Tuesday, October 25, 2011

[L]ain is Writing Hal Tak Meaning

Tuesday, October 25, 2011 31 Comments Stored

Yo^^..
Lama juga ga update blog. Rank Alexa yang udah dinaikin usah payah jadi melorot lagi Orz

Gatau mesti nulis apa, jadi gua diem aja. Ada cerita yang udah ditulis, tapi abis dibaca ulang, itu lebih cocok masuk tong sampah daripada dipublish. Ga pernah blogwalking, gua jadi ngerasa blogger paling songong. Sori mamen, baca nomer 5 dibawah.

Hm...beberapa hal yang dilakukan belakangan ini ga banyak. Hanya sibuk bermalas-malasan. Really, gua ga bergairah ngapa-ngapain. Mungkin butuh minum E*tra J*ss banyak-banyak. Tapi seenggaknya ada yang berhasil dikerjakan sebagai manusia yang butuh beraktifitas dan bergerak biar nggak membusuk ditempat.
  1. Bikin e-KTP. Gua sekeluarga dapet surat dari kelurahan yang intinya seruan buat bikin benda canggih tersebut. Kamis 20 Oktober 2011, berdua sama kakak berangkat ke kantor kecamatan buat daftar. Bokap nyokap kagak ikut, gatau mereka mau bikin kapan.
    *Dih lagak bilang bokap nyokap, sok anak gahol. Sori ya bu, pak, cuma kepentingan tulisan doang*
    Cumi sumbing, daftar jam 10.30, dapet giliran masuk jam 12.00. Dua jam setengah mamen. Dan berani sumpah gua bener-bener ketiduran waktu nunggu. Di twitter, mamen gua si Yus Yulianto bilang katanya belom bikin. Padahal dia di kota gede, Jekardah gitu. Eh, apa Depok? Bekasi? Pokoknya salah satu kota metropolis sumber polusi deh.


  2. Baca Twilight dari Mbak Fanny. Syukurlah ternyata novelnya nggak se #apaandeh filmnya. Adegan mesranya juga biasa, nggak terlalu diumbar kaya di film. Yah, sebuah film memang butuh sensasi~


  3. Kebagian tugas bikin blog. Ini mah sama aja ngasih nilai A gratisan atuh bu *sombong*
    Tapi gua sekelompok sama orang-orang yang ga diinginkan. Sikap diskriminatif udah terbukti sanggup bikin kaum minoritas kaya gua terkucilkan dan susah dapet nilai bagus.
  4. Mulai kecanduan kopi lagi. Sehari minum 3 kali, jumlah yang lebih banyak daripada makan nasi. Lama-lama balik lagi kaya dulu, 5 kali sehari.
  5. Berhubung lagi susah online normal, pulsa pun cuma ada yang SMS, akhirnya menggembel ria dengan buka Facebook Zero dari hape. Gua udah ga begitu seneng sama FB, tapi apa boleh buat, ga ada media lain. Banjir status sampah pun mengalir deras. Andai ada Twitter Zero...
  6. Pacaran


Terakhir....
I'm not Pedobear. I am Pedopanda


Wednesday, October 19, 2011

[L]ain Mamen, Elu Punya Pedang Atau Perisai Sih?

Wednesday, October 19, 2011 40 Comments Stored
Lagi-lagi gua punya cerita soal gender bender. Biasalah, apalagi klo bukan kesalah-kaprahan orang-orang tentang jenis kelamin gua. Sebenernya elu punya pedang apa perisai sih In?

Singkatnya gua lagi otw ke warung beli jajanan gopean yang iklannya Nikita Willy kena amnesia, yang rasa makanannya papapia lezatos. Tau? Yaudah ssssshhh jangan bilang merk. Klo dibayar baru gua mention *dilempar pembalut bekas*

Dalam perjalanan, ada 2 bapak-bapak yang lagi asik ngaso di depan tukang baso. Dengan cool gua lewat depan mereka, dan canggihnya mata mereka langsung ngekorin gerakan artistik gua yang lagi jalan. Mereka langsung rumpi nyeletuk, "Kang, eta pameget atanapi istri?"
Roaming? Gua translate.
"Kang, itu cewe apa cowo?"

Dengan reflek gua langsung ketawa muncrat (suffix *pft*) sambil terus berlalu dengan mempesona. Cuma bisa terkekeh dalam hati sambil mikir, "Orang tua jaman sekarang cepet bolor ya."

Trims loh. Kebingungan kalian jadi hiburan tersendiri.

Foto profil blogspot gua yang terbaru. Tebak, armornya pedang apa perisai?


Nyeh banget -,,,,-

Monday, October 17, 2011

[L]ain Dapet Novel Twilight Gratis

Monday, October 17, 2011 17 Comments Stored

Penampakan setelah dilucuti


Asoy banget dah! Lagi-lagi gua menang giveway dari Mbak Fanny alias Sang Cerpenis Bercerita. Yak, ini hadiah kedua. Pengumumannya ada DISINI. Klo lagi kurang gawean silakan ubek-ubek blog ini sampe ketemu postingan tentang lomba yang pertama.

Lombanya tentang ATHEIS. Et dah...bijimane caranya gua nulis hal-hal yang berat, padat, montok dan berisi gitu. Tapi dari awal gua emang nggak niat dapetin hadiah utamanya -yang berupa novel tentang Atheis itu sendiri- tapi hadiah hiburannya. TWILIGHT gitu loh! Oke sebenernya gua nggak tertarik sama Twilight Series. Mangap-mangap ya buat yang suka, tapi filmnya itu lho, keren sih, tapi terlalu mengumbar hubungan badan dimana-mana. (baca: ciuman, pegangan tangan, pelukan, salaman, sungkeman, dll) Klo Dakota Fanning nggak maen di New Moon, kemungkinan besar gua nggak bakal lirik ini film. Tapi penasaran sama novelnya. Semoga nggak terlalu #apaandeh banget kaya film nya.

Buat ngedapetinnya gua mesti nulis postingan yang nggak nyambung sama tema lomba. Dan oke, gua menang. Semakin meyakinkan klo ada yang salah dan konslet sama otak gua sampe lihai nulis hal-hal yang nggak nyambung. Canggih.

Postingan yang menang: [L]ain Pernah Bertindak Kriminal
Disitu Mbak Fanny nulis komen pemberitauan


Kemaren -hari Minggu- sekitar jam 12 siang, pas banget waktu kelar mandi, ada om-om dari TIKI yang dateng dengan senyum marketing tersungging turun dari motor bebeknya dan nyamperin gua. Untung udah pake baju komplit, nggak cuma anduk yang dililit bak sempak. Gua bales menyeringai -udah sikat gigi, kemungkinan nggak ada jigong yang terselip-. Setelah sedikit basa-basi, novel Twilight yang dinanti-nanti resmi jatoh ke tangan gua. *menggelinjang liar*

Seperti biasa, jeprat-jepret diharuskan sebagai bukti otentik klo gua mempesona.


Memelas banget -,,,,-

Saturday, October 8, 2011

[L]ain Was A Jealous [L]oser. Not For Today.

Saturday, October 08, 2011 53 Comments Stored

Iri.

Ketika ngeliat temen lu berhasil ngedapetin apa yang dia cita-citakan, apa yang lu rasain? Ikut bahagia? Atau bener kata film 3 Idiots, "Ketika ngeliat temen lu gagal, elu sedih. Tapi ketika ngeliat temen lu lebih sukses, elu jauh lebih sedih lagi.

Kalau ambisi kalian sama?
Gua cengo ngeliat seorang temen berhasil pergi ke negeri impiannya, yang kebeneran negeri impian gua juga. Dia sukses. Ninggalin gua dibelakang.



Bohong klo nggak iri. Klo mental gua cewek, mungkin udah nangis guling-guling diatas aspal sambil nendang-nendang kaya orang ayan.

At least it's just a broken dream, not a broken life.

Gua masih idup, masih bisa mengejar. Bukan ngejar dia, tapi ngejar mimpi gua yang keduluan sama dia. Gua ikutin satu-persatu langkah yang dia ambil, berharap nasib gua sama kaya dia. Dan gagal.

Sakit?
Yaiyalah, jatoh kepeleset kulit pisang trus nyungsep di got aja sakit. Ditambah orangnya nggak tau bahwa mimpi kita sama. Dia baik banget, tiap gua tanya tentang kehidupannya disana selalu mau cerita. Sakit. Hanya mendengar tanpa bisa merasakan. Kebaikan yang menyakitkan =A=

Gua udah nyoba ini-itu. Nyomot tiap kesempatan yang ada biarpun tau peluangnya kecil. Dan tetap gagal. Gua nyerah? Shit no...

The more you face it, the more you can handle it.

Mungkin kurang berusaha. Mungkin kurang berdoa. Gua kudu lebih getol usaha dan doa biar buah yang dipetik bakal terasa manis banget ketika dinikmati.

Cukup punya niat yang tulus, doa yang rajin, dan usaha yang keras. Sisanya, biar Allah yang menyempurnakannya. Just do my best, let God do the rest.

Dan sori, Gua bukan orang gagal.


[L]ain was a [L]oser. Not for today.

Friday, October 7, 2011

Cyber Crimes Is Really Scary

Friday, October 07, 2011 8 Comments Stored

Have you ever got a problem when you’re going to login into your social network account? You type a right ID and password, but it doesn’t bring you into your dashboard. Then you started to think, does someone doing something with my account?

The problem looks simple, as if that’s just a social network. But how if someone cracked your bank ID through internet banking and steal your money when you’re sleeping? You know nothing till you look your passbook.

Computer criminals comprise much kind of people. Disgruntled employees or even the lazy ones, housewives, or students. They attack unauthorized access by employees to break-ins by intruders. Why and how do they occur?
  • Network administrators’ laxity.

  • Failure to monitor security programmers allows ‘hackers’ to access the networked system and crimes often go undetected.

  • Social engineering is used to build a friendship with employees and gain access to information.

  • Cryptographic keys can be figured out by timing the computers.

  • Firewalls and system probing.

  • ‘Cracker’ programmer to identify passwords is used to try every word in the dictionary as a password.

  • Network file used to share files between systems is exploited through well-known vulnerabilities.

  • ‘Sniffing’ allows all traffic on a network to the sniffed to collect authorized password.

  • Another method of virus infection is transmitted via word files. Word documents are embedded with viruses sent via email. There is no way to see that a document is infected until it is opened.

It’s a kind of scary crimes that can be done while you’re lying in a bed. Yes, people who are relaxing can cause huge losses for a company. Scary.

Thursday, October 6, 2011

Day 13 : Cahaya

Thursday, October 06, 2011 10 Comments Stored
"Namaku FragiLe Carpenter. Mulai hari ini aku akan menjadi teman sekelas kalian. Mohon bantuannya", dia membungkukkan badan.

"Hei-hei!" seorang murid laki-laki mengacungkan tangan.
"Tidakkah kau terlalu tua untuk menjadi anak kelas 11? Kurasa usiamu melebihi kami."

"Itu. Sebenarnya usiaku saat ini 18 tahun. Jauh lebih tua 2 tahun dari kalian yang mungkin kebanyakan masih berusia 16. Dua tahun lalu kedua orangtuaku meninggal. Sejak saat itu aku tinggal di panti asuhan dan sekolahku jadi terbengkalai. Baru tahun ini aku mendapat kesempatan untuk melanjutkan sekolah."

"O-oh, maaf, aku tidak tahu", murid laki-laki tadi sedikit kecut.

"Tidak masalah", FragiLe tersenyum ramah.

"Nah", wali kelas yang sedari tadi berdiri disamping Fragile mulai berbicara.
"Itu Keira Way. Dia ketua kelas 11-4 sekaligus ketua OSIS SMU Siegfried. Kalau ada yang ingin kau tanyakan seputar sekolah, dia yang paling bisa diandalkan", sang pak guru menunjuk bangku Keira. Orang yang ditunjuk langsung berdiri dan balas menyapa.

"Salam kenal. Namaku Keira Way. Tak perlu sungkan jika kau butuh bantuan."

"Terima kasih. Mungkin aku akan sering merepotkan", FragiLe terkekeh. Setengah becanda.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


"Hei FragiLe, badanmu kekar ya!" sekumpulan murid wanita berkerumun di bangku FragiLe, di pojok kelas. Mebuat jam istirahat saat itu lebih gaduh dari biasanya.

"Ahaha, iya. Aku sering melakukan banyak pekerjaan berat di panti asuhan. Jadi ototku terbentuk secara otomatis. Mungkin. Haha", FragiLe melayani semua pertanyaan para wanita cerewet itu dengan sabar.

Sementara itu...

"Kau tidak lapar? Ayo ke kantin. Hari ini ada chocolate cake", Keira bersiap menarik tangan Abby.

"Hah? Apa?" Abby yang sedari membenamkan kepalanya sedikit menengok.

"Menu favorit kita, kau ingat?! Perlu kuperjelas? M.A.K.A.N!!!!" Keira berteriak, dan ini membuatnya kembali memperagakan gaya favoritnya ketika mengomel didepan Abby: bercacak pinggang sementara satu tangannya menunjuk-nunjuk wajah Abby.

"Aku tidak lapar", Abby kembali membenamkan wajahnya.

"Oh Tuhan. Kali ini aku benar yakin ada sesuatu yang tak benar dalam kepalamu. Satu-satunya obat mujarab untukmu adalah makan! Ayo cepat!" Keira menarik paksa tubuh Abby dan bergegas menuju kantin.

Sementara FragiLe yang sedari tadi diam-diam memperhatikan mereka berdua mulai membuntuti.
"Maaf semuanya. Aku lapar, aku ke kantin dulu. Bye."


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


"Hei, kalian!"

Abby dan Keira menengok.

"Maaf, kalian mau ke kantin? Bisa pergi bersama? Aku belum tahu tempatnya."

"Tentu. Tak masalah", Keira menepuk pundak FragiLe.

"Terima kasih, Keira."

"Cukup panggil Kei."

"Maaf. Terima kasih, Kei. Ah iya, kita belum berkenalan, kan? Aku FragiLe", dia menyodorkan tangannya pada Abby.

"Uh? Oh. Abby Gale", Abby membalas jabatan tangannya.

"Ack!" tiba-tiba FragiLe tersentak dan mencabut tangannya dengan kaget.

"Hah? Kenapa? Aku kan tidak memasang alat kejut listrik atau benda iseng semacamnya di tanganku", Abby terheran.

"Ti-tidak. Bukan apa-apa. Maaf."

"Yasudah. Ayo ke kantin", Keira mendorong mereka berdua dari belakang.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


"Maaf menunggu. Antriannya panjang sekali. Sebagai tanda perkenalan, kali ini aku yang traktir", FragiLe meletakkan dua piring berisi chocolate cake ke atas meja.

"Wow, gratisan! Terima kasih FragiLe", Keira langsung menyambar sendok dan menyantapnya.
"Ngg, FragiLe. Kau masih tinggal di panti asuhan?"

"Sudah tidak. Sekarang aku tinggal dengan adik kandungku di sebuah rumah sederhana. Dia tipe orang yang tidak betah tinggal di tempat semacam panti asuhan."

"Kau punya adik?"

"Tentu."

"Dia pasti mirip sekali denganmu ya."

"Banyak orang yang bilang begitu. Haha, tentu saja, bukan? Kami kan saudara kadung."

Abby yang tengah menyantap kuenya dengan perlahan tanpa semangat diam-diam memperhatikan FragiLe mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kulitnya coklat. Matanya pun coklat. Wajahnya nampak tegas namun ramah. Lama Abby perhatikan, samar-samar dia teringat akan satu sosok yang berperawakan mirip dengan FragiLe.

"Uhuk!" Abby tersedak.

"Kau kenapa?" Keira menepuk-nepuk pundak Abby.
"Kalau makan itu pelan-pelan! Dasar rakus!"

"Ti-tidak. Sudahlah, aku tidak nafsu makan. Kau saja yang habiskan", Abby bangkit dari kursinya dan pergi.

"Kau mau kemana?" Keira berteriak.

"Ruang kesehatan. Tidur. Maksudku, mag ku kambuh."

"Kerbau dungu. Makan chocolate cake ini kan bisa mencegah lapar. Mencegah mag juga. Setan macam apa yang membuatnya tidak nafsu makan?"

"Orang aneh", FragiLe terheran.

"Percayalah, hari-hari biasa pun dia sangat aneh. Tapi kali ini, dia sangat aneh. Entah apa yang merasukinya kali ini", Keira geleng-geleng.

"Kelihatannya kau kenal dia sangat baik."

"Kami sahabat sejak kecil."

"Wah, wah! Hobi kalian juga pasti sama kan? Kurasa."

"Tidak...tidak! Aku bukan setan yang selalu kelaparan atau kerbau tukang tidur seperti dia."

"Haha, akrab sekali kalian. Bahkan saling mengejek seperti ini sudah tidak sungkan."

"Cih, akrab. Mungkin belakangan ini iya."

"Belakangan ini?"

"Ya. Aku tidak suka binatang. Kau percaya, gara-gara satu kesalahan bodoh, aku jadi harus ikut mengurusi kucing merepotkan milik Abby."

"Wah, bahkan kalian sampai merawat seekor kucing bersama. Akrab sekali. Lalu kucing itu seperti apa?"

"Huh? Sudahlah, tak penting. Ah ngomong-ngomong jangan bilang pada Luna, Luna Cole, kau tahu sekretaris OSIS yang cantik itu? Ya ya, nanti aku tunjukkan orangnya. Jangan bilang padanya aku tidak suka binatang. Bukannya benci, hanya tidak suka. Kau mengerti kan perbedaannya?"

"Ahaha, baiklah, tak masalah. Mungkin kapan-kapan kau mau bercerita tentang kucing itu. Aku akan sangat senang mendengarnya", FragiLe tersenyum ramah sementara sorot matanya menyiratkan sesuatu yang licik.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


"Huaaah! Lama sekali! Aku bosan menunggu dirumah terus!" dia bersandar pada sofa merah dan menyilangkan kedua kakinya keatas meja. Dengan malas.
"Besok ijinkan aku ikut ke sekolah. Harus."

"Bocah tengik. Sudah kubilang belum boleh", FragiLe tampak lelah dan langsung menjatuhkan diri pada sofa panjang.

"Lau bagaimana? Bagaimana? Si rambut merah itu?"

"Entahlah. Ada yang aneh pada gadis itu. Ketika aku berjabat tangan dengannya, tubuhku seperti, kau tahu, terkena sengatan listrik atau semacamnya."

"Artinya kau tidak bisa menyentuhnya? Bagus!"

"Kenapa kau tampak senang? Apakan karena..." FragiLe tampak serius dan mengubah posisinya menjadi duduk.
"Efek kalung ini?" FragiLe mengamati kalung kusam yang menggantung di lehernya.
"Dalam kalung ini terdapat sebuah batu emerald jingga yang sudah terisi ZeaL hitam milik penyihir Nymph. Ini membuat keberadaanku tak bisa tercium Sathoclea lain. Sangat gila jika aku menjalankan rencana menyusup ke sekolah demi mengamati si rambut merah dan partnernya -yang ngomong-ngomong bernama Keira Way, mulai sekarang panggil dia Kei, mengerti bocah- tanpa mengantisipasi keberadaan Sathoclea kucing itu. Dia Sathoclea murni Nymph, pasti mudah merasakan keberadaanku. Dengan kalung ini, keberadaanku bisa disamarkan dan kucing itu tak bisa mencium jejakku. Tapi sepertinya api kehidupan dalam tubuh si rambut merah tidak bisa terkecoh, dia mengenaliku. Dia menolak kehadiran ZeaL hitam. Mungkin itu sebabnya aku tak bisa menyentuhnya."

"Tunggu, jangan berbicara terlalu cepat. Kalau kau tidak bisa menyentuh si rambut merah, artinya kau tak bisa menghajarnya. Maksudku, jika kita bertarung dengannya suatu saat. Tapi kuharap kau tidak melukainya."

"Tidak. Menurutku, aku tak bisa menyentuhnya hanya jika aku mengenakan kalung ini. Kau mengerti efek samping tidak? Efek samping penggunaan kalung ini adalah aku tak bisa menyentuh si rambut merah. Sebaliknya, aku bisa menyentuh si rambut merah jika kalung ini kulepaskan dengan konsekuensi, si kucing keparat langsung mengetahui keberadaanku."

"Dan jika dia mengetahui identitas aslimu, dia akan langsung menyerangmu. Dan tanpa ada aku majikanmu, oke, partnermu, maka kekuatanmu hanya akan keluar setengah. Lalu, BAMMM, kau akan hancur berkeping-keping. Intinya, kalah. Begitukah?"

"Justru itu kan, dari awal kubilang mungkin kedepannya kau memang harus berpura-pura menjadi adikku. Lagipula sudah kukatakan -cerita bohong- pada Kei dan Abby -kita panggil saja di rambut merah dengan namanya mulai sekarang- bahwa aku yatim piatu. Kedua orangtuaku meninggal dua tahun lalu. Yang kupunya tinggal satu adik kandung. Kau. Suatu saat ketika aku sudah cukup dekat dengan mereka berdua dan memahami kondisi si kucing, saat itulah kau akan ikut denganku menjadi murid baru SMU Siegfried. Tentu saja kelasmu harus berbeda denganku."

"Demi daging ayam bakar mentega berhias apel! Kau tidak salah bicara kan, anjing bodoh? Aku boleh masuk SMU itu -dan bertemu Abby- ?" dia tampak girang dan langsung meloncat dari sofa.

"Ingat syaratnya baik-baik. Jika kau sudah masuk sekolah itu, jangan pernah berkeliaran seenaknya. Jadilah murid baik-baik yang pendiam dan tidak punya teman juga tidak mencolok dikalangan guru. Jangan ingin menjadi pusat perhatian, jauhi keramaian. Yang paling penting, jangan pernah datang ke kelasku. Abby akan langsung tahu."

"Itu kita lihat saja nanti. Yang terpenting, besok aku bisa langsung kesana?"

"Bukan besok, bocah bodoh! Kau tuli? Nanti, jika aku sudah cukup dekat dengan mereka berdua. Disaat mereka lengah itulah, kau masuk. Dan saat itulah kita serang mereka, saat si kucing tidak ada didekat mereka."

"Kapan itu kapan?" Kapan-kapan?"

"Entahlah. Aku tidak bisa semudah itu mendekati mereka, terutama Abby. Kurasa dia tipe gadis remaja yang saat ini sedang dalam masa-masa sulit. Dia tampak depresi hari ini. Sulit mengorek informasi darinya."

"Biarkan aku yang melakukannya. Aku pasti bisa!"

"Shit. Jangan buat aku mengulang semua penjelasan tadi. Jangan sekarang!"

"Oke-oke. You jerk", dia kembali terlihat malas dan menyilangkan kedua kakinya keatas meja.
"Adik kandung? Apa aku harus memakai nama belakang yang sama denganmu juga?"

"Namaku disekolah FragiLe Carpenter."

"BAHAHAHA. Carpenter! Apa tidak ada nama yang lebih bagus?!" dia tertawa terbahak-bahak sampai memukul-mukul meja saking gelinya.

"Cih!" FragiLe membuang muka. Nampak sedikit malu.
"Aku tidak punya nama belakang. Semua Sathoclea begitu. Hanya itu yang terpikirkan."

"Carpenter. Itu aneh! Aku tidak mau nama belakangku diganti."

"Kalau begitu kau setuju tidak masuk ke sekolah itu."

""Oi...oi...baiklah, baiklah. Lagipula kau ini idiot, lendir bau. Kenapa harus bilang punya adik? Bisa saja kan aku masuk ke sekolah itu menjadi orang lain yang tidak kenal siapa kau."

"Lebih mudah bagiku untuk mengawasimu jika aku bilang kau adikku. Aku bisa langsung mengusir siapapun yang mendekatimu, atau menyeretmu dari keramaian untuk mencegahmu melakukan seuatu yang bodoh didepan umum."

"Otak kacang!"

"Cukup hari ini. Aku lelah bertengkar. Aku ingin istirahat. Pergi kau bocah bodoh!" FragiLe menendang tubuh gadis itu dan dia langsung terjembab ke lantai.

"Hei! Sopan sedikit, anjing keparat!"

"Aku ingin tidur. Pergi ke kamarmu sendiri, majikanku tersayang", FragiLe langsung membalikkan badan dan terlelap.

"Shit!" gumamnya.
"Namaku diganti ya..." gadis itu bangkit dan mengusap-usap kepalanya.
"Carpenter..." dia berjalan ke arah kamarnya.
"Berarti mulai sekarang namaku Neon Carpenter, bukan Neon Eclaire IgnieL", diapun menghilang dibalik pintu.


[ FIN ]


judul chapt nggak nyambung sama cerita ya, minna x3.gif
ngg, ano, itu karena di chapt ini saya buka nama si gadis misterius buat pertama kali

Neon = cahaya
Eclaire = cahaya (French)

[L]ain Disconnected © 2008 - 2016 | Powered by Blogger | Read Disclaimer

Back To Top