Wednesday, April 7, 2010

Day 01 : Abigail

Wednesday, April 07, 2010
Fanfiction : Himemiya Rain
Very big inspired by The Chronicles of Narnia by C.S.Lewis

Genre : ga jelas, fantasy dan hal2 absurd lain na maybe?
Latar (?) : Bumi

Warning! Yuri content!
Errr..nggak separah itu deng, hanya shoujo-ai ringan :3
tapi di chapter ini belum dimunculkan ~(-_-~)



*********


Sudah berapa kali dia memejamkan mata dan mencoba tidur? Entahlah, rasanya sudah beribu kali mencoba walau tentu saja itu sulit. Maksudku, siapa yang bisa tidur jika perutmu sedang melilit? Seolah obat mag yang diberikan petugas kesehatan 15 menit yang lalu tidak mempan saja. Meski bukan ingin tidur, tetap saja dia masih belum diijinkan untuk kembali ke kelas. Jadi mungkin tidur bisa membunuh sedikit waktu, pikirnya.

"Abby!" terdengan sebuah teriakan dari pintu ruang kesehatan dan itu memaksa Abby untuk mengangkat kepalanya sedikit dan menengok ke sumber suara. Tapi setelah tahu siapa yang datang, dia langsung merebahkan tubuhnya kembali, dengan malas.
"Lagi-lagi petugas kesehatan salah mencatat namamu. Abigail. Lain kali isi absen ini sendiri, jangan hanya mengucapkannya pada petugas kesehatan. Kurasa mereka punya masalah pendengaran, atau tidak lulus pelajaran mengeja".

"Mau apa kau kemari?" tanpa mempedulikan ucapannya yang tadi Abby langsung bertanya.

"Sopan sedikit!" Dia mengacungkan telunjuk.
"Aku kesini untuk menjengukmu, tentu saja. Kau tidak apa-apa?" perempuan berperawakan jangkung itu tidak berbicara dengan nada cemas, khawatir, atau sedih. Dia mengatakannya begitu saja.

"Ayolah, ini sudah biasa bukan?" Abby mendengus.

"Jangan jadikan ini kebiasaan!" kali ini perempuan itu bercacak pinggang.
"Ini sudah ketiga kalinya dalam seminggu kau masuk ke ruangan ini!" dia melanjutkan.

"Lalu?"

"Lalu!!! Tidak bisakah kau bangun lebih awal dari biasanya? Aku yakin itu akan membuatmu punya cukup waktu untuk sarapan pagi dan mencegahmu meringis kesakitan dalam kelas."

"Memangnya kau siapa berani menceramahiku?" kali ini nada suara Abby sedikit tinggi.

"Aku ini ketua OSIS kau ingat? KETUA OSIS! Jadi aku berhak memberikan teguran pada siswa yang selalu punya alasan untuk tidak mengikuti pelajaran." perempuan ini melotot.

"Baiklah, kau memang ketua OSIS, Keira Way!" sombong, pikirnya.
"Memangnya aku sakit karena aku mau?!" Abby tidak kalah ketus menjawab.

"Kalau begitu sarapan pagi agar kau tidak kelaparan dan berakhir menyedihkan di ruang kesehatan begini!" dia mendekatkan wajahnya ke arah Abby, sambil -tentu saja- masih melotot dan bercacak pinggang. Dan kalimat ini membuat Abby tercekat, sadar apa yang Keira katakan benar. Ingin dia membalas, tapi saat itu tidak ada satupun kalimat yang terpikirkan, karena otaknya kembali disibukkan oleh rasa sakit yang kembali datang.

"Ught", Abby memegangi perutnya, meringis.

"Lihat Gale? Berhenti bertingkah kekanakan dan cobalah mendengarkan nasehat orang lain."

Abby tahu jika Keira sudah memanggil nama belakangnya, itu berarti teman sekelasnya itu sudah sangat kesal, jengkel, -atau perasaan tidak menyenangkan apapun- padanya. Daripada membuang tenaga berteriak dan mengumpat -jika ia bisa- lebih baik dia berbuat sesuatu pada perutnya yang sudah tidak bisa diajak berkompromi.

"Cepat panggilkan petugas kesehatan, Kei bodoh!" Abby mengatakan itu ditengah rintihannya.

"Baiklah..baiklah. Tapi kau jangan pingsan dulu sebelum petugasnya datang", Keira membalikan badan dan melambai pada Abby, seolah tidak peduli.

Lima menit yang sangat menyiksa bagi Abby, dan hebatnya petugas kesehatan masih belum datang. Segunung sumpah serapah sudah dia siapkan untuk Keira jika saja 10, tidak, 5 detik lagi tidak ada yang datang menolongnya yang sudah hampir mati -setidaknya begitu pikirnya-. Untunglah disaat dia sudah sekarat dan akan mati (dia benar-benar berpikir dirinya akan mati) beberapa petugas kesehatan ditambah seorang guru datang dan memberikan pertolongan. Entah apa yang mereka lakukan, aku juga tidak mengerti karena aku bukan dokter, yang jelas beberapa saat kemudian Abby sudah bisa tenang dan kali ini bisa tertidur. Tidak seperti orang yang jatuh tertidur pada umumnya, wajah Abby masih tegang, menggambarkan penderitaan yang baru saja dilaluinya mungkin memang cukup mengerikan, jika aku bisa merasakannya sendiri.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_


"Bangun kerbau!" sebuah suara mengagetkan Abby.

"Kau benar-benar tidak bisa mengontrol tidurmu ya? Sekarang sudah jam 4 sore dan kau tidur dari jam 10 pagi. Ditambah, sekarang kau di ruang kesehatan, bukan di kamar. Setidanya punyalah malu sedikit!" Keira datang dengan sewot tanpa bisa dicegah Abby yang masih mengantuk.

"Aku sudah bangun, bodoh!" Abby menjawabnya sambil menguap lebar.

"Cepat bersiap pulang. Gerbang sekolah sudah akan ditutup", Keira menarik tubuh Abby, memaksanya untuk bangun dan melemparkan tas Abby ke kasur.

Orang yang dibangunkan dengan paksa tentu saja akan membuatnya merasa ngantuk, dan pusing. Ditambah jika tadi orang itu menderita kesakitan setengah mati karena penyakit yang sudah lama dideritanya, sempurna, membuatnya sulit bangkit dan berjalan.
Meski sudah ditarik, Abby kembali merebahkan tubuhnya. Dia lebih menyerah pada rasa kantuknya daripada fakta bahwa mungkin jika 15 menit lagi mereka tidak keluar, mereka akan terkunci dalam sekolah. Dengan sangat terpaksa Keira, akhirnya, memapah Abby keluar dari ruang kesehatan. Tapi Abby tetap saja memilih tinggal dalam mimpinya, belum mau kembali. Itu membuat Keira makin kesal dan makin terpaksa menggendong Abby.

"Gale sialan!"


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_


"Dasar tukang tidur. Hei kerbau, sudah bangun belum?" Keira mengguncangkan punggungnya sedikit, membuat sosok yang sedang digendongnya gelagapan.

"Oh, uh?" Abby mengucek matanya.

Oh, Abby sekarang ingat, tadi dia memang merasa Keira sudah membangunkannya dengan susah payah. Tapi -seperti orang mengantuk kebanyakan- dia merasa itu mimpi dan lebih memilih kembali tidur. Dan disinilah dia, digendong oleh anak berambut biru pendek yang untung saja lebih tinggi darinya (maksudku, kau akan kesulitan jika digendong orang yang lebih pendek) dalam perjalanan pulang.

"Hei Kei, lelah?" tanya Abby, bodoh.

"Kalau iyapun memangnya kau mau gantian menggendongku?" tak peduli Keira menjawab.
"Besok bangunlah lebih pagi, dan yang paling utama sarapan! Jika tidak, setiap hari aku akan melakukan hal yang merepotkan seperti ini."

Ya, mungkin perlu usaha cukup keras jika Abby ingin bangun pagi. Dia punya masalah yang mungkin jarang dialami remaja wanita lain seumurannya. Kebanyakan tidur. Baginya tidak masalah, malah dia menikmatinya. Tapi jika itu membuatnya susah bangun pagi dan kehilangan waktu sarapan dan lebih memilih berangkat sekolah tanpa mengisi perut lebih dulu, beginilah hasilnya, persis seperti yang Keira katakan.

Ah sudahlah. Abby lebih menikmati masa-masa 'bangun tidurnya' daripada melayani orang beradu mulut.

"Wow Kei. Saking sibuknya bertengkar selama ini aku tidak pernah sadar kalau kau punya tenaga sebesar ini untuk menggendongku. Tenagamu seperti kuda ya", Abby terkekeh.

"Oh berhentilah mengejeku, Kerbau. Atau kau akan kuturunkan disini!" Keira mengatakannya sambil merenggangkan pegangannya pada Abby, seolah dia memang akan benar-benar menurunkannya.

Memang, mereka terlalu sibuk mencela satu sama lain selama 16 tahun hidup bersama sebagai tetangga. Keira selalu mengolok kebiasaan Abby yang sulit dibangunkan jika sudah tidur, persis Kerbau. Dan Abby, sepertinya dia hanya bisa menyindir kelakuan Keira yang seperti ini, berambut pedek, maskulin, dan disukai banyak wanita. Dia sering menyindirnya, yuri...

"Bukan salahku jika aku disukai banyak wanita", selalu seperti itu alasan Keira.

Mungkin memang benar. Tidak pernah sekalipun Keira menawarkan dirinya pada siswi-siswi di sekolah mereka. Mereka hanya menyukai Keira begitu saja. Dan anehnya laki-laki pun mempunyai perangai yang sama, memuja Keira. Mungkin, hanya karena Keira ketua OSIS saja....

"Onee-sama!", tiba-tiba dari langit (ya, dari langit) jatuh seorang anak perempuan ke arah mereka. Kontan, mereka bertiga langsung jatuh bertumpukkan.

"Itte..itee.." Abby kesakitan. Ketika bangkit, dilihatnya perempuan itu sudah duduk di pangkuannya yang masih terduduk.

"Apa-apaan ini?!" Keira berteriak marah.

"Onee-sama..Onee-sama..Onee-sama!" tanpa mempedulikan Keira, perempuan itu langsung memeluk Abby dan terus saja memanggilnya dengan Onee-sama.
"Ah, Onee-sama terluka!" dilihatnya lutut Abby yang sedikit lecet sambil sedikit histeris.
"Ma-maafkan aku. Huhu", dia mulai menangis.

"He-hei. Tidak apa-apa. Lagipula ini tidak sakit", Abby tak kalah panik. Padahal sebenarnya sakit sih.

"Hik..hik.." gadis itu mengelap air matanya dan tersenyum, senyuman jahil. Dia mengarahkan tangannya pada lutut Abby yang terluka, dan dari telapak tangannya itu keluar cahaya putih kekuningan. Abby merasakan sesuatu yang hangat dan menyenangkan dari cahaya itu. Tak lama, rasa perih di lututnya menghilang, berbarengan dengan bekas lukanya yang juga ikut raib.

Abby dan Keira hanya bisa bengong menyaksikan kejadian itu.
Makhluk apa dia? Alien? Kenapa bisa menyembuhkan orang secepat itu, pikir Keira.
Dan pikiran Abby, mungkin dia bisa menyembuhkan penyakit mag-ku lebih cepat dari petugas kesehatan sekolah...


[ FIN ]

PS : Pemberian nama saya buruk ORZ

Cerita diatas adalah potongan chapter dari fanfiction original saya, Absurd. Terima kasih telah membaca Day 1 : Abigail. Jangan lupa berikan komentar



4 Comments Stored:

  1. eh ini masih bersambung to...
    hhmm
    oke oke aku tunggu selanjutnya...

    aku kira abby tuh cowok...
    ternyata cewek ya..
    hhmm


    oya jangan lupa kasih tau age ya kelanjutannya....

    ReplyDelete
  2. wuedan dah,, panjang amat ni cerita nya... buset,,, ceritanya ada yang bikin sedih,, :escape:

    oke,, jangan jenuh mampir ke sini ya sob.

    semangat :yay:

    ReplyDelete
  3. bagusssss....
    lanjutkan....
    agak penasaran sama "one-chan" tadi...
    hmmmmm

    ReplyDelete
  4. ngomong-ngomong tentang fanfic... jadi kangen nulis fanfic lagi... tapi ah...

    ReplyDelete

[L]ain Disconnected © 2008 - 2016 | Powered by Blogger | Read Disclaimer

Back To Top
Iya, yang gua maksud emang Sherina yang itu. Yang mana? Sherina Munaf penyanyi ntuh lah, yang ultra menyilaukan itu. Siapa lagi. Lah emang doski blogger? Ada ceritanya, Jadi gini...
Di satu sisi nyali gua kepancing buat jabanin tantangan itu. Di sisi lain harga diri nggak ngijinin. Setelah pergumulan sengit, harga diri harus ikhlas derajatnya turun dikit dan ngerelain publikasi poto mengenaskan ini.
FYI masih ada aja beberapa blogger yang nggak tau gender gua cewe apa cowo. Nah poto masa kecil ini bakal memperjelas status kelamin gua di KTP. Gini ceritanya.
Gua update status di twitter kaya gini: "Orang yg baca blog saya biarpun sekejap bisa tau aslinya saya dibanding yg udh temenan lama di FB/Twit". Seorang Timeliner merespon "Saya mengenal baik anda dari apa yang anda tulis, you are what you write".
Gua baru sadar ada satu topik yang hampir nggak pernah dibahas di blog ini. Cinta. Selain Dakota Fanning, bisa dipastiin di lapak gua kagak ada satupun yang berhubungan sama cinta.
Ini dia rapper Indie yang tenar gara-gara lagunya yang ngehina salah satu band Indonesia abis-abisan. Sebenernya dia tenar bukan gara-gara lagu itu doang, tapi karena skill rapnya emang nggak bisa dipandang sebelah mata. Dijamin kuping kalian bakal dimanjain sama lirik-liriknya yang nggak murahan.
Banyak banget yang pas pertama kenal, entah itu lewat blog, facebook, forum Nakama, atau cuma selewat liat photo, langsung nanya, "Cewe apa cowo sih?" Pertanyaan yang langsung bikin MALESSSS!!!