Saturday, June 19, 2010

Day 07 : Dream

Saturday, June 19, 2010
Sekolah berjalan membosankan bagi Abby, dan menyenangkan bagi Keira. Abby lagi-lagi melakukan kegiatan rutinnya. Bukan piket kelas seperti yang aku katakan di chapter sebelumnya, tapi mag-nya kambuh lagi dan membuatnya terkapar kesakitan di ruang kesehatan. Ingat ketika kukatakan dia terpaksa bangun pagi? Membuatnya melewatkan sarapan. Seharusnya, bagi Abby, mendapatkan kesempatan tidur sementara Keira -dan teman-teman sekelasnya- terpaksa mengikuti pelajaran yang membosankan adalah hal yang mengasyikan. Lupakan itu. In fact, dia tidak diijinkan menyantap segala makanan yang ia mau.
"Kau sedang sakit", selalu petugas kesehatan mengatakan itu. Siapa yang bisa bilang obat-obatan dengan bau menyengat dan bubur encer adalah makanan yang enak? Meski bisa mengganjal perut, rasa laparnya tidaklah bisa hilang semuda itu.
Abby yang malang...

Aku bisa mengatakan, Keira bersenang-senang diatas penderitaan Abby. Hari itu dia dan Luna mengadakan meeting bersama anggota OSIS lainnya membahas festival sekolah yang diadakan rutin tiap tahun. Dan acara itu akan berlangsung 2 minggu lagi. Sementara Abby berpikir Keira tengah menderita -setidaknya bagi Abby ini derita- mendengarkan celotehan guru, sebenarnya Keira juga tidak masuk jam pelajaran itu. Dia minta ijin untuk rapat OSIS.
Abby yang malang...

Setelah rapat selesai, Keira dan Luna pergi ke kantin bersama untuk makan siang. Sayang, Abby masih terkapar di ruang kesehatan. Padahal hari itu ada menu favoritnya. Chocolate Cake. Yang kebetulan juga menu favorit Keira. Dia dan Luna, bagaimana mengatakannya, saling menyuapi satu sama lain. Murid lain yang melihat itu selalu berbisik-bisik, entah apa yang mereka katakan akupun tidak bisa dengar. Tapi barusan kalau tidak salah salah satu dari mereka bergumam, "Pangeran dan Puteri sedang berkencan". Sementara mereka berkencan menyantap Chocolate Cake, Abby harus dengan rela menelan pil-pil pahit dan bubur yang langsung meleleh di lidahnya, bahkan dia tidak sempat merasakan apapun ketika menelannya.
Abby yang malang...


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


Pulang sekolah.
Abby yang sudah tidak bisa menahan rasa lapar yang menggerogoti tubuhnya, dengan semangat langsung berlari pulang. Yah, kadang ketika sedang dalam keadaan terdesak atau terancam, atau bahkan sekarat, kau sering melakukan hal-hal yang tidak terduga bukan? Maksudku, Abby bisa berlari sekencang itu sementara sebenarnya dia sudah tidak punya tenaga karena lapar. Itu salah satu buktinya.

Sementara Keira dan Luna kembali berdiskusi tentang festival sekolah. Kali ini berdua. Minus anggota OSIS lainnya. Sebutlah ini meeting non-formal. Ah, apakah aku sudah bilang kalau posisi wakil ketua OSIS masih kosong? Tiga bulan lalu sang wakil ketua (yang ngomong-ngomong pria) pindah ke luar kota. Jadilah posisi tertinggi kedua di OSIS, setelah Keira, adalah sekretaris. Entah siapa yang menentukan ini, tapi sepertinya tidak ada yang protes. Toh mereka tampak serasi, pikir semua orang. Bahkan rasanya tidak usah mencari wakil ketua pengganti. Luna saja cukup. Itulah mengapa mereka hanya rapat berdua. Terkadang mengambil sebuah keputusan melalui forum umum yang didapat melalui proses demokrasi bisa memakan waktu lama dan menguras energi lebih banyak. Pembatasan kekuasaan juga perlu. Pimpinan berhak menentukan sesuatu dengan memanfaatkan posisinya. Kau harus bejalar sosial jika ingin tahu tentang ini. Tentu saja keputusan yang mereka ambil saat meeting ini bukan hal-hal yang teramat penting. Mereka hanya membahas warna yang cocok untuk taplak meja ruang OSIS saat festival, bunga yang pas dipajang, perlukan gorden diganti, atau sekedar berdebat minuman yang akan dihidangkan untuk anggota OSIS pada rapat besok. Atau hal-hal tak penting dan sepele lainnya. Setelah itu, sebelum pulang mereka mampir ke kedai ice cream dan memesan dua buah. Rasa cokelat untuk Keira, dan rasa vanilla untuk Luna. Sorenya Keira mengantarkan Luna pulang. Meski lumayan jauh, kurasa Keira tak keberatan. Dia sendiri baru sampai rumah menjelang malam.

Ngomong-ngomong kemana Nite?
Dia mondar-mandir dari rumah ke sekolah dan sebaliknya. Mengecek kondisi sekitar, memastikan tidak ada Sathoclea yang datang mendekat. Untung bagi Abby dan Keira, pengganggu hilang untuk sementara. Aku juga tidak tahu dia akan tidur dimana malam ini. Tapi sepertinya dia akan terus berjaga sepanjang malam didepan rumah Abby dan Keira.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


Jam menunjukkan pukul 9 malam ketika Abby menguap dan menarik selimut diatas tempat tidurnya. Tak ada hal lain yang dipirkan, bahkan tentang wanita misterius itu. Dia terlalu lelah. Dengan sekejap diapun terlelap.

Lama terlelap, diapun bermimpi.
Disana, tepat didepannya, tampak sosok yang tak dia kenal. Samar. Perlahan sosok itu mendekat, membuatnya sosok samarnya tampak makin jelas. Abby masih belum tahu dia siapa, sampai akhirnya wajah keduanya bertemu, sangat dekat. Barulah Abby sadar. Dialah wanita misterius itu. Abby tercekat sesaat. Segurat garis merah terlukis diwajahnya. Wanita itu tersenyum simpul dan langsung melingkarkan tangannya pada pinggul Abby. Entah apa yang mendorongnya, Abby balas memegang pundak wanita itu. Saling berpandangan tak berkedip. Mereka bisa merasakan desah nafas masing-masing. Hangat. Degup jantung Abby begitu kencang, entah kenapa. Kali ini wanita misterius itu tertawa kecil.

"Nona manis, kau grogi ya?" katanya sambil terkekeh.

Ugh!
Merasa malu, dengan segera Abby melangkah mundur. Memalingkan wajah dan melepaskan tangannya dari pundak wanita itu. Wajahnya semakin memerah. Dia cukup malu untuk mengatakan sesuatu.

Wanita itu makin tertawa lebar.

"Ahahaha! Kau benar-benar grogi?" dia bercacak pinggang. Bahunya bergerak naik-turun karena tertawa.

Kalimat yang cukup untuk membuatnya menangis menahan malu.

"Ti-tidak!" hanya itu yang bisa Abby ucapkan. Matanya sedikit berkaca-kaca.

Wanita itu kembali tersenyum simpul.

"Nona manis..." wanita itu melangkah mendekati Abby.
"Tak apa kalau kau gugup. Tidak akan ada yang protes soal itu kan?" tangannya menjulur, jari-jarinya mulai menyentuh pipi Abby.

Tangannya sedikit dingin, pikir Abby.
Perlahan dia meletakkan tangannya diatas tangan wanita itu, balas menyentuh.

"Thx. Aku sedikit kedinginan karena berjalan ditengah udara malam. Ini sedikit membantu", wanita itu menyeringai.

Senyum yang tidak bisa dibilang indah. Bukan karena jelek, tapi senyuman itu lebih tepat diartikan dengan kata lain.
LIAR.
Ya, senyuman yang liar. Dan sedikit nakal.

"Siapa kau?" bibir Abby tak lagi kelu.

"Mau tahu?"

"Tentu."

"Kalau begitu tunggu."

"Sampai kapan?"

"Sampai kau benar-benar jatuh dalam pelukanku."

Blush.
Lagi, garis merah tergambar samar di pipi Abby.

"Hahaha...nona manis, kau sungguh menarik!"

"He-hei!" Abby sedikit merengut.

"Hm?" dia tersenyum.

"Namamu?"

"Kubilang tunggu."

Mereka tidak melepaskan pandangan masing-masing ketika percakapan itu berlangsung. Ini membuat Abby sadar kalau wanita misterius itu memiliki mata cokelat cerah yang indah. Berbinar.

"Nona manis?"

"Ya?"

"Bagaimana jika aku menginginkanmu?"

"Maksudmu?"

"Maksudku..."

Wanita itu menarik wajah Abby.

Ah~
Itu dia.
Wanita itu mencium Abby tiba-tiba. Matanya terpejam perlahan, sementara Abby terbelalak tak percaya. Kaget, namun dia tak menghindar. Abby bisa merasakan bibirnya bertemu dengan bibir wanita itu yang tegas. Baru saja Abby menikmati dan ingin membalas, wanita itu menjauh.

"Shit!" gumamnya.
"Maaf nona manis, aku harus pergi."

"Kenapa?"

"Kucingmu mulai mengendus bauku."

"Lalu?"

"Lalu....ciuman balasannya nanti saja kalau kita bertemu lagi. Selamat tinggal, A-B-B-Y", dia mengeja nama Abby dengan penekanan yang...how to say...menggoda (?)

"Tunggu! Jangan datang dan pergi seenaknya!" Abby berteriak sembari mengejar wanita itu yang makin tampak remang-remang.

"Ahahaha...sampai jumpa nona manis!" wanita itu mengedipkan sebelah mata dan mengacungkan dua jari -tengah dan telunjuk- lalu melambaikannya. Suaranya ikut menghilang bersama sosoknya.

Abby berhenti mengejar dan terpaku ditempat. Sampai tiba-tiba dia merasakan tubuhnya sendiri tertarik entah kemana.
Kemudian...

DEG!
Seketika itu juga Abby terbangun dan bangkit dengan tergesa, mengingat-ingat mimpinya dengan setengah percaya. Dia menyentuh bibirnya. Sedikit basah. Melirik ke samping, gordennya melambai-lambai tercambuk angin malam sementara jendela kamarnya terbuka. Bergegas dia melongok keluar, dikejauhan tampak sesosok samar berkelebat. Entah makhluk apa, yang jelas gerakannya cepat dan gesit, melompat dengan empat kaki dan tampak seseorang berada diatasnya. Bayangan itu hanya nampak sesaat sampai beberapa detik kemudian -satu atau dua detik- menghilang.

Lagi, jari-jari Abby menyentuh bibirnya. Pikirannya berkecamuk.
Tidak, tidak. Itu hanya mimpi.
Tapi bolehkan jika aku berharap itu adalah kenyataan?


[ FIN ]


Errr....chapt ini cerita na nggak fokus.
Tadi na saya mau pisahin cerita ini jadi dua, antara adegan pulang sekolah dan waktu Abby bermimpi. Tapi klo gitu, masing2 chapt cerita na jadi pendek.
Yah, saya maksain banget emang biar cerita per-chapter na panjang =A=



4 Comments Stored:

  1. oh shit!
    :heck:

    abby di goda, dicuim pula oleh wanita misterius itu??
    tidak!!
    :screm:
    gak keira gak abby sama² YURI!
    hha
    :kya:



    aku suka dah yang ini..
    hha
    aku tunggu kelanjutannya..

    oya ada nupost
    baca komen ya.
    ^^

    ReplyDelete
  2. ahahai, hore2 yang bilang yuri juga yuri...
    aku cowok, jadi masih suka yang yuri2 gtu...
    kalo cowok2 gak deh(plis jgn ada!!!)

    ReplyDelete
  3. @Soe..
    ga lah..
    saya juga ga suka yaoi :headbang:

    ReplyDelete

[L]ain Disconnected © 2008 - 2016 | Powered by Blogger | Read Disclaimer

Back To Top