Saturday, September 11, 2010

Day 09 : Misi Baru

Saturday, September 11, 2010
"Nghhh..."
"Hoam..."
Untuk ketiga kalinya aku menguap dan berusaha untuk bangkit dari tempat tidur. Aku mengucek mata, dan menguap lagi, sembari melirik jam dinding usang yang terpajang di kamarku yang sempit ini.
Jam 9.
Dan aku lapar...


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


"Hoaaaaam..."
Uapan yang cukup panjang. Dengan malas aku berjalan ke dapur.

"Terlambat seperti biasa. Tidak ada makanan untukmu, bocah."

"Apa-apaan itu? Lalu kau pikir kau sedang apa memakai celemek bututmu itu? Memasaklah untuk majikanmu yang baik hati ini seperti biasa, anjing bodoh."

"Tidak ada. Aku hanya memasak untukku sendiri!"

"Dan aku akan memakan semua makanan yang hanya untukmu itu."

"Terserah", FragiLe terlihat mengaduk-aduk sesuatu. Mencicipinya sedikit dan berkata, "Pas!"
"Sudah seminggu kau tidak mandi. Bisa-bisa banyak lalat mengerubungi makananku. Sana pergi. Mandi kau bocah tengik."

"Kau pikir kau ini apa? Bahkan anjing jauh lebih bau dan jorok, bodoh. Kau yang harusnya mandi."

Bayangkan ketika Abby dan Keira berengkar. Seperti itulah keadaan mereka berdua. Hanya saja dengan kadar yang lebih kasar.

"Oi, cepat-cepat! Dasar anjing bodoh! Kau tidak mengerti majikanmu ini sudah lapar?" aku mengetuk-ngetuk piring dengan sendok dan garpu.

"Berisik bocah! Kalau ingin cepat, bantu aku mengangkat masakan ini ke meja makan. Atau masak sendiri sana."

"Bawel. Sudah sepantasnya hewan peliharaan melayani majikannya. Sekarang cepaaaat! Perutku sudah tidak bisa diajak kompromi!"

Dan setelah begitu banyak teriakan dan protes, akhirnya kami bisa makan (yang omong-omong mejanya sudah patah karena kayunya lapuk tapi kuperbaiki) dengan berisik dan rakus.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


"Ah....kenyang!" aku mengusap-usap perutku yang tampak buncit.
"Seperti biasa, cuci piringnya, FragiLe sayang", sekarang aku mengorek-orek gigi, memastikan tidak ada sisa makanan yang tersempil.

"Memangnya aku apa, pembantumu? Bereskan sendiri!"

"Ah...FragiLe sayang yang bodoh, terimalah nasibmu sebagai hambaku."

"Kubunuh kau bocah!"

Meski anjingku selalu protes seperti itu, toh tetap saja dia selalu melakukan semua urusan rumah tangga meski sambil mengomel.
Bawel.

"Hei bocah. Sudah waktunya kita membahas rencana yang kemarin. Kurasa hanya itu satu-satunya cara agar kita bisa mendekati si rambut merah. Lagipula dia belum mengetahui wujud manusiaku. Kurasa ini akan berasil", ocehan FragiLe dimulai setelah dia selesai mencuci piring dan kami duduk-duduk santai di meja makan.

"Hei-hei. Perutku masih penuh. Itu membuatku malas berpikir. Tunggulah sampai semua makanan ini tercerna dengan baik."

"Tidak ada lagi kata tunggu! Waktu kita semakin sempit! Sathoclea lain sudah mulai berdatangan. Bisa-bisa mereka yang duluan mendapatkan api kehidupan itu! Kita harus bergerak cepat."

"Oke...oke..." aku menjawab dengan malas.
"Setidaknya biarkan aku yang melakukan tugas ini."

"Meski kau memohon dan menjilati kakiku, tak akan kubiarkan. Dewasalah! Kuyakin kau hanya akan bermain-main jika kubiarkan melakukan ini."

"Oi, yang majikan disini kan aku. Kenapa kau yang mengatur."

"Karena pikiranmu masih seperti bocah bodoh, bodoh! Memangnya kau punya rencana lain yang lebih baik? Kurasa tidak."

"Hmm..." aku bersungut.
"Memang tidak ada", kuletakkan kedua tangan dibelakang kepala.
"Tapi rencana ini keliatan seru. Cukup pintar meski keluar dari otakmu yang kecil. Ah, kita lakukan berdua saja!"

"Kubilang tidak! Otakmu memang lebih besar dariku, manusia sialan. Sayang isinya kosong. Kalau saja kau tidak dengan sengaja memperlihatkan wajah didepan si rambut merah, dengan senang hati akan kubiarkan kau yang melakukannya. Kau pikir aku suka melakukan ini? "

"Jangan menggeram seperti itu. Ah, aku lupa kalau anjing memang suka menggeram. Iya baiklah, kau yang lakukan. Dan sesekali aku akan menengokmu."

"Tidak jika kau sengaja menampakkan diri lagi."

"Bahkan jika aku menampakkan diri, kita tidak pernah celaka kan? Lagipula kau keliatan sedikit tua untuk ini. Bocahlah yang dibutuhkan, bukan orang tua kolot."

"Cih. Terserah apa katamu, aku tak akan mengubah rencana", FragiLe berlalu dan melepaskan celemeknya yang nampak basah.
Dan aku, kembali duduk menyilangkan kaki keatas meja dengan malas.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


"Hai nona. Ya ya, aku memang menawan. Terima kasih", aku mengedipkan mata dan memberi ciuman jarak jauh pada dua orang gadis yang sedari tadi memperhatikan aku dan FragiLe yang kini tengah berjalan di pusat kota. Tanpa tahu bahwa kedua gadis tadi sebenarnya memperhatikan FragiLe, terutama bagian perutnya yang berbentuk six-pack menjijikan. Akhirnya mereka memandangku dengan tatapan aneh dan mempercepat langkah.

"Itu menjijikan, dan memalukan. Hentikan bocah."

"Kulakukan semua yang kusuka."

"Dan semua itu memalukan."

"Asal aku suka aku tidak peduli."

"Otak kacang!"

"Lendir bau!"

Grrrr....
Aku dan FragiLe saling menatap penuh kekesalan dan saling mengumpat dengan berisik, tak mempedulikan orang-orang sekitar yang mulai memperhatikan penampilan kami yang aneh. Kurasa ini tidak aneh, mereka saja yang tidak pernah melihat orang berpakaian seperti ini sebelumnya. Bahkan akupun mengerti kalau manusia itu selalu menyebut sesuatu sebagai ABSURD, aneh, atau tidak wajar pada sesuatu yang belum pernah mereka temukan sebelumnya, meski pada kenyataannya sesuatu itu sudah lumrah adanya disuatu tempat lain yang belum mereka tahu.

"Oi, disana toko pakaiannya. Cepat kesana sebelum kita menjadi pusat perhatian lebih lama", FragiLe menarik kupingku dan menyeret ke sebuah toko.

"Itte...itte..." langkahku sedikit jinjit karena diseret.
"Aku bisa jalan sendiri!" kutepis tangan FragiLe ketika kami sampai didalam toko. Dan seperti semua orang diluar tadi, para pengunjung toko ini pun memandang kami dengan tatapan aneh. Kecuali beberapa gadis.

"Sugoi! Kau sedang cosplay ya? Ini cosu original kan? Siapa nanamu? Boleh minta photo bersama?" tiba-tiba segerombol gadis SMA mengerumuni FragiLe dan menjejalinya dengan pertanyaan.

"Nggg, ano, hai para gadis. Pusat perhatian yang sebenarnya ada disini. Silakan foto bersama denganku sepuasnya", yah, teriakanku tidak dihiraukan gadis-gadis itu. Tidak ada salahnya mencoba, kan?
"Yak, stop! Kakakku ingin membeli baju, bukan jumpa fans. Jadi kalian semua minggir. Sebagai gantinya kalian boleh berfoto dengaku."

"Sayang sekali. Ayo kita pergi", mereka bergumam tanpa mempedulikan aku yang sudah menawarkan diri dengan pasrah.

"Akuilah. Aku selalu membantumu lolos dari kepungan para gadis dengan memanggil 'kakak'. Meski itu menjijikan."

"Aku tidak minta ditolong, bocah."

"Ckck, anjing tidak tahu terima kasih. Majikanmu sudah sebegini baiknya..."

"Terserah. Sekarang aku akan memilih-milih baju. Kau juga belilah sesuatu. Bajumu sudah usang."

"Hoho, lihat siapa yang berbicara. Tidakkah kau berkaca kalau bajumu juga sudah usang?"

"Karenanya sekarang aku membeli baju, kan? Sana jauh-jauh. Pilih bajumu sendiri".

"Ya ya. Aku akan menjauh darimu, lendir bau."

Lalu aku berputar-putar, melihat-lihat baju yang kurasa cocok untukku meski dengan malas kulakukan. Sementara FragiLe sedang memilih baju yang pas untuk misi kami kali ini.

Kring...
Bel yang tergantung diatas pintu masuk toko berbunyi, menandakan ada pengunjung lain yang datang. Dengan refleks aku melihat kearah suara berasal.

"Kenapa kau tidak membiarkan dia ikut? Kau mau aku celaka?" sebuah teriakan terdengar dari sana.

"Oh ayolah, kau tidak akan mati meski dia tidak menjagamu kali ini. Lagipula kita kan hanya akan membeli baju, tidak lama", suara lain yang tidak kalah berisik balas berteriak.

"Kau saja yang tidak bisa menolak setiap dia yang minta sesuatu!"

"Lalu kenapa? Bukan salahku jika Luna ingin meminjam Nite sementara kita membeli kostum untuk festival sekolah!"

"Kau lemah! Kau lemah pada Luna, Kei! Dan kenapa aku mesti menemanimu berbelanja? Aku kan bukan anggota OSIS!"

Ah...
Nama yang pernah kudengar...

"Luna sibuk mengatur semua kegiatan yang harus dilakukan, merangkap tugas wakil ketua. Anggota OSIS yang lain juga sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Kau pikir aku ketua macam apa bisa santai seenaknya?! Dan kau, oh ya, tentu saja kau harus ikut karena kau adalah orang yang punya api kehidupan dan aku partnermu. Partner harus selalu bersama."

Wah...
Api kehidupan. Siapa yang berbicara tentang itu?

"Kalimat menjijikan macam apa itu, manusia yuri? Jika saja tadi Luna tidak meminta dengan wajah inosen, 'Oh Abby. Maaf, aku sibuk. Bisakah kau menemani Kei membeli kebutuhan untuk festival sekolah? Kau sahabatnya, bukan? Sebagai gantinya biar aku yang menjaga Nite disini', aku pasti sudah menolak. Tidak, aku MEMANG sudah menolak. Tapi kau dengan bodohnya menjawab, 'Tentu saja dia mau! Iya kan, Abby?' sambil menginjak kakiku dan tersenyum penuh hawa pembunuh. Kau lemah!"

"Kau lebih menyedihkan. Hanya karena belakangan ini sering didatangi gadis misterius dan Sathoclea anjingnya itu kau jadi paranoid. Selalu ingin dijaga Nite. Sebentar saja kucing itu menghilang kau panik setengah mati. Kau lebih lemah, kerbau!"

Sathoclea anjing?
Mereka membicarakan aku?
Siapa itu?

"Kasusku berbeda. Dan alasan untuk itu juga berbobot. Tanpa ada Nite kau pun bisa mati. Kita pertner, ingat? Aku mati, kaupun mati."

Bersamaan dengan itu, mereka masuk kedalam toko sambil terus mengoceh, tanpa bisa kupalingkan pandangan dari mereka karena mereka memang pantas jadi pusat perhatian. Siapa yang bisa berhenti memandangi orang yang berbicara jauh lebih gaduh dari orang-orang sekitarnya?

Seketika wajah mereka terlihat. Tanpa sadar aku tersenyum dengan girang.

Ah...
Nona manis, apa kita memang jodoh?


[ FIN ]


pria setampan dan segagah FragiLe ternyata doyan masak --;
mengurusi semua urusan rumah tangga pula ==;
bahkan saya sendiri sampe kaget =A=



1 Comment Stored:

  1. huahaha
    :laugh:

    teryata fragile ntu cowok to..
    wkwk baru tau aku..
    haha
    terus abby ama kei tau gak ya??
    wah wah
    aku menanti

    ReplyDelete

[L]ain Disconnected © 2008 - 2016 | Powered by Blogger | Read Disclaimer

Back To Top
Iya, yang gua maksud emang Sherina yang itu. Yang mana? Sherina Munaf penyanyi ntuh lah, yang ultra menyilaukan itu. Siapa lagi. Lah emang doski blogger? Ada ceritanya, Jadi gini...
Di satu sisi nyali gua kepancing buat jabanin tantangan itu. Di sisi lain harga diri nggak ngijinin. Setelah pergumulan sengit, harga diri harus ikhlas derajatnya turun dikit dan ngerelain publikasi poto mengenaskan ini.
FYI masih ada aja beberapa blogger yang nggak tau gender gua cewe apa cowo. Nah poto masa kecil ini bakal memperjelas status kelamin gua di KTP. Gini ceritanya.
Gua update status di twitter kaya gini: "Orang yg baca blog saya biarpun sekejap bisa tau aslinya saya dibanding yg udh temenan lama di FB/Twit". Seorang Timeliner merespon "Saya mengenal baik anda dari apa yang anda tulis, you are what you write".
Gua baru sadar ada satu topik yang hampir nggak pernah dibahas di blog ini. Cinta. Selain Dakota Fanning, bisa dipastiin di lapak gua kagak ada satupun yang berhubungan sama cinta.
Ini dia rapper Indie yang tenar gara-gara lagunya yang ngehina salah satu band Indonesia abis-abisan. Sebenernya dia tenar bukan gara-gara lagu itu doang, tapi karena skill rapnya emang nggak bisa dipandang sebelah mata. Dijamin kuping kalian bakal dimanjain sama lirik-liriknya yang nggak murahan.
Banyak banget yang pas pertama kenal, entah itu lewat blog, facebook, forum Nakama, atau cuma selewat liat photo, langsung nanya, "Cewe apa cowo sih?" Pertanyaan yang langsung bikin MALESSSS!!!