nah, Nite", lanjut Abby setelah dia bisa mengatur napasnya.
"Ceritakan padaku apa tujuanmu kemari dan juga tentang Nymph -atau apapun itu-. Dan apa maksudmu dengan Onee-sama itu?"

"Aku tidak bisa memberitahukannya sekarang jika kita belum melakukan itu, nya~no."

"Itu apa maksudnya?" kali ini Abby terlihat sedikit antusias.

"Perjanjian bahwa kau akan merawatku sebagai kucingmu dengan penuh kasih sayang, nyaaaa!"

"Hah? Aku tidak mengerti!"

"Uh, Onee-sama tidak mengerti, nya~no?" Nite memiringkan kepalanya.

"Baiklah, itu kita bahas lain kali saja. Sekarang yang paling penting cepat kita temui Kei, maksudku orang yang barusan kabur. Meski dia penggecut, tapi, yah, tetap saja dia temanku dan dia terluka karena berusaha menolongku dari kelakuanmu yang mirip kucing liar. Mungkin kau bisa melakukan sesuatu pada lukanya, seperti yang barusan kaulakukan padaku."

"Aku tidak punya kewajiban untuk menolong orang lain selain Onee-sama, nya~no. Tapi jika itu perintah Onee-sama akan kulakukan nyaa."

Langsung saja Nite mengendus-endus tanah, mencoba melacak jejak Keira yang tertinggal melalui bau darahnya yang dari tadi menetes.

"Lewat sini, nya~" Nite mengangkat telinganya dengan tegak, begitupun ekornya ikut berdiri. Dia langsung berlari (dengan kaki dan tangannya) ke satu arah, diikuti Abby yang mengejarnya dengan susah payah karena ternyata kecepatan kucing itu cukup membuat Abby kesusahan. Ingin dia berhenti dan bertanya, apakah Nite bisa dijadikan tumpangan atau tidak. Tapi diurungkan niatnya karena dia tahu itu pertanyaan yang sangat bodoh.

Setelah berlari melewati beberapa belokan, mereka berhenti didepan sebuah rumah. Disana berdiri Keira yang sedang membuka gerbang depan dan hendak masuk ke rumah itu. Oh tentu saja, ini rumahnya, dan disebelah rumahnya adalah rumahku. Bodoh...

"Manusia yuri!" Abby berteriak.
"Kau tidak apa-apa?"

Seketika Keira menengok kebelakang, dan dengan kasarnya dia menjawab, "Berhenti memanggilku begitu, Kerbau buruk rupa!"

"Hei, aku kesini untuk mengobati lukamu! Sopanlah sedikit pada penolongmu!" Abby tampak tidak senang dengan perkataan Keira.

"Penolong? Kau dan kucing peliharaanmu yang membuatku jadi begini. Apanya yang penolong!"

"Berhentilah berkata seolah lukamu itu parah! Itu hanyalah luka kecil yang tidak ada bedanya jika kau dicakar oleh kucing biasa. Kolokan! Sekarang biarkan Nite mengobati lukamu seperti yang dia lakukan pada lututku!"

"Bahkan kau sudah memberi kucing itu nama? Ya Tuhan..."

"Itu memang namanya, bukan aku yang memberikannya. Sekarang diamlah! Nite, tolong sembuhkan lukanya."

Dengan segera Nite menyodorkan tangannya pada lengan Keira yang berdarah. Dan sinar putih kekuningan yang menyenangkan itu kembali keluar. Seketika semua luka itu hilang tak berbekas dari lengan Keira.

"Ini lebih baik", Keira mengangkat lengannya, mencoba mengecek kondisi tubuhnya sendiri.

"Ayo cepat, ada hal yang harus aku tanyakan pada Nite", Abby menarik tangan Keira masuk ke dalam rumah.

"Kau tidak punya sopan-santun, Kerbau. Ini rumahku, berhentilah grasak-grusuk di rumah orang lain."

"Bisakah kau berhenti cerewet? Lagipula sedang tidak ada siapa-siapa kan?" Abby terus saja menarik tangan Keira menuju ke lantai dua, ke kamar Keira. Tentu saja Nite mengikuti Abby tanpa diperintah.

Setelah sampai di kamar, Abby langsung mengunci pintu, mencegah agar tidak ada orang lain yang masuk (meski di rumah itu tidak ada orang lain selain mereka?)

"Nite", Abby berdiri sambil melipat tangan, memandang dengan serius ke arah Nite yang masih asyik menjilati tangan kanannya. Sementara itu Keira yang masih belum mengerti hanya diam dan duduk di pinggiran kasur.
"Ceritakan padaku, semuanya."


[ FIN ]

Cerita diatas adalah potongan chapter dari fanfiction original saya, Absurd. Terima kasih telah membaca Day 2 : Night. Jangan lupa berikan komentar

Wednesday, April 7, 2010

Day 01 : Abigail

Wednesday, April 07, 2010 4 Comments Stored
Fanfiction : Himemiya Rain
Very big inspired by The Chronicles of Narnia by C.S.Lewis

Genre : ga jelas, fantasy dan hal2 absurd lain na maybe?
Latar (?) : Bumi

Warning! Yuri content!
Errr..nggak separah itu deng, hanya shoujo-ai ringan :3
tapi di chapter ini belum dimunculkan ~(-_-~)



*********


Sudah berapa kali dia memejamkan mata dan mencoba tidur? Entahlah, rasanya sudah beribu kali mencoba walau tentu saja itu sulit. Maksudku, siapa yang bisa tidur jika perutmu sedang melilit? Seolah obat mag yang diberikan petugas kesehatan 15 menit yang lalu tidak mempan saja. Meski bukan ingin tidur, tetap saja dia masih belum diijinkan untuk kembali ke kelas. Jadi mungkin tidur bisa membunuh sedikit waktu, pikirnya.

"Abby!" terdengan sebuah teriakan dari pintu ruang kesehatan dan itu memaksa Abby untuk mengangkat kepalanya sedikit dan menengok ke sumber suara. Tapi setelah tahu siapa yang datang, dia langsung merebahkan tubuhnya kembali, dengan malas.
"Lagi-lagi petugas kesehatan salah mencatat namamu. Abigail. Lain kali isi absen ini sendiri, jangan hanya mengucapkannya pada petugas kesehatan. Kurasa mereka punya masalah pendengaran, atau tidak lulus pelajaran mengeja".

"Mau apa kau kemari?" tanpa mempedulikan ucapannya yang tadi Abby langsung bertanya.

"Sopan sedikit!" Dia mengacungkan telunjuk.
"Aku kesini untuk menjengukmu, tentu saja. Kau tidak apa-apa?" perempuan berperawakan jangkung itu tidak berbicara dengan nada cemas, khawatir, atau sedih. Dia mengatakannya begitu saja.

"Ayolah, ini sudah biasa bukan?" Abby mendengus.

"Jangan jadikan ini kebiasaan!" kali ini perempuan itu bercacak pinggang.
"Ini sudah ketiga kalinya dalam seminggu kau masuk ke ruangan ini!" dia melanjutkan.

"Lalu?"

"Lalu!!! Tidak bisakah kau bangun lebih awal dari biasanya? Aku yakin itu akan membuatmu punya cukup waktu untuk sarapan pagi dan mencegahmu meringis kesakitan dalam kelas."

"Memangnya kau siapa berani menceramahiku?" kali ini nada suara Abby sedikit tinggi.

"Aku ini ketua OSIS kau ingat? KETUA OSIS! Jadi aku berhak memberikan teguran pada siswa yang selalu punya alasan untuk tidak mengikuti pelajaran." perempuan ini melotot.

"Baiklah, kau memang ketua OSIS, Keira Way!" sombong, pikirnya.
"Memangnya aku sakit karena aku mau?!" Abby tidak kalah ketus menjawab.

"Kalau begitu sarapan pagi agar kau tidak kelaparan dan berakhir menyedihkan di ruang kesehatan begini!" dia mendekatkan wajahnya ke arah Abby, sambil -tentu saja- masih melotot dan bercacak pinggang. Dan kalimat ini membuat Abby tercekat, sadar apa yang Keira katakan benar. Ingin dia membalas, tapi saat itu tidak ada satupun kalimat yang terpikirkan, karena otaknya kembali disibukkan oleh rasa sakit yang kembali datang.

"Ught", Abby memegangi perutnya, meringis.

"Lihat Gale? Berhenti bertingkah kekanakan dan cobalah mendengarkan nasehat orang lain."

Abby tahu jika Keira sudah memanggil nama belakangnya, itu berarti teman sekelasnya itu sudah sangat kesal, jengkel, -atau perasaan tidak menyenangkan apapun- padanya. Daripada membuang tenaga berteriak dan mengumpat -jika ia bisa- lebih baik dia berbuat sesuatu pada perutnya yang sudah tidak bisa diajak berkompromi.

"Cepat panggilkan petugas kesehatan, Kei bodoh!" Abby mengatakan itu ditengah rintihannya.

"Baiklah..baiklah. Tapi kau jangan pingsan dulu sebelum petugasnya datang", Keira membalikan badan dan melambai pada Abby, seolah tidak peduli.

Lima menit yang sangat menyiksa bagi Abby, dan hebatnya petugas kesehatan masih belum datang. Segunung sumpah serapah sudah dia siapkan untuk Keira jika saja 10, tidak, 5 detik lagi tidak ada yang datang menolongnya yang sudah hampir mati -setidaknya begitu pikirnya-. Untunglah disaat dia sudah sekarat dan akan mati (dia benar-benar berpikir dirinya akan mati) beberapa petugas kesehatan ditambah seorang guru datang dan memberikan pertolongan. Entah apa yang mereka lakukan, aku juga tidak mengerti karena aku bukan dokter, yang jelas beberapa saat kemudian Abby sudah bisa tenang dan kali ini bisa tertidur. Tidak seperti orang yang jatuh tertidur pada umumnya, wajah Abby masih tegang, menggambarkan penderitaan yang baru saja dilaluinya mungkin memang cukup mengerikan, jika aku bisa merasakannya sendiri.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_


"Bangun kerbau!" sebuah suara mengagetkan Abby.

"Kau benar-benar tidak bisa mengontrol tidurmu ya? Sekarang sudah jam 4 sore dan kau tidur dari jam 10 pagi. Ditambah, sekarang kau di ruang kesehatan, bukan di kamar. Setidanya punyalah malu sedikit!" Keira datang dengan sewot tanpa bisa dicegah Abby yang masih mengantuk.

"Aku sudah bangun, bodoh!" Abby menjawabnya sambil menguap lebar.

"Cepat bersiap pulang. Gerbang sekolah sudah akan ditutup", Keira menarik tubuh Abby, memaksanya untuk bangun dan melemparkan tas Abby ke kasur.

Orang yang dibangunkan dengan paksa tentu saja akan membuatnya merasa ngantuk, dan pusing. Ditambah jika tadi orang itu menderita kesakitan setengah mati karena penyakit yang sudah lama dideritanya, sempurna, membuatnya sulit bangkit dan berjalan.
Meski sudah ditarik, Abby kembali merebahkan tubuhnya. Dia lebih menyerah pada rasa kantuknya daripada fakta bahwa mungkin jika 15 menit lagi mereka tidak keluar, mereka akan terkunci dalam sekolah. Dengan sangat terpaksa Keira, akhirnya, memapah Abby keluar dari ruang kesehatan. Tapi Abby tetap saja memilih tinggal dalam mimpinya, belum mau kembali. Itu membuat Keira makin kesal dan makin terpaksa menggendong Abby.

"Gale sialan!"


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_


"Dasar tukang tidur. Hei kerbau, sudah bangun belum?" Keira mengguncangkan punggungnya sedikit, membuat sosok yang sedang digendongnya gelagapan.

"Oh, uh?" Abby mengucek matanya.

Oh, Abby sekarang ingat, tadi dia memang merasa Keira sudah membangunkannya dengan susah payah. Tapi -seperti orang mengantuk kebanyakan- dia merasa itu mimpi dan lebih memilih kembali tidur. Dan disinilah dia, digendong oleh anak berambut biru pendek yang untung saja lebih tinggi darinya (maksudku, kau akan kesulitan jika digendong orang yang lebih pendek) dalam perjalanan pulang.

"Hei Kei, lelah?" tanya Abby, bodoh.

"Kalau iyapun memangnya kau mau gantian menggendongku?" tak peduli Keira menjawab.
"Besok bangunlah lebih pagi, dan yang paling utama sarapan! Jika tidak, setiap hari aku akan melakukan hal yang merepotkan seperti ini."

Ya, mungkin perlu usaha cukup keras jika Abby ingin bangun pagi. Dia punya masalah yang mungkin jarang dialami remaja wanita lain seumurannya. Kebanyakan tidur. Baginya tidak masalah, malah dia menikmatinya. Tapi jika itu membuatnya susah bangun pagi dan kehilangan waktu sarapan dan lebih memilih berangkat sekolah tanpa mengisi perut lebih dulu, beginilah hasilnya, persis seperti yang Keira katakan.

Ah sudahlah. Abby lebih menikmati masa-masa 'bangun tidurnya' daripada melayani orang beradu mulut.

"Wow Kei. Saking sibuknya bertengkar selama ini aku tidak pernah sadar kalau kau punya tenaga sebesar ini untuk menggendongku. Tenagamu seperti kuda ya", Abby terkekeh.

"Oh berhentilah mengejeku, Kerbau. Atau kau akan kuturunkan disini!" Keira mengatakannya sambil merenggangkan pegangannya pada Abby, seolah dia memang akan benar-benar menurunkannya.

Memang, mereka terlalu sibuk mencela satu sama lain selama 16 tahun hidup bersama sebagai tetangga. Keira selalu mengolok kebiasaan Abby yang sulit dibangunkan jika sudah tidur, persis Kerbau. Dan Abby, sepertinya dia hanya bisa menyindir kelakuan Keira yang seperti ini, berambut pedek, maskulin, dan disukai banyak wanita. Dia sering menyindirnya, yuri...

"Bukan salahku jika aku disukai banyak wanita", selalu seperti itu alasan Keira.

Mungkin memang benar. Tidak pernah sekalipun Keira menawarkan dirinya pada siswi-siswi di sekolah mereka. Mereka hanya menyukai Keira begitu saja. Dan anehnya laki-laki pun mempunyai perangai yang sama, memuja Keira. Mungkin, hanya karena Keira ketua OSIS saja....

"Onee-sama!", tiba-tiba dari langit (ya, dari langit) jatuh seorang anak perempuan ke arah mereka. Kontan, mereka bertiga langsung jatuh bertumpukkan.

"Itte..itee.." Abby kesakitan. Ketika bangkit, dilihatnya perempuan itu sudah duduk di pangkuannya yang masih terduduk.

"Apa-apaan ini?!" Keira berteriak marah.

"Onee-sama..Onee-sama..Onee-sama!" tanpa mempedulikan Keira, perempuan itu langsung memeluk Abby dan terus saja memanggilnya dengan Onee-sama.
"Ah, Onee-sama terluka!" dilihatnya lutut Abby yang sedikit lecet sambil sedikit histeris.
"Ma-maafkan aku. Huhu", dia mulai menangis.

"He-hei. Tidak apa-apa. Lagipula ini tidak sakit", Abby tak kalah panik. Padahal sebenarnya sakit sih.

"Hik..hik.." gadis itu mengelap air matanya dan tersenyum, senyuman jahil. Dia mengarahkan tangannya pada lutut Abby yang terluka, dan dari telapak tangannya itu keluar cahaya putih kekuningan. Abby merasakan sesuatu yang hangat dan menyenangkan dari cahaya itu. Tak lama, rasa perih di lututnya menghilang, berbarengan dengan bekas lukanya yang juga ikut raib.

Abby dan Keira hanya bisa bengong menyaksikan kejadian itu.
Makhluk apa dia? Alien? Kenapa bisa menyembuhkan orang secepat itu, pikir Keira.
Dan pikiran Abby, mungkin dia bisa menyembuhkan penyakit mag-ku lebih cepat dari petugas kesehatan sekolah...


[ FIN ]

PS : Pemberian nama saya buruk ORZ

Cerita diatas adalah potongan chapter dari fanfiction original saya, Absurd. Terima kasih telah membaca Day 1 : Abigail. Jangan lupa berikan komentar

Monday, April 5, 2010

Ebuse Award Mulu

Monday, April 05, 2010 7 Comments Stored
Baru aja kemaren Akane ngasih award, sekarang udah ngasih lagi =="
Ebuse dapet award mulu =A=
Jujur aja nih, sebener na rada males juga klo mesti mosting award. Tapi gpp lah, menghargai orang yang ngasih. Dia udah senang hati share award berarti masih inget sama kita mean: care sama saya yang menarik nan rupawan ini. Klo ga diapresiasi keterlaluan D:<
Menurutku.


Thx *lagi* yoi Akane @_@
Dishare buat orang yang sama aja dah kaya Award Awal April kmaren. Lagi males bikin list baru D:
Tapi ditambah beberapa orang.
  1. Raven
  2. Radzied
  3. Raxen
  4. Melan
  5. Itox
  6. Himeka
  7. Elis
  8. Boot
  9. Yuura
  10. Maya
  11. Olla
  12. yozza *om yang cantik wajib ambil yah. Spesial pertamax award dari Ain =_=

Tugas : sebelum kamu meletakkan link di atas, kamu harus menghapus peserta nomor 1 dari daftar. Sehingga semua peserta naik 1 level. Yang tadi nomor 2 jadi nomor 1, nomor 3 jadi 2, dst. Kemudian masukkan link kamu sendiri di bagian paling bawah (nomor 10). Tapi ingat ya, kalian semua harus fair dalam menjalankannya. Nah, silahkan copy paste saja, dan hilangkan peserta nomor 1 lalu tambahkan link blog/website kamu di posisi 10. Ingat, kamu harus mulai dari posisi 10 agar hasilnya maksimal. Karena jika kamu tiba2 di posisi 1, maka link kamu akan hilang begitu ada yang masuk ke posisi 10.
  1. Mendadak Ngeblog
  2. Libujen's belajar buat blog pake HP
  3. InfoeTradingSecurities
  4. Cah Kudus
  5. 7bskodsa blogger
  6. Cinta Ngeblog
  7. Dark Ard Deidara
  8. Coretan Cerita Seharian
  9. Akane D'SiLa
  10. [L]ain Disconnected

Pernah nemu orang (di blog lain) yang bilang di comment box kaya gini, "Award sih ga penting yah buat gw. Malahan gw klo dapet award males mosting. Buat apaan coba. Nguntungin kita juga kgk. Ngerepotin n nambah cape iya."

Ckckck...
Kata siapa nggak nguntungin?
Jika tiap penerima award mampu memberikan award ini kepada 5 orang saja dan mereka semua mengerjakannya, maka jumlah backlink yang akan didapat adalah..
  1. Ketika posisi kamu 10, jumlah backlink = 1
  2. Posisi 9, jml backlink = 5
  3. Posisi 8, jml backlink = 25
  4. Posisi 7, jml backlink = 125
  5. Posisi 6, jml backlink = 625
  6. Posisi 5, jml backlink = 3,125
  7. Posisi 4, jml backlink = 15,625
  8. Posisi 3, jml backlink = 78,125
  9. Posisi 2, jml backlink = 390,625
  10. Posisi 1, jml backlink = 1,953,125

Dan semuanya menggunakan kata kunci yang kamu inginkan. Dari sisi SEO kamu sudah mendapatkan 1,953,125 backlink dan efek sampingnya jika pengunjung web para downline kamu mengklik link itu, kamu juga mendapatkan traffic tambahan.

Sayang na tiap aku share award, yang respon dikit banget! D:
Jadi tetep aja ga dapet backlink yang berarti

Tapi bukan itu tujuanku mosting award. Fufufu...
Seperti disebutkan diatas, buat menghargai n mengapresiasi orang yang ngasih award. Yang paling penting, silaturahmi. Dateng ke blog temen trus bilang, "kamu dapet award, ambil ya", or something biar dibilang blogger perhatian
Sekalian blogwalking juga! X3
Jadi buatku ga masalah klo share award tapi orang yang dikasih ga respon atau mosting balik. Yang penting aku udah ngasih tau klo dia dapet award. Soal mau ambil ato nggak itu hak dia.
...
...
Tapi klo bisa sih ambil aja lah, biar blog busuk ini rame


Ciat!!!
Kerempeng tanpa otot is indah!!! *triple tak*

Thursday, April 1, 2010

Award Awal April

Thursday, April 01, 2010 2 Comments Stored
Dapet award nih. Dari siapa lagi klo bukan Akane. Dia emang yang paling sering bagi-bagi award xD
Padahal lagi jarang blogwalking ke temen-temen, tapi masih ada yang mau ngasih.
Thx yoi~






Sama nih kita, Akane, lagi rada ga semanget blogging. Klo aku sih emang lagi ga ada ide buat nulis
Rencana sih mau publis fict ori aku aja dah, Absurd, daripada ini blog ga ada postingan baru sama sekali
Biar fict na makin tenar juga *dihajar*

Di-share buat temen-temen blog yang udah lama ga blogwalking, yang ga saling komen-komenan, yang udah lama lost contact.
  1. Raven
  2. Radzied
  3. Raxen
  4. Melan
  5. Itox
  6. Himeka
  7. Elis
  8. Boot
  9. Yuura
  10. Maya

Eniwei ga ada rule buat award diatas.
Yokatta ~(-_-~)

[L]ain Disconnected © 2008 - | Powered by Blogger | Read Disclaimer