Thursday, October 6, 2011

Day 13 : Cahaya

Thursday, October 06, 2011
"Namaku FragiLe Carpenter. Mulai hari ini aku akan menjadi teman sekelas kalian. Mohon bantuannya", dia membungkukkan badan.

"Hei-hei!" seorang murid laki-laki mengacungkan tangan.
"Tidakkah kau terlalu tua untuk menjadi anak kelas 11? Kurasa usiamu melebihi kami."

"Itu. Sebenarnya usiaku saat ini 18 tahun. Jauh lebih tua 2 tahun dari kalian yang mungkin kebanyakan masih berusia 16. Dua tahun lalu kedua orangtuaku meninggal. Sejak saat itu aku tinggal di panti asuhan dan sekolahku jadi terbengkalai. Baru tahun ini aku mendapat kesempatan untuk melanjutkan sekolah."

"O-oh, maaf, aku tidak tahu", murid laki-laki tadi sedikit kecut.

"Tidak masalah", FragiLe tersenyum ramah.

"Nah", wali kelas yang sedari tadi berdiri disamping Fragile mulai berbicara.
"Itu Keira Way. Dia ketua kelas 11-4 sekaligus ketua OSIS SMU Siegfried. Kalau ada yang ingin kau tanyakan seputar sekolah, dia yang paling bisa diandalkan", sang pak guru menunjuk bangku Keira. Orang yang ditunjuk langsung berdiri dan balas menyapa.

"Salam kenal. Namaku Keira Way. Tak perlu sungkan jika kau butuh bantuan."

"Terima kasih. Mungkin aku akan sering merepotkan", FragiLe terkekeh. Setengah becanda.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


"Hei FragiLe, badanmu kekar ya!" sekumpulan murid wanita berkerumun di bangku FragiLe, di pojok kelas. Mebuat jam istirahat saat itu lebih gaduh dari biasanya.

"Ahaha, iya. Aku sering melakukan banyak pekerjaan berat di panti asuhan. Jadi ototku terbentuk secara otomatis. Mungkin. Haha", FragiLe melayani semua pertanyaan para wanita cerewet itu dengan sabar.

Sementara itu...

"Kau tidak lapar? Ayo ke kantin. Hari ini ada chocolate cake", Keira bersiap menarik tangan Abby.

"Hah? Apa?" Abby yang sedari membenamkan kepalanya sedikit menengok.

"Menu favorit kita, kau ingat?! Perlu kuperjelas? M.A.K.A.N!!!!" Keira berteriak, dan ini membuatnya kembali memperagakan gaya favoritnya ketika mengomel didepan Abby: bercacak pinggang sementara satu tangannya menunjuk-nunjuk wajah Abby.

"Aku tidak lapar", Abby kembali membenamkan wajahnya.

"Oh Tuhan. Kali ini aku benar yakin ada sesuatu yang tak benar dalam kepalamu. Satu-satunya obat mujarab untukmu adalah makan! Ayo cepat!" Keira menarik paksa tubuh Abby dan bergegas menuju kantin.

Sementara FragiLe yang sedari tadi diam-diam memperhatikan mereka berdua mulai membuntuti.
"Maaf semuanya. Aku lapar, aku ke kantin dulu. Bye."


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


"Hei, kalian!"

Abby dan Keira menengok.

"Maaf, kalian mau ke kantin? Bisa pergi bersama? Aku belum tahu tempatnya."

"Tentu. Tak masalah", Keira menepuk pundak FragiLe.

"Terima kasih, Keira."

"Cukup panggil Kei."

"Maaf. Terima kasih, Kei. Ah iya, kita belum berkenalan, kan? Aku FragiLe", dia menyodorkan tangannya pada Abby.

"Uh? Oh. Abby Gale", Abby membalas jabatan tangannya.

"Ack!" tiba-tiba FragiLe tersentak dan mencabut tangannya dengan kaget.

"Hah? Kenapa? Aku kan tidak memasang alat kejut listrik atau benda iseng semacamnya di tanganku", Abby terheran.

"Ti-tidak. Bukan apa-apa. Maaf."

"Yasudah. Ayo ke kantin", Keira mendorong mereka berdua dari belakang.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


"Maaf menunggu. Antriannya panjang sekali. Sebagai tanda perkenalan, kali ini aku yang traktir", FragiLe meletakkan dua piring berisi chocolate cake ke atas meja.

"Wow, gratisan! Terima kasih FragiLe", Keira langsung menyambar sendok dan menyantapnya.
"Ngg, FragiLe. Kau masih tinggal di panti asuhan?"

"Sudah tidak. Sekarang aku tinggal dengan adik kandungku di sebuah rumah sederhana. Dia tipe orang yang tidak betah tinggal di tempat semacam panti asuhan."

"Kau punya adik?"

"Tentu."

"Dia pasti mirip sekali denganmu ya."

"Banyak orang yang bilang begitu. Haha, tentu saja, bukan? Kami kan saudara kadung."

Abby yang tengah menyantap kuenya dengan perlahan tanpa semangat diam-diam memperhatikan FragiLe mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kulitnya coklat. Matanya pun coklat. Wajahnya nampak tegas namun ramah. Lama Abby perhatikan, samar-samar dia teringat akan satu sosok yang berperawakan mirip dengan FragiLe.

"Uhuk!" Abby tersedak.

"Kau kenapa?" Keira menepuk-nepuk pundak Abby.
"Kalau makan itu pelan-pelan! Dasar rakus!"

"Ti-tidak. Sudahlah, aku tidak nafsu makan. Kau saja yang habiskan", Abby bangkit dari kursinya dan pergi.

"Kau mau kemana?" Keira berteriak.

"Ruang kesehatan. Tidur. Maksudku, mag ku kambuh."

"Kerbau dungu. Makan chocolate cake ini kan bisa mencegah lapar. Mencegah mag juga. Setan macam apa yang membuatnya tidak nafsu makan?"

"Orang aneh", FragiLe terheran.

"Percayalah, hari-hari biasa pun dia sangat aneh. Tapi kali ini, dia sangat aneh. Entah apa yang merasukinya kali ini", Keira geleng-geleng.

"Kelihatannya kau kenal dia sangat baik."

"Kami sahabat sejak kecil."

"Wah, wah! Hobi kalian juga pasti sama kan? Kurasa."

"Tidak...tidak! Aku bukan setan yang selalu kelaparan atau kerbau tukang tidur seperti dia."

"Haha, akrab sekali kalian. Bahkan saling mengejek seperti ini sudah tidak sungkan."

"Cih, akrab. Mungkin belakangan ini iya."

"Belakangan ini?"

"Ya. Aku tidak suka binatang. Kau percaya, gara-gara satu kesalahan bodoh, aku jadi harus ikut mengurusi kucing merepotkan milik Abby."

"Wah, bahkan kalian sampai merawat seekor kucing bersama. Akrab sekali. Lalu kucing itu seperti apa?"

"Huh? Sudahlah, tak penting. Ah ngomong-ngomong jangan bilang pada Luna, Luna Cole, kau tahu sekretaris OSIS yang cantik itu? Ya ya, nanti aku tunjukkan orangnya. Jangan bilang padanya aku tidak suka binatang. Bukannya benci, hanya tidak suka. Kau mengerti kan perbedaannya?"

"Ahaha, baiklah, tak masalah. Mungkin kapan-kapan kau mau bercerita tentang kucing itu. Aku akan sangat senang mendengarnya", FragiLe tersenyum ramah sementara sorot matanya menyiratkan sesuatu yang licik.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


"Huaaah! Lama sekali! Aku bosan menunggu dirumah terus!" dia bersandar pada sofa merah dan menyilangkan kedua kakinya keatas meja. Dengan malas.
"Besok ijinkan aku ikut ke sekolah. Harus."

"Bocah tengik. Sudah kubilang belum boleh", FragiLe tampak lelah dan langsung menjatuhkan diri pada sofa panjang.

"Lau bagaimana? Bagaimana? Si rambut merah itu?"

"Entahlah. Ada yang aneh pada gadis itu. Ketika aku berjabat tangan dengannya, tubuhku seperti, kau tahu, terkena sengatan listrik atau semacamnya."

"Artinya kau tidak bisa menyentuhnya? Bagus!"

"Kenapa kau tampak senang? Apakan karena..." FragiLe tampak serius dan mengubah posisinya menjadi duduk.
"Efek kalung ini?" FragiLe mengamati kalung kusam yang menggantung di lehernya.
"Dalam kalung ini terdapat sebuah batu emerald jingga yang sudah terisi ZeaL hitam milik penyihir Nymph. Ini membuat keberadaanku tak bisa tercium Sathoclea lain. Sangat gila jika aku menjalankan rencana menyusup ke sekolah demi mengamati si rambut merah dan partnernya -yang ngomong-ngomong bernama Keira Way, mulai sekarang panggil dia Kei, mengerti bocah- tanpa mengantisipasi keberadaan Sathoclea kucing itu. Dia Sathoclea murni Nymph, pasti mudah merasakan keberadaanku. Dengan kalung ini, keberadaanku bisa disamarkan dan kucing itu tak bisa mencium jejakku. Tapi sepertinya api kehidupan dalam tubuh si rambut merah tidak bisa terkecoh, dia mengenaliku. Dia menolak kehadiran ZeaL hitam. Mungkin itu sebabnya aku tak bisa menyentuhnya."

"Tunggu, jangan berbicara terlalu cepat. Kalau kau tidak bisa menyentuh si rambut merah, artinya kau tak bisa menghajarnya. Maksudku, jika kita bertarung dengannya suatu saat. Tapi kuharap kau tidak melukainya."

"Tidak. Menurutku, aku tak bisa menyentuhnya hanya jika aku mengenakan kalung ini. Kau mengerti efek samping tidak? Efek samping penggunaan kalung ini adalah aku tak bisa menyentuh si rambut merah. Sebaliknya, aku bisa menyentuh si rambut merah jika kalung ini kulepaskan dengan konsekuensi, si kucing keparat langsung mengetahui keberadaanku."

"Dan jika dia mengetahui identitas aslimu, dia akan langsung menyerangmu. Dan tanpa ada aku majikanmu, oke, partnermu, maka kekuatanmu hanya akan keluar setengah. Lalu, BAMMM, kau akan hancur berkeping-keping. Intinya, kalah. Begitukah?"

"Justru itu kan, dari awal kubilang mungkin kedepannya kau memang harus berpura-pura menjadi adikku. Lagipula sudah kukatakan -cerita bohong- pada Kei dan Abby -kita panggil saja di rambut merah dengan namanya mulai sekarang- bahwa aku yatim piatu. Kedua orangtuaku meninggal dua tahun lalu. Yang kupunya tinggal satu adik kandung. Kau. Suatu saat ketika aku sudah cukup dekat dengan mereka berdua dan memahami kondisi si kucing, saat itulah kau akan ikut denganku menjadi murid baru SMU Siegfried. Tentu saja kelasmu harus berbeda denganku."

"Demi daging ayam bakar mentega berhias apel! Kau tidak salah bicara kan, anjing bodoh? Aku boleh masuk SMU itu -dan bertemu Abby- ?" dia tampak girang dan langsung meloncat dari sofa.

"Ingat syaratnya baik-baik. Jika kau sudah masuk sekolah itu, jangan pernah berkeliaran seenaknya. Jadilah murid baik-baik yang pendiam dan tidak punya teman juga tidak mencolok dikalangan guru. Jangan ingin menjadi pusat perhatian, jauhi keramaian. Yang paling penting, jangan pernah datang ke kelasku. Abby akan langsung tahu."

"Itu kita lihat saja nanti. Yang terpenting, besok aku bisa langsung kesana?"

"Bukan besok, bocah bodoh! Kau tuli? Nanti, jika aku sudah cukup dekat dengan mereka berdua. Disaat mereka lengah itulah, kau masuk. Dan saat itulah kita serang mereka, saat si kucing tidak ada didekat mereka."

"Kapan itu kapan?" Kapan-kapan?"

"Entahlah. Aku tidak bisa semudah itu mendekati mereka, terutama Abby. Kurasa dia tipe gadis remaja yang saat ini sedang dalam masa-masa sulit. Dia tampak depresi hari ini. Sulit mengorek informasi darinya."

"Biarkan aku yang melakukannya. Aku pasti bisa!"

"Shit. Jangan buat aku mengulang semua penjelasan tadi. Jangan sekarang!"

"Oke-oke. You jerk", dia kembali terlihat malas dan menyilangkan kedua kakinya keatas meja.
"Adik kandung? Apa aku harus memakai nama belakang yang sama denganmu juga?"

"Namaku disekolah FragiLe Carpenter."

"BAHAHAHA. Carpenter! Apa tidak ada nama yang lebih bagus?!" dia tertawa terbahak-bahak sampai memukul-mukul meja saking gelinya.

"Cih!" FragiLe membuang muka. Nampak sedikit malu.
"Aku tidak punya nama belakang. Semua Sathoclea begitu. Hanya itu yang terpikirkan."

"Carpenter. Itu aneh! Aku tidak mau nama belakangku diganti."

"Kalau begitu kau setuju tidak masuk ke sekolah itu."

""Oi...oi...baiklah, baiklah. Lagipula kau ini idiot, lendir bau. Kenapa harus bilang punya adik? Bisa saja kan aku masuk ke sekolah itu menjadi orang lain yang tidak kenal siapa kau."

"Lebih mudah bagiku untuk mengawasimu jika aku bilang kau adikku. Aku bisa langsung mengusir siapapun yang mendekatimu, atau menyeretmu dari keramaian untuk mencegahmu melakukan seuatu yang bodoh didepan umum."

"Otak kacang!"

"Cukup hari ini. Aku lelah bertengkar. Aku ingin istirahat. Pergi kau bocah bodoh!" FragiLe menendang tubuh gadis itu dan dia langsung terjembab ke lantai.

"Hei! Sopan sedikit, anjing keparat!"

"Aku ingin tidur. Pergi ke kamarmu sendiri, majikanku tersayang", FragiLe langsung membalikkan badan dan terlelap.

"Shit!" gumamnya.
"Namaku diganti ya..." gadis itu bangkit dan mengusap-usap kepalanya.
"Carpenter..." dia berjalan ke arah kamarnya.
"Berarti mulai sekarang namaku Neon Carpenter, bukan Neon Eclaire IgnieL", diapun menghilang dibalik pintu.


[ FIN ]


judul chapt nggak nyambung sama cerita ya, minna x3.gif
ngg, ano, itu karena di chapt ini saya buka nama si gadis misterius buat pertama kali

Neon = cahaya
Eclaire = cahaya (French)



10 Comments Stored:

  1. wuih, panjang yah ceritanya.. hahaha.. sampe keselek bacanya. (loh?)

    duuh maap ya [L], lama ngga mampir dimari.. lagi sibuk ceritanya. hehee

    ReplyDelete
  2. Ini model novelet ya.... puanjang. hehehe...

    Btw, salam kenal ya...

    ReplyDelete
  3. Eh in, gue perhatiin di nama fragiLe, "L" nya pasti gede. Lu suka tuh huruf bukan? :D :D

    ReplyDelete
  4. kok udah sampe day 13 aja, walaaahh ketinggalan jauh.. tapi tokoh ini mengingatkanku pada seseorang Lain, kenapa harus pake nama Carpenter?? hahahahaha.. sorry baru bisa kesini, soalnya baru bisa komen di model kotak komentar yang kayak gini.. :D

    ReplyDelete
  5. eh itu panti asuhan ato gym rain? hehehe

    ReplyDelete
  6. Kan ada unsur2 cahaya, jadi ya disambung2in... beda halnya kalau cerita tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan judul yang dimaksud hehehehe...,

    ReplyDelete
  7. [L], mau bikin novel ya?? kereeeen, bs buat cerita sepanjang ini, aku mah bs ngos2an duluan keknya qiqiqiqi

    ReplyDelete
  8. Wuiiisss nama SMA-nya Sigfired.. eh, Sigfried. Nama salah satu tokoh dari 108 karakter di Suikoden 2. :)

    ReplyDelete
  9. wah keren!!
    itu sih fragile cewek kan??
    hmm..
    terus partner nya ntu ternyata cewek juga..

    wah wah..
    ternyata abby bisa merasakan keadaan si fragile..
    yaiya lah.. dah ciuman kan mereka??
    hha

    ReplyDelete
  10. oh kayak novel2 fantasi. dari nama2nya sih.

    ReplyDelete

[L]ain Disconnected © 2008 - 2016 | Powered by Blogger | Read Disclaimer

Back To Top