Thursday, July 30, 2009

Family, huh?

Thursday, July 30, 2009 5 Comments Stored
Disclaimer : Devil May Cry 3 © Capcom
Fandom : Devil May Cry 3
Fanfic : Himemiya Rain


***

Kudorong dengan paksa pintu kamar mandi sambil tetap menggosok-gosokan rambutku yang basah dengan handuk. Kuhampiri kursi tua kesayanganku, lalu dengan kasarnya aku duduk sambil menghentakkan kaki ke atas meja kerja yang sudah tidak bisa dibilang bagus lagi. Hm, lihat ini, masih ada beberapa potong pizza yang tersisa. Makanan favoritku!
Tapi, hei, tunggu dulu!
De Ja Vu!
Rasanya kejadian ini pernah aku alami sebelumnya. Oh ya, well, tentu saja, tapi dulu saat aku baru akan memasukkan Pizza ke dalam mulutku, beberapa Hell Pride tiba-tiba menyerang setelah sebelumnya si Arkham buruk rupa itu datang untuk memberikan "Undangan Pesta" dari kakakku Vergil.

Vergil, nama yang cukup lama kusimpan dalam-dalam di pikiranku. Ah, kenapa sekarang memori tentang dirinya kembali lagi! Aw, c'mon, dia itu orang yang paling aku benci! Bahkan dia terang-terangan mencoba membunuhku dan mengambi alih dunia menggunakan kekuatan ayah. Dia, tidak ada bedanya dengan demon diluaran sana! Dia, tidak ada bedanya dengan demon seperti...aku...

Satu hal yang tidak kusadari, bahwa aku juga sejenis dengannya. Sama-sama manusia setengah iblis, sama-sama darah keturunan Sparda, yang terlahir dari seorang wanita dari kalangan manusia biasa. Kalau saja dia tidak memiliki nafsu ingin menguasai dunia, mungkin kami bisa hidup sebagai, yah, paling tidak, sebuah keluarga.
Tunggu, apa?
Keluarga? Tidak, tidak!
Bahkan aku tidak mengakui pernah mempunyai ayah! Kenyatannya, aku mempunyai masalah ketidakfungsionalan keluarga seperti wanita yang enggan memberitahukan namanya itu.

Keluarga, huh?!

Pertempuran akhir di Temen-ni-guru, kenapa dia tidak menggapai tanganku? Kenapa dia lebih memilih terjebak bersama Mundus? Tapi bukan itu yang ingin aku tahu. Kenapa, saat dia pergi, iblis sepertiku bisa mengeluarkan air mata? Bukankah iblis tidak pernah menangis? Mungkin benar yang wanita itu katakan..

"Maybe somewhere out there, even a Devil May Cry when he loses a loved one, don't you think?"


***

.:: Quote terkait ::.

Arkham : "Is your name Dante, son of Sparda?"
Dante : "Where'd you heard that?"
Arkham : "From your brother. He send ths invitation for you. Please, accept it."

Dante : "No doubt you've got some fun planned for me Right, Vergil?!"

Dante: "What's your name?"
Lady: "I don't have a name."
Dante: "So what should I call you?"
Lady: "I don't care! Call me anything you want."
Dante: "Whatever, Lady."

Vergil: "Why do you refuse to gain power? The power of our father Sparda?"
Dante: "Father? I don't have a father. I just don't like you, that's all."

Lady: [about Arkham] "He was obsessed with becoming a devil, so much he killed
his own wife. For that he butchered innocent people too. He's the most vile kind
of creature. To top it off, that filthy scum... is my father."
Dante: "Well, we have something in common. I have a dysfunctional family too."
[berjalan pergi] "Family, huh?"

Lady: "Are you crying?"
Dante: "It's only the rain." [menyembunyikan wajah]
Lady: "The rain already stopped." [menengadahkan kepala keatas]
Dante: "Devils never cry."
Lady: "I see. Maybe somewhere out there even a devil may cry when he loses a
loved one. Don't you think?"
Dante: "Maybe."

.:: [ FIN ] ::.

I wonder, kapan ya bikin fanfic ini....x3
Sudah lama terlupakan..
Mending post di blog aja sekalian update, meski aku tau nih fanfic ga mutu Dx

Wednesday, July 29, 2009

I Wanna Touch You

Wednesday, July 29, 2009 9 Comments Stored
Ini fanfic iseng yang aku bikin jam 3 tadi malem pas lagi ga bisa tidur gara-gara mikirin Dakota Fanning. Dan plot cerita na juga ga begitu kuat sih, soal na aku maksa buat ga masukin unsur nudity berlebihan, padahal pengen dimasukin =,=
Jadilah sebuah cerita hambar seperti dibawah ini. Tapi aku harap enjoy yah >_<



I Wanna Touch You

"Woaaaa.." mulutku menganga lebar saat melihat sebuah majalah yang covernya bergambar Dakochan.
"Imut sekali!" aku tak bisa menahan diri untuk tidak berteriak dan meremas majalah itu saking gemasnya.


"Eh mbak, jangan dirusak dong majalahnya. Kalau mau ya beli aja!" loper majalah yang melihat perbuatanku langsung menegur dengan ketus. Yah, tidak apa sih, toh aku memang mau membeli majalah itu. Ditambah di dalamnya ada bonus poster yang cukup besar.

"Hah? Kok posternya risek sih? Ah, bego, kan tadi malajah ini dirisekin sendiri sama aku. Klo tau gini mending tuker diem-diem sama majalah lain deh", aku yang tidak bisa menerima perbuatanku sendiri langsung nomel-ngomel. Tapi tetap saja poster yang sudah setengah berantakan itu aku pajang juga di dinding kamar.

"Kamu makin gede aja ya Dakochan, makin cantik pula", ringisku dalam hati.

***

Dakochan. Idola yang sedang bersinar. Aktingnya dalam berbagai film sering mendapat pujian. Itulah mengapa aku suka padanya. Tapi sebenarnya ada alasan lain.
Aku...mencintainya.
Jika kalian kira ini hanya perasaan cinta seorang fans kepada idolanya, ya mungkin sedikit benar. Tapi yang aku maksud adalah, aku benar-benar mencintainya. Ingin memilikinya, menyentuhnya, menciumnya, dan segudang pemikiran kotor lain yang tidak pantas aku sebutkan.

Ah, aku jadi ingat masa-masa kecil kami dulu.
Tunggu, KAMI?
Ya, kami. Percaya atau tidak, Dakochan adalah teman masa kecilku. Saat umur 7 tahun, Dakochan pindah kesini menjadi tetangga baruku. Dan saat itulah untuk pertama kalinya aku melihat seorang bidadari. Cantik, dan menggemaskan pastinya. Kami mulai menjadi teman bermain yang cukup akrab. Ah sudahlah, aku dan Dakochan sudah tidak bisa seperti dulu lagi.

***

Brum..brum..
Aku terbangun dari lamunanku karena sebuah suara. Kuintip dari jendela kamar kearah suara itu berasal. Ternyata sebuah mobil, tapi milik siapa? Aku tidak pernah melihat mobil itu sebelumnya. Penasaran, aku keluar rumah dan melihat.

"Plat nomornya sih dari luar kota. Sodara tetangga kali. Balik ah, ga asik."

Baru beberapa langkah, aku berhenti.
Tunggu, mobil itu parkir di rumah Dakochan yang lama. Setahuku, rumah itu tidak dijual dan hanya menjadi rumah kosong. Lalu kenapa mobil itu ada disana?
Kembali diliputi rasa penasaran, aku berjalan kembali ke arah mobil itu. Kutinggalkan rumah belum dikunci, rasa penasaranku lebih besar. Pelan-pelan kuintip kaca jendelanya, tapi tidak ada orang. Dengan nekad akhirnya aku memasuki rumah Dakochan yang seharusnya kosong itu. Dan benar saja, pintunya tidak dikunci! Dengan hati-hati aku membuka pintu dengan sebelumnya tengok kanan kiri memastikan tidak ada orang lain yang melihat.
Dan ketika aku masuk, tiba-tiba saja sebuah tangan membekap mulutku dari belakang. Siapa itu?

"Sssstt, diem, ini aku!"

Ini aku? Aku siapa? Siapa orang ini? Dari suaranya aku tahu dia wanita.

"Rain-kun, klo aku lepasin, kamu jangan teriak ya!"

Rain? Dia tau namaku? Tapi bukan itu masalahnya. Hanya satu orang yang selama ini selalu memanggilku dengan Rain-kun. Tapi dia kan...

"Dakochan!" aku berbisik sepelan mungkin.
"Kok? Bisa? Disini?" dengan kaget dan terbata-bata aku bertanya.

"Haha..jangan teriak bukan berarti harus bisik-bisik kan", dia tersenyum.
"Rain-kun! Aku kangen!" tiba-tiba dia memelukku begitu saja. Aku terperanjat tidak percaya, dan seketika jantungku berdetak sangat kencang. Wajahku memerah.

"Bu-bukan itu masalahnya", aku yang salah tingkah langsung melepaskan tangan Dakochan dari pundakku. Sial, padahal sebenarnya aku ingin terus berpelukan!!!!
"Ngapain kamu disini? Maksudku, kok bisa disini? Kamu kan harusnya lagi syuting film baru toh? Kabur ya?"

"Hhhh..." dia menghela napas panjang sembali melemparkan tubuhnya keatas sofa.
"Aku cape, pengen istirahat dulu sebentar. Aku pikir disini ga akan ada yang ganggu. Orang-orang juga pasti ga akan ngira aku bakal kabur kesini. Yang mereka tau rumah ini kan udah kosong."

Ah, apa boleh buat, pikirku. Memang kasihan juga melihat Dakochan yang seperti sekarang. Kerja dan kerja, begitulah kesehariannya. Bahkan setahuku, media pernah berkata untuk masuk sekolah 4 hari dalam seminggu pun sangat sulit, karena saking padanya kesibukan Dakochan.
Aku duduk di sampingnya.
"Terus ga ada yang nyariin?"

"Ngg, pasti ada sih. Tapi tau deh mereka nyari kemana. Tapi sayang juga ya aku pindah. Padahal kan lebih enak tinggal disini bareng kamu. Klo di tempatku yang baru, mereka ngedeketin cuma ada maunya aja, muka manipulasi semua".

Ba-bareng aku? Ga salah denger nih?!
"Tapi ga kerasa ya kamu udah pindah 4 taun. Ngg, kita sekarang 17 taun, berarti kamu pindah dari umur 13 ya".

"Iya, dan udah 4 taun juga aku mesti hidup membosankan kaya gini".

"Manja banget, itu kan resiko!" aku menimpali.

"Ngomong-ngomong manja, inget ga waktu umur 8 taun pas kita maen di taman? Waktu itu kan lagi ada pembangunan, trus ga sengaja tangan aku kena paku terus berdarah. Terus....terus kamu ngisep tangan aku, biar darahnya ga keluar lagi, bilang aku jangan nangis. Klo diinget lagi, waktu itu aku manja banget.

Bagaimana mungkin aku bisa lupa? Saat itu, aku juga berjanji akan terus melindungi Dakochan, menjaganya agar tidak menangis lagi. Tapi klo dipikir sekarang, rasanya itu janji konyol anak-anak yang dengan polos bisa terucap. Tapi bagaimanapun juga, janji tetaplah janji, dan aku akan menepatinya.

Dia mengubah posisinya dari tidur menjadi duduk. Sekarang posisi kami sejajar, sehingga aku bisa melihat matanya yang begitu indah memandangku dengan tulus.
"Untung aku punya kamu, Rain-kun", kata-kata itu menelusup begitu dalam, membuat alian darahku berdesir kencang.
Perlahan wajah kami saling mendekat.
"Aku juga beruntung punya bidadari secantik kamu," sembari berkata demikian, wajah kami semakin mendekat. Sangat dekat, sampai aku pun bisa mendengar setiap hembusan nafas yang keluar dari mulutnya.
Akhirnya, bibir kami bertemu. Tapi baru saja sejenak, aku langsung menjauh dan membuang muka.

"Maaf", hanya itu yang bisa aku katakan.

"Kenapa?"

"Kenapa? Kamu liat dong siapa aku. Aku cuma anak SMA biasa. Nah kamu? Kamu digilai banyak orang! Kamu dicintai semua orang. Egois klo aku pengen milikin kamu sendiri", dengan nada sedih aku berkata.

"Terus kenapa? Sebanyak apapun orang yang cinta sama aku, tapi hati aku tetep cuma ada satu. Dari dulu kamu udah tau kan perasaan itu buat siapa?" Dakochan membelai wajahku dengan lembut.

"Itu dia masalahnya. Dari awal ini udah salah. Kita masing-masing tau klo pada akhirnya perasaan itu ga bakal bisa bersatu sampe kapanpun!"

"Maksud kamu apa? Kamu lupa sama janji kita? Dulu aku janji bakal jadi pengantin kamu, dan kamu janji bakal jagain aku."

"Itu dia Dakochan. Kita ga bisa jadi pengantin. Siapa yang bakal jadi mempelai pria? Apa pernikahan bisa terjadi klo kedua mempelai itu wanita?!" sedikit emosi aku berkata.

"Huh..mungkin kamu bener. Itu cuma janji bodoh yang diucapkan dua anak bego yang ga tau apa-apa. Itu cuma janji yang ga penting", Dakochan bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah tangga, pergi tanpa bisa dicegah olehku yang merasa bersalah.

Ah, bego! Kenapa aku harus berkata seperti itu?! Kalau saja dia tahu, aku sangat ingin menyentuhnya. Tapi aku tidak bisa! Aku tidak pantas untuk orang sesempurna dia. Aku tidak pantas...
Mungin sebaiknya aku pulang saja, pikirku. Lalu aku menaiki anak tangga, mencari Dakochan untuk berpamitan. Dan benar saja, rupanya dia sedang ada di kamarnya yang dulu, meringkuk disana sendiran. Aku jadi tidak tega.

"Maaf lagi. Aku ga bermaksud nyakitin kamu. Aku cuma..." kata-kataku terhenti disana.
"Aku cuma mau pamit. Maaf udah ganggu kamu."

"Tunggu!" dengan segera Dakochan menubrukku daribelakang, memelukku dengan erat.
"Aku ga peduli kamu mau bilang apapun. Kamu mau benci sama aku juga terserah. Tapi yang jelas aku mau ngelakuin hal yang udah lama aku tahan. I wanna touch you.." dia membisikkan kalimat terakhir dengan lembut. Setelah itu dia mulai mencium bibirku.
Aku mulai membalas ciumannya dengan perlahan, takut menyakiti bibirnya yang semerah buah ceri. Aku memeluknya, merasakan tiap lekuk tubunya yang sangat sempurna. Tak pernah kubayangkan hal seperti ini akan terjadi.

"I wanna touch you too.." kubisikkan kalimat itu sambil membimbingnya ke arah kasur. Perlahan tapi pasti, kami mulai melucuti pakaian satu demi satu. Dan akhirnya kami menghabiskan malam itu di rumah ini, rumah yang menyimpan sejuta kenangan antara aku dan Dakochan. Disana akhirnya aku bisa bersama seorang bidadari yang selama ini tidak bisa tersentuh...

[ FIN ]

Parah, cetek banget cerita na.
Ma-maaf Dakochan, aku ga bisa bikinin kamu cerita yang lebih berseni ORZ
Lagi miskin ide :(

Friday, July 10, 2009

Harem

Friday, July 10, 2009 15 Comments Stored
Ini adalah kumpulan harem saya baik dalam versi asli maupun versi manusia. Tapi karena saya nggak bisa menemukan versi manusia yang cocok ditambah malas mencari dan karena saya yakin nggak ada yang mau liat daftar harem yang segitu panjang, jadi saya hanya akan menampilkan beberapa saja, inipun bisa dibilang harem saya dari terdahulu (bukan harem baru). Lagian aku bukan tipe orang yang bisa dengan gampang suka sama seseorang dan klo sekali na suka pasti bakal lama *penting?*

Versi manusia nggak didasarkan sama kesamaan pisik, sipat, atau apapun lah. Ini murni selera pribadi ~(-_-~)

* For me, this is my princess ~uguuu Dx...*
* Blue-haired princess and Blue-eyed princess *



*Dakochan princess style, Dakota Fanning Rapunzel *



* This is me xD *



* This is the calm-hearted-but-warming-handsome-guy *



* Ini is Secchan dan Secchama Dx *



* Nggak ada cowo yang lebih belagu daripada Kutcher, but in the same time he looks so cool, just like Dante :D *



* Ciaaaat!!! Style action mereka keliatan so close --' *



* Curarpikt is Nao?! *



* My Juliet..I mean my Julia. Good girl goes bad *



* Sangat, bahkan terlalu mirip. Wajah na, sifat na, gothic na, misterius na, a-aura na =,= *



* The Knight >_< *



* Dan tentu saja...(takut digebugin klo versi manusia na diganti (-_-!!) *


Sunday, July 5, 2009

Award?

Sunday, July 05, 2009 6 Comments Stored
Buat aku, award itu nggak penting. Mungkin buat kalian yang gila banget blogging itu sesuatu yang penting, n bangga klo bisa didapetin. Tapi karena aku nggak begitu suka main blog dulu sih iya, tapi udah bosen, jadi na ya nggak penting --'
No offence loh. Ini cuma masalah selera aja. Aku juga nggak nolak klo ada yang ngasih award, seneng malah. Mungkin itu berarti blog yang sepi dan garing ini masih bisa sedikit diakui. NYEH!
Aku dapet award dari Akane, dan bukan cuma satu. Eh award na diambil semua kan?
Jangan heran kenapa blog tampang begini bisa dapet award, soal na Akane sendiri ngebagiin award na nyasar-nyasaran ~(-_-~)
Syukurlah, dengan begini setidak na blog ini bisa sedikit terkenal (emang ngefek?). Holyshit!!!







Panjang na..
Banyak na..
Ditambah aku harus nulis balik syarat-syarat penerimaan award na --'
Like hell I'd happy did it! Hey no offence ya, hanya mengeluh saja.
Ah, malas na -_-!!
Tapi kebeneran lagi gada postingan, jadi sekalian update blog xD
Sekalian deh, ini ada award dari aku. Klo mau silakan pajang, klo ngerasa merusak pemandangan ya jangan..



Ga ada syarat khusus buat award aku yang itu. Itu award dikasih buat orang yang udah pernah mampir kesini aja. Jadi jangan disebarin balik ke yang lain, karena award itu cuma buat orang yang udah pernah mampir kesini aja. Ah, I said it twice ~(-_-~)

Aku ga punya banyak temen blogger, jadi yang dikasih yang ada di blog roll aja. Dan orang-orang yang secara acak dan malas terpilih untuk juga mendapatkan semua award diatas (termasuk award dari aku) adalah..
  1. Secchama * hope she'll check this post. Ah, impossible Dx *
  2. [R]adzied
  3. Raven
  4. Patty
  5. Reb Black Underlabel
  6. Shinobu
  7. Itox *WP boleh ga?*
  8. Ritchu
  9. Maya
  10. Qent

E, to..buat award dari aku ditambah satu sama Akane. Sekalian pengumuman deh, sekarang blog ini udah ada banner affiliate. Asli na liburan sekarang ini membuat malas bergerak, mandi saja 3 hari sekali. Well, meski dihari sekolah biasa pun saiaa mandi 2 hari sekali, tapi tetap saja rasa na saiaa tambah malas. Jadi buat banner pun saiaa malas bikin yang banyak ceta, cuma icon SELain aja. Pasang banner saiaa ya you guys >_<

[L]ain Disconnected © 2008 - 2016 | Powered by Blogger | Read Disclaimer

Back To Top