Tuesday, March 15, 2011

Marry Me? (Marimite Fic) *abal banget*

Tuesday, March 15, 2011
Setelah sekian lama, akhirnya bikin fic lagi. Tapi otak udah tumpul, saking lamanya ga bikin fic. Jadilah karya abal ini.
Terkesan maksa banget *dan memang iya* karena sebenarnya ini tuntutan job review. *matre*
Tidak tahu harus menulis apa, jadi disambungkan dengan fic sadja =A=

Maaf ya menghubungkan fic dengan job review *minta dikuliti hidup-hidup*

Fandom: Maria-sama Ga Miteru *serial shoujo-ai sepanjang masa*



***************************



"Yumi-chaaaan!" hap, dengan sekali lompatan Sei Satou memeluk Fukuzawa Yumi dari belakang. Kontan saja itu membuat Ogasawara Sachiko merengut.

"Aku tidak bisa bernapas, Sei-sama," Yumi berusaha melepaskan pelukan Sei. Nampan teh yang dipegangnya hampir saja jatuh saking kagetnya.

"Hentikan Sei-sama. Tidak sopan", Sachiko menyembunyikan wajah cemberutnya dengan meminum secangkir teh yang baru saja disiapkan Yumi.

Ekspresi itu membuat sifat jahil Sei makin menjadi. Dia menggoda Yumi lebih hebat, membuat Sachiko tambah cemburu.
"Tidak apa kan? Yumi-chan butuh Onee-sama yang bisa memanjakannya seperti ini", Sei mendekatkan wajahnya pada Yumi, hampir mencium, sedangkan sang Rosa Chinesis en Bouton Petit Soeur yang malang berontak sekuat tenaga.

Ditengah pergumulannya, Yumi bisa melihat ekspresi Onee-samanya. Kekesalan dari Kuudere itu tampak jelas. Wajahnya merah padam. Dasar sok cool, dia tidak melakukan apa-apa kecuali menyeruput tehnya sampai habis.

"Ng, ano, Sei-sama...." Yumi menunjuk Sachiko.
Sei mengerti.

"Kau payah Sachiko!" Sei melepaskan pelukannya.
"Melihat soeur-mu diserang orang lain malah diam saja."

"Haruskah aku melakukan sesuatu?"

Kalimat yang cukup membuat Yumi kecewa.

"Tentu saja! Kau Onee-samanya kan?"

"Kuperingatkan pun kau pasti melakukannya lagi." ucapan Sachiko sangat datar.

"Iya sih. Tapi setidaknya jangan seperti itu. Yumi-chan ku yang manis jadi sedih."

Sachiko melirik Yumi. Dia diam. Mereka hanya bertukar pandang tanpa berkata apa-apa.

Yumi memang hapal sifat Onee-samanya yang seperti ini dan sudah terbiasa. Tapi tetap saja, kecewa.

"Tuh kan, bukannya menghibur. Kalau begini terus lama-lama akan kurebut Yumi-chan," Sei kembali memeluk Yumi, menggelitiknya.

"Dasar setan tukang peluk!" Yumi sedikit tersenyum. Meski Sei adalah Sekuhara Oyaji, baginya Rosa Gigantea itu adalah orang pertama yang akan datang menghibur jika dia stres dengan sikap cool Onee-samanya.

"Siapa tahu beberapa tahun lagi undangan pernikahanku dan Yumi akan disebar."

Cukup. Kalimat undangan pernikahan barusan adalah puncaknya. Sachiko berdiri dari kursinya dan menarik tangan Yumi dengan keras.

"Dia milikku!" Yumi tersentak kaget.
"Undangan pernikahan? Hal bodoh apa itu? Kau tidak berhak apa-apa atas dirinya!" Sachiko mendekap Yumi dalam-dalam dan memberikan death glare pada Sei.

Tertegun.
Yumi masih tidak percaya yang dilakukan Onee-samanya.

"Aku Rosa Chinesis en Bouton dan akulah yang berhak atas Soeur ku." Sachiko meradang.

Sei terbahak-bahak.
"Tidak perlu seserius itu kan? Sesekali kau harus rileks. Dan kau juga harus sering menyerang Yumi."

"Lagipula, Sei-sama, kau sudah punya soeur-mu sendiri. Kenapa tidak perlakukan Rosa Gigantea en Bouton seperti kau perlakukan Yumi? Pernahkan kau menggodanya seperti barusan? Menyerang Yumi, apa kau juga pernah menyerang Shimako-san?"

Sei tercekat, tapi masih bisa tersenyum. Dia tidak tersinggung perkataan Sachiko. Hanya saja ketika seseorang mengatakan suatu kebenaran tentang dirimu yang belum kau sadari, kau akan cukup terhantam.

"Memahami perasaan Yumi? Apa kau sudah bisa memahami perasaan Shimako-san?" Sachiko melanjutkan serangan verbalnya.

"Onee-sama," Yumi menekan jari telunjuknya pada bibir Sachiko, membuat gadis berambut biru panjang lurus itu menghentikan ucapannya.
"Gomen nee, Sei-sama. Onee-sama tidak bermaksud."

"Tak apa Yumi-chan. Aku tahu sifat Onee-samamu yang galak ini kok. Tidak usah dipikirkan", Sei menyeringai.
"Omong-omong aku jadi ingin bertemu Shimako. Dimana ya anak itu? Akan kucari," Sei beranjak dan pergi meninggalkan Yamayurikai.
"Oh ya, sampai kapan kalian akan berpelukan seperti itu? ucap Sei sebelum membuka pintu dan menghilang.

Siiingggg~
Suasana di ruangan itu langsung hening. Sachiko tidak tahu apa yang harus dilakukannya setelah ini. Dasar seme tidak berpengalaman.
Dan Yumi, dia lebih memilih menikmati momen langka itu daripada banyak bicara. Dasar uke yang tidak pernah diserang.



**********************************


Ucapan Sachiko terus berputar dalam kepala Sei. Itu cukup membuatnya merasa bersalah pada Shimako. Dan dia tidak tahu harus kemana mencari gadis itu. Atau mungkin dia tahu.

Dibawah pohon sakura. Tempat Sei memberikan rosario, menjadikan Shimako soeur-nya. Dan dia memang ada disana. Duduk dibawah pohon sakura yang berguguran.

"Sedang apa?" Sei duduk disamping Sachiko.

"Onee-sama", Shimako sedikit kaget akan kedatangan Onee-samanya yang tiba-tiba.
"Umh, bukan apa-apa", ucapnya pelan. Seperti biasa.
"Kenapa Onee-sama kemari?"

"Tidak apa-apa. Barusan aku berhasil lagi membuat Sachiko kesal ketika kubahas tentang undangan pernikahan aku dan Yumi."

"oh", hanya itu yang terucap pelan dari bibir mungil Shimako.
"Undangan pernikahan ya."

Senyum di wajah Sei sedikit padam. Lagi-lagi aku tidak bisa memahami perasaan Shimako! Bodohnya.

"Ah lupakan. Hanya becandaan kecil, seperti biasa", cara mengalihkan pembicaraan yang bodoh.

Tak pernah sekalipun Sei melakukan hal-hal bodoh padanya, seperti yang biasa dilakukan pada Yumi. Apa aku semembosankan itu? Dia selalu iri pada Sachiko dan Yumi. Meski Sachiko tampak gengsi, setidaknya semua orang tahu dia menyayangi Yumi. Begitupun sebaliknya. Jika Sei tidak "menggagalkan pernikahan" Shimako dan Sachiko, apa iya Shimako bisa cocok dengan Sachiko? Sementara keduanya sama-sama pendiam. Lebih baik saat itu aku langsung terima rosario Sachiko-sama saja, mungkin Onee-sama juga akan menjadikan Yumi soeur-nya. Aku, jadi soeur-nya atau tidak sama saja. Hanya Yumi yang Onee-sama lihat.

"Hei, Shimako, kau kenapa?" Sei melambai-lambaikan tanggannya didepan wajah Shimako.

Dia hanya menggeleng.

"Kau ingat hari itu ya? Makanya kau kemari."

"Hari itu. Mana mungkin aku lupa?"

"Aku kemari karena aku ingat kau, Shimako."

"Apa?"

"Tentu saja. Bagaimana kalau kita ulangi kejadian hari itu?"

"Bolehkan?"

"Tentu saja", Sei berdiri menarik tangan Shimako.

"Ulangi sama persis dengan hari itu."

"Umm, baik."

"Kumulai."
Aku memintamu untuk menjadi Soeur-ku. Dan kau harus bersedia. Maukah?"

"Tentu saja, Sei-sama. Aku mau."

"Dan", Sei melepaskan rosario yang melingkar di tangan Shimako. Memakaikannya di leher gadis yang lemah lembut bagai boneka itu.
"Shimako Toudo. Maukah kau menikah denganku?"

"Heh?"


[ FIN ]


TAADAAAMMM!!!
Sangat tak meaning.
*dijotos*



2 Comments Stored:

[L]ain Disconnected © 2008 - | Powered by Blogger | Read Disclaimer