Friday, October 22, 2010

Day 10 : Fitting Room

Friday, October 22, 2010
Kubenamkan diri pada kerumunan gantungan pakaian. Sebisa mungkin tak ingin terlihat oleh mereka dan berusaha mencuri dengar. Sebenarnya aku ingin dilihat oleh si nona manis. Berhubung dia bersama partnernya, bisa-bisa dia memberitahu temannya itu bahwa akulah pemilik Sathoclea anjing itu. Kalau sampai terjadi, aku malas mendengar ceramah FragiLe soal wajahku yang tidak boleh diperlihatkan pada pemilik api kehidupan agar rencana kali ini berhasil. Jadi kutahan keinginanku. Meski sulit.

"Nah, Kei. Aku sudah menemanimu kemari. Jangan suruh aku memilih-milih kostum, itu tugasmu. Aku akan membeli pakaian untukku sendiri."

"Cih. Ujung-ujungnya kau juga berbelanja kan, kerbau dungu."

Ow, memangnya mereka tidak pernah berhenti bertengkar? Kukira hanya aku dan FragiLe saja yang punya masalah seperti ini.
Ah bagus, mereka mulai berpisah. Kurasa sedikit ucapan 'hai kita bertemu lagi' tak masalah. Tunggu sampai wanita berambut biru itu cukup jauh. Bagus, FragiLe juga sibuk memilih pakaian. Wah, aku ingin lihat baju yang dia pilih. Iya, aku tahu, selera berpakaianku memang buruk. Sedikit saran dari si nona manis kurasa membantu.

"Syal ini bagus juga. Punyaku kan sudah rusak dicakar-cakar Nite. Padahal itu syal favoritku, kudapat dari undian dengan susah payah. Percuma saja waktu itu mengumpulkan kaleng cola jika hasilnya malah hancur. Ah, Nite."

Hoo..
Dia menghela nafas. Jadi nama kucing Sathoclea itu benar Nite ya? Darimana si lendir bau tahu? Kukira dia hanya anjing bodoh.

"Tidak juga. Untung si manusia yuri suka minum cola. Aku tinggal minta kaleng cola darinya saja. Yang susah itu memintanya. Dasar pelit, kaleng kosong begitu malah dijadikan koleksi. Bodoh. Tak akan membuatmu kenyang."

Menarik.
Bahkan ketika kau ngedumel masih kelihatan lucu, nona manis.

"Tapi sepertinya aku belum butuh. Kuyakin jika kubeli, syal ini akan bernasib sama dengan yang sebelumnya -ditangan Nite-. Ya, beli baju saja. Jaga-jaga jika bajuku banyak yang robek karena Nite.

Ack, dia berjalan kearahku. Jangan sampai aku terlihat.
Belum boleh.

"Baju orange ini boleh juga. Yosh, ini saja. Nah, kucoba di fitting room dulu."

Oh, jadi syal ini tidak jadi kau beli?
Padahal kelihatan bagus. Hmm, aku lupa kalau selera berpakaianku buruk. Mungkin ini tidak bagus.

Aku mengendap mendekati fitting room, memastikan baik FragiLe maupun si rambut biru tak melihat.
Bagus.
Sejauh ini mereka tidak terlihat, tertutup jejeran baju.

"Aku masuk...."

'Kya!!!" sebuah suara berteriak kecil.

"Ah, kukira yang ini kosong. Maaf, aku tidak tahu. Hee? Hahaha, kau nona manis? Kebetulan sekali", dengan sengaja aku masuk dan menyapa si nona manis dengan tampang polos.

"Kau? Ja-jangan mendekat! Kalau sudah tahu, keluar sana", dia yang baru saja membuka setengah bajunya, spontan memakainya kembali.

"Ah, bahkan salam pertemuan saja belum kau ucapkan", sengaja aku berjalan mendekat.

"Tak penting", dia menjauh, menyudutkan dirinya sendiri diruangan sempit ini.

"Hmm, kau sakit? Kenapa wajahmu merah?" kusentuhkan keningku pada keningnya.

"Tidak!" dia menjauhkan wajahnya.

"Wah, bahkan wajahmu semakin bertambah merah", aku tersenyum simpul.

"Hei, jangan tersenyum seperti itu lagi. Itu membuatku, membuatku......"

"Lagi?"

"Bu-bukan! Pokoknya cepat keluar!", dia mendorong punggungku.

"Tunggu, nona manis", aku berkelit dan langsung memeluk pinggangnya dari belakang.
"Lagi? Memangnya kita pernah melakukan ini dimana? Dalam mimpikah? Hm?", aku tersenyum kecil disamping telinganya.

"Jadi yang waktu itu..."

"Yang waktu itu apa ya? Jangan-jangan kau bermimpi tentangku ya? Wah, kau nakal juga", semakin kueratkan pelukanku. Kuletakkan daguku pada pundaknya dari belakang.

"A-aku tidak...." dia semakin gagap.
"He-hei! Kau menguntit kami ya? Mau apa kau, bertarung? Maaf saja, tidak ada jadwal pertarungan hari ini. Sathoclea ku sedang sibuk", dia mengalihkan pembicaraan.

"Begitupun aku. Hari ini aku datang khusus untuk menemuimu."

"Bisa terlihat dari caramu sembarangan masuk fitting room tanpa membawa baju. Ini memang sengaja."

"Setidaknya aku membawa ini", kulingkarkan syal yang tadi kuambil pada leher kami. Membuatnya terpaksa berpaling dan wajah kami saling berhadapan. Bahkan sekarang wajah kami jauh lebih dekat dari sebelumnya. Sedikit saja bergerak, bibir kami akan bertemu.

"Ceritakan padaku tentang mimpimu. Apakah disana aku melakukan ini?"

Dengan spontan kucium dia perlahan. Dari kaca yang terpasang disekeliling, kulihat dia tampak kaget.

"Apakah itu mimpimu, A-B-B-Y?" sengaja ku-eja namanya dengan nada menggoda.

"Jangan memanggilku seperti itu!"

"Tapi kau suka. Jangan bohong."
"Haha, sedikit-sedikit wajahmu bisa merah ya. Menarik, Abby. Hei, kau mau mencoba baju ini kan? Biar kubantu", kuambil baju orange yang masih tergantung.

"A-apapapapa? Tiiiiidak usah. Aku bisa sendiri."

"Jangan sungkan, biar kubantu."

Dengan paksa kulepaskan baju yang melekat dibadannya. Dia tampak sedikit berontak, tapi aku tak peduli.

"Hentikan, kau orang-aneh-yang-bahkan-belum-memberitahukan-nama!"

"Ou, akan kuberitaku jika aku sudah selesai denganmu", aku tersenyum nakal.


[ FIN ]


next chapt bakal pake english kaya na
nulis adegan eksplisit pake indo aneh =A=
matta ashita =.=



1 Comment Stored:

  1. hua~~~~

    nakal nakal nakal
    :heck:

    abby asik bangetz tuh..
    pasti berdebar² deh..
    hahaha,,,
    aku suka...

    ReplyDelete

[L]ain Disconnected © 2008 - | Powered by Blogger | Read Disclaimer