Saturday, May 8, 2010

Day 05 : FragiLe

Saturday, May 08, 2010
Jika ada orang yang paling marah hari itu, dialah Keira. Dengan liciknya Abby memprovokasi Nite memakai alasan 'kau harus membagi waktu dengan Onee-kun juga' yang langsung membuat Nite diam-diam melompat keluar jendela rumah Abby untuk kemudian memanjat pohon di depan rumah Keira dan akhirnya meloncat tepat ke kamar gadis itu -yang omong-omong jendelanya masih bolong dan hanya ditutupi kayu biasa-. Harusnya Keira tahu ada maksud tertentu ketika tadi sore Abby berkata bahwa dengan senang hati dia akan membiarkan Nite tidur dengannya lagi. Dan sudah pasti percuma mengusir Nite untuk tidur di jalanan. Dia bukan kucing liar seperti itu, tahu lah. Dan untunglah tak lama handphonenya berbunyi, membuat Keira harus berpura-pura sedang memberi susu hangat untuk Nite -yang ternyata dia lakukan sungguhan setelahnya- dan tidur dengan makhluk berbulu itu di kasurnya. Kurasa aku pun akan melakukan hal yang sama jika Luna menelepon menanyakan keadaan Nite. Ah, tunggu, tidak juga, kecuali jika Luna tiba-tiba bertingkah konyol ingin menengar meongan lucu Nite.

Kita harus menengok kesebelah rumah juga, dimana seseorang telah tertidur dengan lelap jauh sebelum Luna menelepon Keira. Dan jauh sebelum dia terlelap, hampir separuh isi kulkas telah habis dilahapnya. Dan untuk pertama kalinya aku bisa menceritakan betapa polosnya wajah Abby ketika dia sedang tertidur, betapa manis angelic face yang dia miliki saat itu. Ya, sebenarnya pemandangan itu hanya terjadi 5 detik, karena setelah itu dia akan berguling-guling ke setiap sudut ranjang dan mengubah posisi tidurnya menjadi tidak karuan ditambah air liur menetes sedikit demi sedikit mengotori bantal. Eh, apakah tadi aku bilang dia manis?

"Nghhhh..." Abby mengoceh tidak jelas, matanya tetap tertutup.

"Nguahhmm, Nite, menjauhlah! Demi Tuhan, aku ngantuk sekali", Abby mengibas-ngibaskan tangan.

"Kucing, menjauh dari kupingku! Bulumu membuatku gatal!" tepat disaat dia berkata bulu, kesadarannya sedikit membaik. Dia masih cukup ingat kalau empat jam lalu sebelum tidur, dia menyuruh satu-satunya hewan berbulu dirumahnya untuk pergi ke kamar Keira.

"Oh, Nite. Kumohon jangan kembali kesini. Tidurlah dirumah Onee-kun mu", dengan lemas Abby menyingkirkan sosok berbulu yang menusuk telinganya. Disingkirkan bagaimanapun, dia tetap kembali. Dan kali ini dia mulai menjilat.

"Demi roti selai lapis keju, berhentilah menjilat!" dia mendorong paksa sosok yang terus membasahi pipinya dengan air liur itu. Terdengan bunyi debuman lantai cukup keras seperti ketika seseorang terjatuh.

"Kucing nakal! Sudah kubilang jika masuk rumah jangan pakai wujud manusia. Jika orangtuaku tahu bisa bahaya!" dan setelah itu Abby kembali melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.

Selang beberapa detik yang cukup diam, Abby tersadar. Ah, dia sudah cukup sering dijilati Nite malam sebelumnya, maka dia langsung tahu jilatan barusan sangat berbeda. Lagipula bulu Nite tidaklah sekasar itu, itu seperti bulu...

"ANJING!!!" Abby yang tersentak kaget langsung berdiri diatas tempat tidur. Dilihatnya dibawah lantai berdiri sesosok makhluk berbulu cokelat sebesar anak keledai sedang menjulurkan lidar dan menggoyang-goyangkan ekornya dengan riang. Anjing besar jenis Gold Retvier menatapnya tanpa berkedip. Badannya begitu besar, tak heran saat dia jatuh bunyi debumannya cukup keras.

"Pergi kau anjing liar! Bagaimana kau bisa masuk kemari?! Yack! Jadi yang menjilatiku kau ya!" cepat-cepat Abby mengelap kasar pipinya dengan tangan.

"No..no..kau salah!" tiba-tiba dari dalam selimut yang jatuh bertumpuk dibawah lantai, muncul sesosok makhluk baru yang keluar tak kalah berisiknya dibanding teriakan Abby.

"Pencuri!" Abby histeris.
"Pergi kau! Pergi!" Abby mengayun-ayunkan gulingnya tanpa kontrol ke arah orang itu.

"Sabar, nona. Kau bisa melukai mata seseorang", dia mulai mendekati Abby. Dari suaranya Abby langsung tahu dia wanita. Tapi kali ini wajahnya dapat terlihat sedikit jelas melalui lampu kamar temaram yang terpasang di sudut ruangan.
"Aha, jadi kau kah orang itu? Tak terlihat ada yang istimewa", dia mengangkat wajah Abby dengan telunjuknya.
"Hmm, rambut merah yang indah. Aku lihat lho saat kau pulang dari toko bersama si kucing itu dan seseorang berambut biru yang entah siapa. Kau tidak kalah menggoda dibandingkan wanita pirang itu kalau saja rambutmu dibiarkan tergerai seperti ini", wanita misterius itu menggerakan wajah Abby ke kiri dan kanan, mengamatinya lebih seksama.

"Hentikan!" Abby memukul kasar tangan wanita itu dan menyingkir ke sudut lain.

Tiba-tiba dari anak tangga terdengan langkah kaki yang tampak terburu-buru mengarah ke kamar Abby.

"Aha! Kena kau pencuri! Orang tuaku akan datang kemari dan memasukkanmu ke dalam penjara!" Abby menyeringai puas, sambil masih tetap memeluk bantal guling.

"Ckck..nona manis, kau pikir aku ini siapa?" dia berjalan mendekati jendela dan membukanya. Disana, semakin tampak wajah sang wanita misterius itu tertimpa sinar bulan. Sejenak Abby tertegun. Wanita itu....
dia....
gagah.....
dan indah....
Abby terdiam memandang sosok pencuri yang sempat dia takuti untuk sesaat, namun kali ini hatinya tiba-tiba bergetar karena suatu hal yang entah apa. Rambut hitamnya yang pendek tertiup angin malam yang dingin, namun itu membuat rambutnya tampak lembut. Tangannya begitu kokoh, ditopang oleh kaki-kakinya yang panjang. Kulitnya tidak begitu putih, tapi cokelat. Dan ini membuat wanita misterius ini makin tampak eksotis. Matanya besar dan tampak berbinar, sebuah anting di kuping kirinya pun ikut bercahaya. Raut mukanya tampak tegas, namun ceria di satu sisi. Dia memegangi pinggiran jendela dan hendak melompat sampai akhirnya dia bersiul memanggil anjingnya.

"FragiLe!" serunya.

Dan siulan itu berhasil menyadarkan Abby dari semua rasa takjubnya.

"Nona..." dia menoleh ke arah Abby.
*blush*
Abby tertangkap basah sedang mengamati wanita itu...
Dia ingin berkata "cepat pergi dari sini", tapi kata-katanya tak bisa keluar. Yah, lagipula sebenarnya dia tidak ingin mengucapkan itu sih.

"Di pertemuan berikutnya, kita akan berkenalan. Dan aku akan membuatmu jauh lebih terpesona daripada ini. Hahaha! Sampai jumpa!" dia melompat ke atas punggung anjing yang dipanggilnya FragiLe itu -dan memang begitulah kita harus memanggilnya sekarang-. Percayalah, anjing itu cukup besar untuk bisa dinaiki. Lagipula badan wanita itu ramping, jadi kurasa FragiLe tidak merasa menanggung beban terlalu besar di pungunggnya. Ya, itu memang benar. Kalau tidak, bagaimana mungkin hewan itu bisa melompat dari jendela lantai dua dan berlari sekencang angin malam dengan membawa seseorang diatas tubuhnya?

Dor..dor..dor..
Pintu kamar Abby digedor dengan keras dari luar.
Dan itu kembali menyadarkannya dari lamunan, karena tadi dia terus memandangi FragiLe dan wanita itu sampai keduanya hilang tertutup malam.

"Abby! Buka pintunya! Kenapa tadi kau berteriak! Abby!" sebuah suara pria terdengar begitu tegang.

"Tidak ada apa-apa yah. Aku hanya bermimpi buruk!"

"Kau yakin Abby? Buka dulu pintunya, kami ingin mengecek kondisimu", kali ini suara seorang wanita terdengar begitu khawatir.

"Benar bu, aku tidak apa-apa. Sudahlah, aku ngantuk. Ayah dan ibu kembali ke kamar saja. Aku ingin tidur lagi."

Di luar, kedua sosok orang tua itu saling berpandangan, membuat si ayah yang sedari tadi memegangi tongkat baseball terdiam. Tanpa berkata apapun, kedua kembali ke bawah bersamaan.

Dan Abby.
Dia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Wajahnya menatap langit-langit kamar yang tampak begitu jauh. Direntangkan kedua tangannya, dan terus menatap ke atas tanpa berkedip. Dibiarkan jendela kamarnya tetap terbuka, membuat angin malam leluasa menerobos masuk. Udaranya sangat dingin, tapi Abby tak peduli.

Dia berharap dari sana akan muncul lagi sosok yang entah mengapa ingin dilihatnya lagi dan lagi.

Dan aku yakin hari itu dia takkan bisa tidur.
Yakin, besok dia akan mengantuk setengah mati dalam kelas...
Dan dia tahu itu...


[ FIN ]


Chapt kali ini sangat cetek dan tak meaning ORZ



2 Comments Stored:

  1. hhmmm sapa kah wanita yang membuat abby terpesona..??
    penasaran..


    hhhmm ya adnan emanng keliatan tua. mikir mtk mulu. hha

    ReplyDelete
  2. kayaknya new enemy nih...
    kutunggu kesaktian si fragile...

    ReplyDelete

[L]ain Disconnected © 2008 - 2016 | Powered by Blogger | Read Disclaimer

Back To Top
Iya, yang gua maksud emang Sherina yang itu. Yang mana? Sherina Munaf penyanyi ntuh lah, yang ultra menyilaukan itu. Siapa lagi. Lah emang doski blogger? Ada ceritanya, Jadi gini...
Di satu sisi nyali gua kepancing buat jabanin tantangan itu. Di sisi lain harga diri nggak ngijinin. Setelah pergumulan sengit, harga diri harus ikhlas derajatnya turun dikit dan ngerelain publikasi poto mengenaskan ini.
FYI masih ada aja beberapa blogger yang nggak tau gender gua cewe apa cowo. Nah poto masa kecil ini bakal memperjelas status kelamin gua di KTP. Gini ceritanya.
Gua update status di twitter kaya gini: "Orang yg baca blog saya biarpun sekejap bisa tau aslinya saya dibanding yg udh temenan lama di FB/Twit". Seorang Timeliner merespon "Saya mengenal baik anda dari apa yang anda tulis, you are what you write".
Gua baru sadar ada satu topik yang hampir nggak pernah dibahas di blog ini. Cinta. Selain Dakota Fanning, bisa dipastiin di lapak gua kagak ada satupun yang berhubungan sama cinta.
Ini dia rapper Indie yang tenar gara-gara lagunya yang ngehina salah satu band Indonesia abis-abisan. Sebenernya dia tenar bukan gara-gara lagu itu doang, tapi karena skill rapnya emang nggak bisa dipandang sebelah mata. Dijamin kuping kalian bakal dimanjain sama lirik-liriknya yang nggak murahan.
Banyak banget yang pas pertama kenal, entah itu lewat blog, facebook, forum Nakama, atau cuma selewat liat photo, langsung nanya, "Cewe apa cowo sih?" Pertanyaan yang langsung bikin MALESSSS!!!