Monday, April 19, 2010

Day 03 : The Truth, The History, and The History

Monday, April 19, 2010
"Sudah kubilang kan, aku tidak bisa mengatakannya -bahkan pada Onee-sama sekalipun- jika belum melakukan itu, nyaa", lagi-lagi Nite memiringkan kepalanya.

"Iya lalu yang kau maksud dengan itu, apa?" Abby terlihat kesal, semakin mengeratkan lipatan tangannya, bahunya ikut naik.

"Ngg..perjanjian, nyaa."

"Perjanjian apa?" Keira yang sedari tadi hanya menjadi pendengar mulai ikut angkat suara.

"Nyaa..bagaimana ya. Kalau begini sepertinya aku harus menceritakan semuanya pada Onee-sama, nya!" Nite menggaruk kepalanya menggunakan kaki, ya, kaki. Dan itu membuat lonceng besar yang menggantung di lehernya bergerincing merdu.

"Aku, maksudku kaum sejenisku disebut Sathoclea di dunia asal kami, Nymph. Itulah dunia dimana sesuatu yang disebut kemakmuran terjadi. Rumput disana sehijau jamrud, airnya sangat jernih sampai-sampai kau tidak memerlukan kaca lagi untuk bercermin jika melihat kedalamnya, udaranya sangat bersih -membuatmu ingin menghirupnya lagi dan lagi sampai paru-parumu tidak sanggup menampung udara lebih banyak-, langit birunya membentang luas ditemani awan putih yang selalu berubah bentuk menjadi sesuatu yang menyenangkan -seperti ikan nyaa- membuat orang senang menatapnya lama-lama sambil tiduran diatas hamparan rumput yang masih basah terkena embun pagi, buah-buahannya jauh lebih enak dan menyegarkan dibandingkan buah manapun yang ada di bumi. Para Sathoclea disana sangat ramah dan selalu saling membantu. Sebutkan kebaikan apa saja yang ada di kepala Onee-sama, itulah yang ada disana. Dipimpin oleh Dewi Nymph yang sangat anggun (dan indah), seolah dialah pohon pelindung yang menyejukkan bagi kami. Tapi masa itu sudah cukup lama terlupakan. 50 tahun lalu, seorang penyihir kerajaan yang pada awalnya sangat setia pada Dewi Nymph melakukan pemberontakan. Itu terjadi karena pada saat itu, lahir seorang pangeran dari Dewi Nymph, Pangeran Phoenix (dia yang selalu bersinar memancarkan cahaya kemerahan yang gagah). Dia diramalkan akan bisa membawa negeri kami ke arah yang bahkan jauh lebih baik."

"Hei, bukankah itu bagus? Lalu kenapa ada orang bodoh yang ingin melakukan konspirasi? Maksudku, siapa yang tidak ingin negeri tempatnya tinggal berada dalam kemakmuran?" Keira memotong kalimat Nite.

"Hanya orang super bodoh, Kei, kurasa", Abby mengangguk, dan kali ini duduk di samping Keira untuk ikut mendengarkan.

"Yang namanya pangeran tentu saja akan menjadi penerus kepimpinan kan, nyaa? Penyihir kerajaan yang sebenarnya menginginkan kekuasaan -seperti semua tokoh jahat dalam buku-buku- mulai cemas. Dia melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan sang pangeran. Tapi pengkhianatan ini diketahui oleh Dewi Nymph dan si penyihir berhasil dimusnahkan. Namun sebelum dia mati, dia berhasil mengambil api kehidupan sang pangeran dan menyegelnya. Itu membuat pangeran terus berada dalam keadaan tidur panjang, sampai sekarang. Sejak saat itu, Dewi Nymph selalu murung dan selalu melantunkan lagu-lagu sedih, suaranya jauh lebih merdu dari penyanyi manapun didunia, tapi melodinya mengalun mengandung kesedihan mendalam. Lalu Dewi Nymph memerintahkan semua prajurit kerajaan untuk mencarinya di seluruh penjuru dunia, dan akhirnya api kehidupan itu ditemukan di bumi."

"Dan dimana tepatnya api kehidupan itu disegel, kalau boleh tau?" Abby menimpali.

"Nyaa, kurasa Onee-sama sudah tahu jawabannya. Aku tidak akan datang mengabdi dan menjadi kucingnya Onee-sama jika tidak ada maksud apa-apa kan, nya~noo."

"Tidak, kurasa dia tidak mengerti. Jelaskan saja semuanya", Keira mengangkat bahu.

"Terima kasih, itu sangat membantu", Abby merengut.

"Ngg, api kehidupan itu sebenarnya disegel dalam tubuh anak manusia." Nite kembali berbicara setelah dia mencoba menjilat wajah Abby lagi, tapi langsung ditendang Kei.
"Api itu juga hidup -namanya juga api kehidupan- karena itu adalah sumber kekuatan Pangeran Phoenix. Dia tidak ada bedanya dengan makhluk hidup, membutuhkan makan, dan istirahat. Jadi dia mengambil sedikit energi orang yang ditumpanginya. Api kehidupan membutuhkan istirahat -seperti yang aku bilang tadi- membuat orang yang ditumpanginya memerlukan waktu lebih banyak untuk tidur, untuk dibagi dengan sang api."

Saat itulah mata Keira dan Abby terbelalak, seolah disadarkan oleh sesuatu. Mereka berdua saling berpandangan, dan mulutnya ingin berkata sesuatu, tapi kalimatnya susah sekali keluar seolah tertahan di tenggorokan.

"Onee-sama sudah mengerti kan, nya~no."

"Ma-maksudmu, aku.." Abby masih tersengal, berusaha mengatur napasnya.

"Tubuh Onee-sama lah tempat api kehidupan itu disegel, nyaaa", setelah berkata demikian -berteriak tepatnya-, Nite langsung menubruk tubuh Abby dan menjilati wajahnya. Abby tidak bereaksi apa-apa, masih terlalu kaget mendengar yang barusan. Namun sejurus kemudian kesadarannya kembali, dan dengan susah payah dia berhasil menyingkirkan Nite dari wajahnya.

"Wow, pantas saja si kerbau ini selalu tidur melebihi batas orang normal. Dan herannya, meski kebiasaannya itu juga ditunjang oleh porsi makannya yang juga diatas porsi orang normal, dia tetap tidak berubah menjadi kerbau yang gemuk", Keira berbicara dengan menghembuskan napas berat dan alisnya terangkat tinggi.
"Tapi api itu disegel 50 tahun lalu kan? Lalu kenapa ada dalam tubuh kerbau ini?."

"Itulah salah satu kehebatan si penyihir, nyaa. Dia bisa menyegel api itu pada roh yang bahkan belum terlahir."

"Tunggu apa lagi? Dia yang kau butuhkan kan, kucing? Bawa saja dia sekarang ke duniamu, tidak akan ada yang keberatan", Keira melanjutkan.

"Jangan sembarangan, manusia yuri!"

"Tidak bisa, nyaa. Sebenarnya api kehidupan itu disegel di dua tempat berbeda. Yang satu ada pada Onee-sama, yang satu ada pada orang lain. Seharusnya karena kedua api itu saling berhubungan, mudah bagi kami untuk menemukan lokasinya. Tapi api yang satunya sudah disegel lebih sempurna, jadi susah dicari. Ditambah, keturunan asli si penyihir juga kabarnya sudah tahu dimana lokasi api kedua berada. Mungkin sekarang dia sudah mendampingi si orang kedua itu, nyaa. Itu membuat kami makin sulit melacak jejaknya", Nite kembali menggaruk badannya, membuat Abby dan Keira berpikir untuk memandikannya.
"Api kehidupan tidak berarti apa-apa jika hanya satu yang kembali. Harus dimasukkan ke dalam tubuh pangeran keduanya sekaligus. Tapi jika kedua api itu disatukan tidak dalam tubuh pangeran, maka dia bisa menjadi sebuah sumber kekuatan yang tidak terbatas, nya~no."

"Dan aku berani bertaruh, si keturunan orang bodoh itu pasti menginginkan api kehidupan untuk kepentingannya sendiri kan? Menguasai dunia, menurutku", Keira berasumsi seperti itu berdasarkan semua buku fantasi yang ia baca.

"Benar nyaa. Tidak menutup kemungkinan dia akan membangkitkan kembali si penyihir, ayahnya. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. Mereka berdua akan bisa dengan mudah menguasai dunia Nymph. Bahkan sang dewi sendiri tidak bisa menandingi kekuatan api kehidupan itu jika sudah dipadukan dengan ilmu hitam. Jika sudah menguasai dunia Nymph yang berdiri ditopang ZeaL, maka menguasai dunia lain yang tidak mengenal ilmu ZeaL sama sekali akan sangat mudah."

"Apa itu ZeaL?" Keira bertanya.

"Mungkin jika di bumi, itu bisa disamakan dengan sihir", jawab Nite.

"Ngomong-ngomong tentang mengusai dunia, apa bumi juga termasuk?" Abby terlihat sedikit cemas.

"Tidak menutup kemungkinan, nyaa. Mungkin bumi akan menjadi tempat pertama yang menjadi sasaran setelah Nymph hancur (jangan sampai terjadi), mengingat disinilah tempat api kehidupan disegel."

"Oh bagus", Keira memegangi kepalanya.
"Ayo, lanjutkan. Apa ada berita yang jauh lebih buruk?"

"Sathoclea yang setia pada sang dewi sangat banyak, tapi yang membangkang pun tidak sedikit. Bisa jadi beberapa dari mereka sudah mengetahui berita ini dan mengejar api kehidupan ke bumi."

"Dan aku sudah tau, mereka pasti mengincarku kan?" Abby terlihat makin cemas.

"Kemungkinan terburuk, kau akan mati terbunuh", Keira tersenyum, menunjukkan keriangan yang mengerikan.
Kalimat itu cukup mebuat wajah Abby berubah pucat.

"Itulah kenapa aku ada disini, nya~no," Nite melambaikan satu tangannya ke depan, sangat lucu :3
"Aku disini untuk melindungi Onee-sama -dan api kehidupan- dari para Sathoclea itu. Juga untuk mencari api kehidupan yang satunya lagi."

"Hei, kucing, berarti ini sama saja dengan sebuah perlombaan, kan? Siapa yang jauh lebih cepat menemukan satu sama lain, maka kemungkina dia bisa berpura-pura tidak tahu apa-apa dan membaur diantara kita sambil mengincar si kerbau kan?"

"Onee-sama, ngomong-ngomong orang ini siapa? Dari tadi ikut campur pembicaan kita? Hanya pengecut yang tadi kabur kan nyoo~?" Nite bersungut-sungut.

"Pengecut?" Keira menggeram ke arah Nite.
"Kau bilang apa pada hewan ini, Gale?" Keira membanting kepalanya dengan kasar ke arah Abby.

"Hei, dia hanya kucing, kan? Aku yakin kau tidak sebodoh itu untuk mempercayai ucapannya. Lupakan saja bagian yang ini", Abby bisik-bisik ke telinga Keira, menutup wajahnya dengan tangan. Keira manggut-manggut.

"Ah, saking cepatnya semua hal terjadi, aku jadi lupa mengenalkan diri. Namaku Abby Gale, ABBY Gale (Abby mengeja namanya huruf demi huruf, agar Nite tidak salah mengira namanya Abigail) lalu orang yang suka marah-marah tidak jelas yang yuri ini Keira Way", saat kalimat yuri keluar, Keira terlihat sedikit terganggu.

"Oke, cukup basa-basinya. Sekarang perjanjian macam apa yang kau maksud, kucing?" Keira mengibaskan tangannya ke kiri dan kanan.

"Sebenarnya dibilang perjanjian juga kurang tepat, mungkin lebih cocok dibilang minta ijin. Setelah ini pasti banyak hal tidak diinginkan terjadi di sekitar Onee-sama. Aku sebagai utusan Dewi Nymph harus minta ijin pada Onee-sama untuk melindungi api kehidupan yang ada disana", Nite menunjuk ke dada Abby, mungkin maksudnya api yang ada dalam tubuhnya.
"Bagaimanapun Dewi Nymph merasa sangat bersalah atas kejadian ini -meski tentu saja beliau tidak pernah melakukan kesalahan apapun-, dan tidak enak pada orang yang menjadi tempat api kehidupan bersarang. Jadi dia mengijinkan aku memberikan sedikit ZeaL pada orang yang dimaksud untuk melindunginya dari serangan Sathoclea lain. Oh ya, perjanjian pembagian ZeaL ini tidak akan berhasil tanpa ijin langsung dari Dewi Nymph, jadi tidak sembarangan Sathoclea yang bisa membagi ZeaL nya dengan orang lain. Kecuali keturunan si penyihir itu bisa. ZeaL nya jauh berbeda dengan ZeaL milik Dewi Nymph yang murni. Miliknya memiliki aura yang sangat gelap, memberikan kekuasaan tersendiri untuknya berbagi dengan siapapun. Menurutku, dia bisa memberikan ZeaL hitamnya pada para Sathoclea yang berkhianat pada Dewi Nymph, sehingga memungkinkan mereka melakukan perjanjian ilegal dengan orang bumi."

"Apa kita harus membuat semacam lingkaran-lingkaran dan menuliskan kata-kata aneh..."

"Itu diagram sihir", Keira memotong.

"Ya, aku tahu!" Abby merengut.
"Membuat, yah, diagram, dan mengucapkan mantra-mantra yang kita tidak tahu apa artinya? Lalu, dibutuhkan beberapa tetes darah agar ritual ini sempurna?"

"Onee-sama! Itu kuno sekali >w<
Perjanjian yang begitu tidak dibutuhkan di dunia Nymph."

"O-oh, lalu bagaimana?" wajah Abby terlihat sedikit memerah karena malu.

"Cukup kaitkan jari kelingking kita saja dan berjanji atas hal yang paling kita sukai", jawab Nite.

"Hei, tunggu! Itu mirip seperti permainan anak kecil! Perjanjian macam apa itu? Aku lebih memilih melakukan perjanjian menggunakan diagram sihir daripada perjanjian yang tidak jelas macam begitu", lagi-lagi Keira memotong.

"Oh diamlah yuricon! Lagipula bukan kau kan yang harus melakukan perjanjian? Jadi biarkan aku memilih melakukan hal yang lebih mudah dibandingkan membuat diagram -atau apalah namanya- itu!" Abby memutar bola matanya.

"Yah terserahlah", Keira mengangkat tangan.

"Mungkin ini memang terlihat sederhana, nyaa, tapi begitulah kami. ZeaL yang menjadi hal terpenting ketiga (setelah Dewi Nymph dan Pangeran Phoenix) dilakukan sesederhana dan seefisien mungkin, tapi efeknya sangat besar", entah sudah keberapa kali Nite menggaruk badannya. Dan kali ini wajah Keira yang terlihat memerah.

"Nyah, berikan tangan Onee-sama", lalu mereka mengaitkan kelingking.
"Aku mulai duluan, lalu setelah selesai baru Onee-sama. Ingat, berjanjilah demi hal yang paling Onee-sama sukai," Abby mengangguk dengan pelan namun mantap.

"Aku berjanji..." Nite mengatupkan satu tangan di dadanya dan memejamkan mata. Abby pun melakukan hal yang sama. Saat itu di tempat Abby dan Nite berada, memancar cahaya putih kekuningan dari atas lantai. Keira sedikit kaget, tapi tidak berniat untuk mundur, seolah kakinya sudah dipaku. Kalau boleh ditambahkan, cahaya itu sangat menyilaukan, tapi juga lembut dan hangat. Mungkin Keira memang ingin merasakan kenyamanan cahaya itu dan tidak ingin menyingkir.
"Demi Dewi Nymph dan Pangeran Phoenix yang selalu kulindungi dengan sepenuh hati, aku akan membagi ZeaL Nymph yang murni dan suci dengan orang yang jarinya bertautan denganku."

Ya..ya..
Hanya tinggal ganti saja kalimat 'demi Dewi Nymph dan Pangeran Phoenix' dengan 'makanan enak di seluruh dunia dan waktu tidur yang menyenangkan' kan? Pikir Abby.

Dan inilah saatnya.
Abby mulai mengucapkan kalimat perjanjian itu.
"Aku..."

PRANG!!!
Tiba-tiba kaca jendela kamar Keira pecah! Tidak ada benda apapun yang kelihatan dilemparkan, mungkin kaca itu dipecahkan oleh sebuah tembakan udara super kuat dilakukan seseorang yang entah siapa. Ada alasan mengatakan hal ini, karena melalui kaca yang sekarang sudah bolong itu berhembus udara yang sangat kencang. Untung saja Keira tidak berdiri dekat jendela, jadi dia bisa terhindar dari pecahan kaca yang beterbangan. Tapi tidak dengan seseorang.

Abby dan Nite berdiri tepat di depan jendela. Nite, sudah jelas bisa menghindar mengandalkan gerak refleksnya sebagai seekor kucing. Namun Abby, dia menjadi target sempurna bagi si penyerang dan langsung tumbang. Angin yang ditembakkan -diledakan mungkin- dengan kekuatan besar, efeknya sama dengan sebuah pistol berisi peluru karet. Apalagi jika ditembakan tepat di kepala, itu akan membuat lawanmu pingsan. Abby terkapar tidak berdaya. Dahinya berdarah, bukan karena angin itu, tapi karena potongan kaca yang terbang ke arahnya.

"Sekarang apa lagi, kucing?" Keira menutupi wajah dengan lengannya, menahan angin yang masih berhembus kuat menampar mukanya, namun sudah tidak berbentuk ledakan.

"Aku tidak tahu!" Nite terlihat tegang. Dia berlari ke arah jendela, mencari tahu siapa yang ada diluar sana.
Dan dia cukup kaget setelah tahu apa yang terjadi.
"Tidak kusangka akan secepat ini. Sudah ada Sathoclea yang mengetahui keberadaan Onee-sama", dia menunjuk sebuah objek yang melayang di udara. Seekor Sathoclea jenis elang. Sepertinya tembakan angin itu berasal dari kepakan sayapnya yang sangat kuat.

"Sial! Kalau perjanjiannya belum selesai, kekuatanku pun tidak akan bisa keluar sepenuhnya", Nite mengepalkan tangan, kesal.

"Kenapa begitu?" Keira masih tetap menutupi wajahnya.

"Kekuatan ZeaL akan bertambah jika telah dilakukan oleh dua orang pihak. Karena aku sudah mengucapkan kalimat perjanjiannya, berarti setengah ZeaL milikku sudah ada dalam diri Onee-sama. Bukan berarti kekuatanku akan berkurang, karena seharusnya setelah ZeaL itu diterima Onee-sama, kekuatannya akan semakin membesar karena dipengaruhi oleh api kehidupan. Tapi karena Onee-sama belum mengucapkan janjinya, kekuatan itu tidak akan keluar, dan aku benar-benar kehilangan setengah ZeaL ku."

"Lakukan perjanjiannya denganku!"

"Apa? Ijin Dewi Nymph adalah membagi ZeaL ku dengan Onee-sama! Belum tentu berhasil dan diijinkan jika dilakukan dengan orang lain!"

"Oh ayolah, saat seperti ini masih memikirkan hal begitu?! Kalau kau sangat mengagungkan Dewi Nymph dan bahkan sampai bersumpah demi dirinya, yakinlah dewimu itu sedang menyaksikan hal ini dari sana dan memberikan dispensasi! Meski api kehidupan tidak ada padaku, setidaknya ZeaL mu -ZeaL kita- bisa bertambah meski sedikit. Saat genting seperti ini memangnya kau punya ide lain? Dan jika kita belum melakukan apapun, Abby akan celaka. Kau mau Onee-sama mu tersayang dan api kehidupan itu kenapa-kenapa?!"

Ught, Nite benar-benar terdesak.
"Berikan kelingkingmu nya~!" Nite bergegas.
"Aku berjanji demi Dewi Nymph dan Pangeran Phoenix yang selalu kulindungi dengan sepenuh hati, aku akan membagi ZeaL Nymph yang murni dan suci dengan orang yang jarinya bertautan denganku."

Dan Keira melakukan hal yang sama.
"Aku berjanji demi cokelat dan minuman cola paling enak di seluruh dunia, aku akan membagi ZeaL Nymph yang murni dan suci dengan orang yang jarinya bertautan denganku."

Saat selesai melakukan perjanjian, cahaya itu muncul lagi, kali ini jauh lebih terang. Nite merasa ZeaL yang tadi hilang sudah kembali.
"Sembuhkan Onee-sama!" Nite memegang pinggiran jendela, bersiap melompat.

"Caranya?"

"Keluarkan saja ZeaL dari tanganmu! Sudahlah, cepat! Kau bisa mengira-ngira bagaimana caranya."

Urusan serius begini disuruh mengira-ngira? Kucing sialan!
Keira berpikir, mungkin saja dia harus berbuat seperti yang Nite lakukan pada lengannya.
Pertama, arahkan tangan pada luka yang ingin disembuhkan, sisanya mungkin harus berkonsentrasi agar ZeaL keluar.
Dengan ragu Keira mencoba, dan ternyata itu berhasil! Sebuah cahaya keluar dari tangannya, menghentikan darah yang keluar dari dahi sampai akhirnya menghilangkan bekas luka. Dia mengarahkan tangannya pada sisi lain kepala Abby, mungkin bisa mempercepatnya bangkit dari pingsan. Dilihat dia mulai mengerjapkan matanya sedikit meski tidak sampai sadar. Keira segera membopongnya ke tempat tidur, membiarkan Abby bangun dengan sendirinya.

Sementara diluar.
Sathoclea elang yang dari tadi melayang di udara pun langsung melesat ke arah Nite dengan kecepatan peluru. Dia menukik dengan tajam, disambut Nite yang melompat super tinggi ke arahnya. Masing-masing dari mereka mengepalkan sebuah tinju, dan...
Ketika tinju mereka beradu, timbul sebuah ledakan cukup dahsyat di udara. Nite terkena sedikit, tubuhnya terbanting beberapa meter ke belakang dan pipinya berdarah. Tapi si elang itu berhasil dipukul telak. Tubuhnya jatuh membelah angin, beberapa detik kemudian dia terpental ke tanah, berguling sebentar sampai akhirnya tidak bergerak sama sekali.

"Apa dia sudah kalah? Keira tiba-tiba datang dengan terengah-engah.

"Tidak apa-apa. Ini hanya Sathoclea kelas rendahan. Cukup satu kali pukul sudah tumbang. Hei, Onee-sama bagaimana, nyaa~"

"Oh ya, terima kasih. Berkat penjelasanmu yang sangat lengkap, aku bisa dengan sangat gampang menyembuhkannya", Keira mengatakannya dengan nada suara yang berarti tepat sebaliknya.
"Dia sedang istirahat sekarang."

Melihat sosok Sathoclea elang di hadapannya, Keira berkomentar.
"Hei, kalau kau bisa mengalahkannya sendiri, lalu kenapa pakai acara perjanjian segala? Aku cuma jadi penonton?"

"Nyaa~tunggu dulu Onee-kun."
Onee-kun??? Yang kuingat, beberapa saat lalu Nite masih tidak menganggap keberadaan Keira. Entah sejak kapan dia memanggilnya dengan Onee-kun.
"Sadar tidak, setelah melakukan perjanjian tadi, sebuah cincin telah muncul di jari kelingking Onee-kun?"

Keira melihat kelingkingnya, dan memang terdapat cincin disana.
Hah? Sejak kapan?

"Di tengah cincin itu ada batu emerald hijau dari Dewi Nymph. Coba arahkan cincinnya pada Sathoclea ini, nya."

Keira mengepalkan tangannya ke depan, mengarahkan cincinnya. Saat melakukan itu, keluar cahaya dari tubuh si Sathoclea elang. Cahaya itu sepertinya tersedot ke dalam cincin.

"Apa itu?" Keira heran.

"Itu ZeaL miliknya. Semuanya akan dihisap oleh cincin ini."

"Kalau ZeaL nya habis, dia akan bagaimana?"

Sosok Sathoclea elang di hadapannya mulai tampak samar. Dalam hitungan detik, tubuh yang sudah bergolek tak berdaya itu berubah menjadi kepingan-kepingan yang melayang ke udara. Ketika sudah sampai setinggi kepala, kepingan itu pecah, dan menghilang.

"Itulah yang akan terjadi pada mereka yang tidak setia pada Dewi Nymph."

Keira, yang baru pertama kali melihat kejadian yang tidak ada bedanya dengan kematian ini, hanya bisa memberikan tatapan semu.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


Ketika Keira dan Nite kembali ke kamar, disana mereka menemukan Abby telah sadar, duduk bersimpuh di atas tempat tidur sambil memijit-mijit kepalanya yang masih sedikit pusing. Dan -entah bagaimana- Keira merasa sangat lega. Tentu saja Nite langsung menerjang ke arahnya, tidak menerkam liar seperti biasanya (dia tahu Abby masih pusing), lalu menjilatnya tiga kali. Mereka menjelaskan hal-hal yang tidak sempat Abby dengar dan lihat ketika dia pingsan.

"Apa perjanjian denganku batal?" Abby mulai bertanya setelah kepalanya sudah tidak berkunang-kunang. Saat itulah Keira datang dari luar dan membawa secangkir cokelat hangat.

"Ngg, aku juga sedikit bingung, nyaa. Api kehidupan itu ada pada Onee-sama, jadi tidak mungkin aku tidak melakukan perjanjian dengan Onee-sama. Tapi Onee-kun (saat itu Abby langsung melihat ke arah Keira dengan tatapan yang menyebalkan) telah melakukan perjanjian itu denganku lebih dulu. Mungkin, yah mungkin aku harus tetap menyelesaikan perjanjian dengan Onee-sama, bagaimanapun juga itu harus! Artinya, sekarang aku punya dua orang partner. Umumnya Sathoclea hanya bisa melakukan perjanjian dengan satu orang. Tapi jika ingin melakukan perjanjian dengan orang lain, perjanjian dengan orang pertama harus dibatalkan dulu, setelah itu baru perjanjian kedua -yang baru- bisa dilakukan, nya~"

"Tunggu, umumnya? Memang sebelum dengan kami, perjanjian macam ini sudah sering dilakukan? Kukira kau baru pertama kali ini melakukan perjanjian dengan manusia", Abby menyeruput cokelat panasnya dengan hati-hati sebelum akhirnya bertanya.

"Tentu saja sering, dengan ijin Dewi Nymph pastinya. Tapi kami sering melakukannya dengan sesama Sathoclea di dunia kami. Sedikit berbeda karena kami sama-sama memiliki ZeaL. Dan memang baru kali ini melakukannya dengan manusia -yang tidak memiliki ZeaL-, nya~no."

"Lalu bagaimana? Apa perjanjian denganku juga akan dibatalkan? Kalau begitu cepatlah, aku tidak ingin terlibat dalam hal yang absurd macam begini", Keira menggigit cokelat yang tadi ikut dibawanya dari kulkas.

"Tidak mungkin, nyaa. Kalaupun bisa, yang harus dibatalkan adalah perjanjian dengan Onee-sama yang tadi belum sempat selesai. Tapi kalian tahu itu tidak mungkin aku lakukan, kan? Maksudku, nanti api kehidupan tidak akan terlindungi."

"Batalkan saja perjanjianku dulu. Setelah itu, batalkan perjanjian Kei. Barulah setelahnya lakukan perjanjian ulang denganku. Terdengar sedikit merepotkan sih, tapi hanya itu yang terpikir olehku", kali ini cokelat panas Abby sudah habis setengahnya.

"Itu makin tidak mungkin! Jika ingin melakukan perjanjian baru, Sathoclea harus menunggu tiga bulan dulu. Dan jika kita melakukan rencana Onee-sama, berarti harus menunggu..." Nite berpikir sejenak. "Enam bulan."

"Dan saat itulah monster yang lain akan datang menghabisimu", kalimat Keira terdengar jauh lebih menyebalkan saat mengatakan ini.

"Oh Nite, apa aku memang harus mati seperti itu?" pandangan Abby sedikit memelas.

"Hentikan Abby, tatapanmu itu menjijikan! Kenapa tidak kau coba lanjutkan saja perjanjian yang tertunda tadi, kucing?" Keira mulai bosan dengan pembicaraan ini.

"Apa Dewi Nymph akan mengijinkan perjanjian ganda, nya~no?"

"Apa kalian punya ide lain?" Keira makin terlihat semakin bosan. Saat itu Abby dan Nite berpikir "tidak ada", tapi kalimat itu tak keluar dari mulut mereka.

"Tidak ada salahnya mencoba. Aku tidak ingin mati konyol."

"Kalau begitu berikan kelingking Onee-sama, nya~no. Aku sudah mengucapkannya, tinggal giliran Onee-sama."

Abby cepat-cepat menyeruput cokelat panasnya sampai habis. Dan inilah dia, Abby berdiri mengikuti Nite, mengaitkan kelingking mereka, mengatupkan satu tangan di dadanya dan memejamkan mata.
"Aku berjanji demi makanan enak di seluruh dunia dan waktu tidur yang menyenangkan, aku akan membagi ZeaL Nymph yang murni dan suci dengan orang yang jarinya bertautan denganku."
Saat kelingking mereka bertemu, cahaya putih kekuningan -yang sangat disukai Abby dan Keira- muncul lagi. Namun saat perjanjian selesai dilakukan, cahaya itu berubah menjadi sinar merah yang memancar dengan kuat. Seketika angin berhembus kencang entah dari mana, dan suasana berubah menjadi sedikit menakutkan -sekaligus menenangkan- bagi mereka. Selang beberapa saat, sinar itu perlahan menghilang, sebagai gantinya muncul bulu-bulu cahaya -sepertinya bulu burung- berwarna merah di sekitar mereka, dan ketika akan jatuh menyentuh bumi perlahan menghilang. Itu membuat Keira sedikit tidak nyaman, bukan karena bulu-bulu cahaya itu mengganggu atau sebegainya, tapi karena itu mengingatkannya pada Sathoclea elang yang menghilang di hadapannya persis bulu-bulu tadi.

Sejenak mereka terdiam, tidak yakin apakah yang mereka lakukan itu berhasil atau tidak. Tapi saat Abby melihat di kelingkingnya telah muncul sebuah cincin bermata emerald hijau, dengan sangat malas Keira menyadari, hari-hari merepotkan bersama Abby dan Nite telah menanti.


[ FIN ]



2 Comments Stored:

  1. huwaaaaa...
    semakin mantappp
    kerennnnn!!!
    lagi lagi lagi....
    :thumb:

    ReplyDelete
  2. hhmm
    panjang...
    agak susah buat menyerap apa yang diceritakan...
    tapi...

    aku setuju ma sohendar...
    keren....


    andai ini dibuat komik...
    beuh pst seru abis..

    ReplyDelete

[L]ain Disconnected © 2008 - 2016 | Powered by Blogger | Read Disclaimer

Back To Top
Iya, yang gua maksud emang Sherina yang itu. Yang mana? Sherina Munaf penyanyi ntuh lah, yang ultra menyilaukan itu. Siapa lagi. Lah emang doski blogger? Ada ceritanya, Jadi gini...
Di satu sisi nyali gua kepancing buat jabanin tantangan itu. Di sisi lain harga diri nggak ngijinin. Setelah pergumulan sengit, harga diri harus ikhlas derajatnya turun dikit dan ngerelain publikasi poto mengenaskan ini.
FYI masih ada aja beberapa blogger yang nggak tau gender gua cewe apa cowo. Nah poto masa kecil ini bakal memperjelas status kelamin gua di KTP. Gini ceritanya.
Gua update status di twitter kaya gini: "Orang yg baca blog saya biarpun sekejap bisa tau aslinya saya dibanding yg udh temenan lama di FB/Twit". Seorang Timeliner merespon "Saya mengenal baik anda dari apa yang anda tulis, you are what you write".
Gua baru sadar ada satu topik yang hampir nggak pernah dibahas di blog ini. Cinta. Selain Dakota Fanning, bisa dipastiin di lapak gua kagak ada satupun yang berhubungan sama cinta.
Ini dia rapper Indie yang tenar gara-gara lagunya yang ngehina salah satu band Indonesia abis-abisan. Sebenernya dia tenar bukan gara-gara lagu itu doang, tapi karena skill rapnya emang nggak bisa dipandang sebelah mata. Dijamin kuping kalian bakal dimanjain sama lirik-liriknya yang nggak murahan.
Banyak banget yang pas pertama kenal, entah itu lewat blog, facebook, forum Nakama, atau cuma selewat liat photo, langsung nanya, "Cewe apa cowo sih?" Pertanyaan yang langsung bikin MALESSSS!!!