Friday, April 9, 2010

Day 02 : Night

Friday, April 09, 2010
"Nyaaa :3"
Seolah puas dengan hasil kerjanya, gadis cilik yang tiba-tiba muncul dari langit itu berteriak sambil duduk -jongkok tepatnya- dan menjilat tangan kanannya, persis seperti seekor kucing. Mungkin kata persis kurang tepat, karena dia memang seekor kucing. Maksudku, baru kali ini Abby dan Keira melihat makhluk bertelinga (dan telinga itu berada di atas kepala, bukan disamping seperti telinga normal umumnya) dan berekor panjang, mirip kucing, tapi makhluk itu bukan kucing melainkan manusia. Matanya pun mempunyai pupil yang, sepertinya bisa membesar dan mengecil jika terpengaruh cahaya. Ya, seperti kucing. Dan, dia mempunyai kumis. Bukan kumis tebal seperti bapak-bapak tua maksudnya, tapi kumis tipis yang berdiri tegak di masing-masing sisi wajahnya.
Memang, mirip kucing...

"Ka-kau ini, apa?" dengan ragu Abby bertanya.

"Nya? Aku kucingnya Onee-sama", setelah berkata begitu langsung saja dia menerkam Abby dan menjilati wajahnya, seperti seekor kucing menjilati majikannya.

"Huaa! Hentikan!" Abby yang kaget berusaha menyingkirkan gadis kucing itu. Tapi itu tidak membuatnya menghentikan kelakuannya sedikitpun.

Keira yang menonton kejadian itu ikut panik, dan berusaha menyingkirkan si kucing.
"Kau menyakiti temanku! Sekarang pergi kau alien! Hush!" dengan sekuat tenaga dia mengangkatnya dari tubuh Abby. Merasa keasyikannya terganggu, gadis kucing itu menatap Keira dengan tajam, dan mencakarnya.

"Arght!" Keira mundur beberapa langkah, memegangi lengannya yang berdarah.
"Gale, suruh binatang peliharaanmu berhenti, SEKARANG!" Keira menggeram.

"Andai aku bisa sudah kulakukan dari tadi, bodoh!" Abby masih bergulat dengan si kucing.
"Sekarang cepat bantu aku!"

"Tidak! Lakukan saja sendiri! Cakarannya sudah membuatku kapok!"

"Pengecut!"

"Tutup mulut!"

"Oh baiklah, pengecut! Cepat pergi dari sini dan biarkan aku mengurusnya sendiri. Kau ketua OSIS tidak berguna!"

"Gale keparat! Baik aku pergi!" Keira meraih tasnya yang jatuh dan langsung pergi meninggalkan Abby seorang diri, maksudku berdua dengan si kucing.

"Si bodoh itu benar-benar pergi rupanya", Abby makin kesal pada Keira.
"Sekarang, jika benar kau adalah kucingku, ikuti perkataanku!" dikeraskan volume suaranya dengan nada sok tegas.

"Nyaa? Apapun yang Onee-sama katakan, nya~no", si kucing menjawab sambil terus menjilati wajah Abby.

"Pertama, berheti menjilatku!"

Langsung saja kucing itu berhenti dan kembali berjongkok di hadapan Abby sambil tersenyum :3

Dengan kepayahan Abby berdiri, menepuk-nepuk bajunya yang kotor dan dengan napas terengah-engah dia melanjutkan.
"Kedua, siapa namamu dan darimana asalmu!"

"Nyaa, namaku Nite (baca : nait, seperti kalian membaca kata night), dan asalku dari dunia Nymph nya~no", dia menjawab sambil tersenyum. Dan ketika dia tersenyum, matanya terpejam, lucu sekali.

"Nah, Nite", lanjut Abby setelah dia bisa mengatur napasnya.
"Ceritakan padaku apa tujuanmu kemari dan juga tentang Nymph -atau apapun itu-. Dan apa maksudmu dengan Onee-sama itu?"

"Aku tidak bisa memberitahukannya sekarang jika kita belum melakukan itu, nya~no."

"Itu apa maksudnya?" kali ini Abby terlihat sedikit antusias.

"Perjanjian bahwa kau akan merawatku sebagai kucingmu dengan penuh kasih sayang, nyaaaa!"

"Hah? Aku tidak mengerti!"

"Uh, Onee-sama tidak mengerti, nya~no?" Nite memiringkan kepalanya.

"Baiklah, itu kita bahas lain kali saja. Sekarang yang paling penting cepat kita temui Kei, maksudku orang yang barusan kabur. Meski dia penggecut, tapi, yah, tetap saja dia temanku dan dia terluka karena berusaha menolongku dari kelakuanmu yang mirip kucing liar. Mungkin kau bisa melakukan sesuatu pada lukanya, seperti yang barusan kaulakukan padaku."

"Aku tidak punya kewajiban untuk menolong orang lain selain Onee-sama, nya~no. Tapi jika itu perintah Onee-sama akan kulakukan nyaa."

Langsung saja Nite mengendus-endus tanah, mencoba melacak jejak Keira yang tertinggal melalui bau darahnya yang dari tadi menetes.

"Lewat sini, nya~" Nite mengangkat telinganya dengan tegak, begitupun ekornya ikut berdiri. Dia langsung berlari (dengan kaki dan tangannya) ke satu arah, diikuti Abby yang mengejarnya dengan susah payah karena ternyata kecepatan kucing itu cukup membuat Abby kesusahan. Ingin dia berhenti dan bertanya, apakah Nite bisa dijadikan tumpangan atau tidak. Tapi diurungkan niatnya karena dia tahu itu pertanyaan yang sangat bodoh.

Setelah berlari melewati beberapa belokan, mereka berhenti didepan sebuah rumah. Disana berdiri Keira yang sedang membuka gerbang depan dan hendak masuk ke rumah itu. Oh tentu saja, ini rumahnya, dan disebelah rumahnya adalah rumahku. Bodoh...

"Manusia yuri!" Abby berteriak.
"Kau tidak apa-apa?"

Seketika Keira menengok kebelakang, dan dengan kasarnya dia menjawab, "Berhenti memanggilku begitu, Kerbau buruk rupa!"

"Hei, aku kesini untuk mengobati lukamu! Sopanlah sedikit pada penolongmu!" Abby tampak tidak senang dengan perkataan Keira.

"Penolong? Kau dan kucing peliharaanmu yang membuatku jadi begini. Apanya yang penolong!"

"Berhentilah berkata seolah lukamu itu parah! Itu hanyalah luka kecil yang tidak ada bedanya jika kau dicakar oleh kucing biasa. Kolokan! Sekarang biarkan Nite mengobati lukamu seperti yang dia lakukan pada lututku!"

"Bahkan kau sudah memberi kucing itu nama? Ya Tuhan..."

"Itu memang namanya, bukan aku yang memberikannya. Sekarang diamlah! Nite, tolong sembuhkan lukanya."

Dengan segera Nite menyodorkan tangannya pada lengan Keira yang berdarah. Dan sinar putih kekuningan yang menyenangkan itu kembali keluar. Seketika semua luka itu hilang tak berbekas dari lengan Keira.

"Ini lebih baik", Keira mengangkat lengannya, mencoba mengecek kondisi tubuhnya sendiri.

"Ayo cepat, ada hal yang harus aku tanyakan pada Nite", Abby menarik tangan Keira masuk ke dalam rumah.

"Kau tidak punya sopan-santun, Kerbau. Ini rumahku, berhentilah grasak-grusuk di rumah orang lain."

"Bisakah kau berhenti cerewet? Lagipula sedang tidak ada siapa-siapa kan?" Abby terus saja menarik tangan Keira menuju ke lantai dua, ke kamar Keira. Tentu saja Nite mengikuti Abby tanpa diperintah.

Setelah sampai di kamar, Abby langsung mengunci pintu, mencegah agar tidak ada orang lain yang masuk (meski di rumah itu tidak ada orang lain selain mereka?)

"Nite", Abby berdiri sambil melipat tangan, memandang dengan serius ke arah Nite yang masih asyik menjilati tangan kanannya. Sementara itu Keira yang masih belum mengerti hanya diam dan duduk di pinggiran kasur.
"Ceritakan padaku, semuanya."


[ FIN ]

Cerita diatas adalah potongan chapter dari fanfiction original saya, Absurd. Terima kasih telah membaca Day 2 : Night. Jangan lupa berikan komentar



5 Comments Stored:

  1. hue....
    nite ntu betina pa jantan ya...
    hhmm



    lanjutannya cih au age ya..
    ^^

    ReplyDelete
  2. betina! :scream:

    ma-maaf klo cerita na ga begitu bagus :gomen:

    ReplyDelete
  3. weeww
    sy suka cerita fantasi...
    dan menurutku ceritamu bagus...
    tapi deskripsi karakternya kurang kuat...
    soalnya pas pertama baca, kukira abby yang cowok trus keira yang cewek...
    hhe... tapi setelah liat komennya akane baru tau..
    klo deskripsi karakter nite-nya bagus, bisa bayangin langsung kalo itu mahluk kucing betina yang imuttt...(maniak anime mode:on)

    ReplyDelete
  4. deskripsi Abby emang saya jabarin pelan-pelan, nggak sekaligus kaya Nite :3
    di chapt selanjut na bakal diperjelas kok Abby itu kaya gimana
    jadi baca terus yah :slay:

    ReplyDelete

[L]ain Disconnected © 2008 - 2016 | Powered by Blogger | Read Disclaimer

Back To Top
Iya, yang gua maksud emang Sherina yang itu. Yang mana? Sherina Munaf penyanyi ntuh lah, yang ultra menyilaukan itu. Siapa lagi. Lah emang doski blogger? Ada ceritanya, Jadi gini...
Di satu sisi nyali gua kepancing buat jabanin tantangan itu. Di sisi lain harga diri nggak ngijinin. Setelah pergumulan sengit, harga diri harus ikhlas derajatnya turun dikit dan ngerelain publikasi poto mengenaskan ini.
FYI masih ada aja beberapa blogger yang nggak tau gender gua cewe apa cowo. Nah poto masa kecil ini bakal memperjelas status kelamin gua di KTP. Gini ceritanya.
Gua update status di twitter kaya gini: "Orang yg baca blog saya biarpun sekejap bisa tau aslinya saya dibanding yg udh temenan lama di FB/Twit". Seorang Timeliner merespon "Saya mengenal baik anda dari apa yang anda tulis, you are what you write".
Gua baru sadar ada satu topik yang hampir nggak pernah dibahas di blog ini. Cinta. Selain Dakota Fanning, bisa dipastiin di lapak gua kagak ada satupun yang berhubungan sama cinta.
Ini dia rapper Indie yang tenar gara-gara lagunya yang ngehina salah satu band Indonesia abis-abisan. Sebenernya dia tenar bukan gara-gara lagu itu doang, tapi karena skill rapnya emang nggak bisa dipandang sebelah mata. Dijamin kuping kalian bakal dimanjain sama lirik-liriknya yang nggak murahan.
Banyak banget yang pas pertama kenal, entah itu lewat blog, facebook, forum Nakama, atau cuma selewat liat photo, langsung nanya, "Cewe apa cowo sih?" Pertanyaan yang langsung bikin MALESSSS!!!