Saturday, April 24, 2010

Day 04 : Satu Hari yang Tenang

Saturday, April 24, 2010
Aneh melihat hari ini Abby dan Keira berjalan bersama ke sekolah. Biasanya saat Keira berangkat, Abby masih tergolek di tempat tidur. Saat itu 4 buah jam wekernya akan bekerja keras membangunkan. Pada pukul 7 pagi itulah semua kesibukan -dan kepanikan- Abby dimulai, dari hanya menyikat gigi dan cuci muka tanpa mandi (dia selalu mandi malam sebelum tidur, toh setelah itu tidak akan berkeringat, pikirnya), memakai seragam dan sepatu berantakan, mengikat rambut panjang kemerahannya asal-asalan, berlari menuruni tangga menuju meja makan mengambil sebuah roti (kau tahu ini tidak akan cukup untuk perut Abby, apalagi setelah tahu makanan itu harus dibagi dengan makhluk lain dalam tubuhnya), dan berlari lagi menuju sekolah yang gerbangnya sudah hampir tertutup. Hebatnya, dia melakukan semua ini hanya dalam waktu 15 menit. Sisanya, pada pertengahan jam pelajaran dia akan meringis kesakitan karena penyakit mag nya kambuh.

Tapi pagi ini dia tidak bisa tidur dengan tenang. Bagaimana tidak, sepanjang malam dia diganggu oleh Nite yang terus menjilatinya meski sudah ditendang dan diusir sesering mungkin. Tak heran gumpalan kantung mata hitam tampak jelas menggantung dibawah matanya sekarang. Ada bagusnya juga dari kejadian ini, Abby bisa merasakan bagaimana nikmatnya sarapan pagi -dengan porsi yang lebih besar dari orang normal- tanpa perlu cemas mengejar waktu.

"Besok dia harus tinggal denganmu", untuk kesekian kalinya Abby menguap lebar, matanya berair.

"Dia peliharanmu, bukan peliharaanku", Keira membenarkan letak tas silangnya.

"Hei, dia juga kucingmu sekarang, ingat!" Abby mengatakan itu sambil mengacungkan cincin di tangannya.
"Lagupula, dia cukup praktis, kurasa. Dia bisa berubah menjadi bentuk kucing normal pada umumnya. Kekuatan ZeaL, eh? Orangtua kita pun tidak akan curiga jika kucing normal tinggal di rumah kan?"

"Tidak-tidak!" Keira mempercepat langkahnya.
"Aku percaya adanya keajaiban kalau kau berhasil bangun dan sarapan pagi. Tapi kurasa ini bukan keajaiban, melainkan kucing itu terus menjilatimu sepanjang malam, kan? Membayangkan dia mengotori wajahku dengan ludahnya sudah membuat muak!"

"Dia juga tanggung jawabmu, bodoh!" Abby bergegas menyusul Keira.

"Kalau saja kau tidak pingsan saat itu, aku tidak akan sial seperti ini!" Keira semakin mempercepat langkahnya.

"Memangnya mauku pingsan seperti itu, hah?" Abby kesal, mengimbangi langkah Keira yang sekarang lebih mirip berlari kecil.

"Dan apa kau punya ide, penjelasan macam apa yang cukup masuk akal tentang jendela kamar yang pecah pada orangtuaku jika mereka pulang nanti?" Keira berlari meninggalkan Abby.

"Memangnya aku peduli soal itu?" Abby berteriak, merasa tersaingi berlari menyusul Keira yang jauh di depan.
"Pikirkan sisi positifnya! Kau bisa menyalurkan hasrat yurimu yang selalu terpendam pada Lu tercinta dengan adanya Nite! Mengerti maksudku?"

"Aku tidak sekotor itu, Gale!" Keira semakin berlari kencang.

"Jangan munafik, manusia yuri!" tak mau kalah Abby terus berlari.

Dan entah sejak kapan, perjalanan menuju sekolah itu berubah menjadi sebuah perlombaan lari.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


Mereka sampai di sekolah dengan bermandikan keringat. Sebenarnya tidak usah terburu-buru seperti itu, toh ini masih pagi dan belum banyak siswa yang datang. Setelah mencapai gerbang sekolah -dan menaiki beberapa anak tangga-, dengan sendirinya Abby dan Keira saling membuang muka dan berjalan berjauhan. Meski sekelas tujuan mereka tidaklah sama. Abby melenggang santai -sambil mengatur napas- ke koridor kiri, dan aku yakin itu langsung menuju ke kelasnya, 11-4. Tapi Keira berjalan ke arah sebaliknya, ke ruang OSIS di ujung koridor kanan. Awalnya Keira yakin disitu belum ada siapa-siapa, tapi melalui kaca pintu dia melihat punggung seseorang yang, nampaknya, sedang mengerjakan sesuatu.

"Lu", Keira mengagetkan orang itu yang langsung berbalik dengan kaku.
"Sedang apa kau?" Keira menutup pintu perlahan.

"Ini kan hari Rabu, giliranku membersihkan ruang OSIS. Kau lupa?" Lu, Luna Cole tepatnya, menghentikan sejenak kegiatan menyapunya dan menyapa Keira dengan senyuman, seperti biasa.

Tentu saja sebagai ketua OSIS Keira biasanya tidak pernah lupa. Mengingat begitu banyak kejadian absurd yang terjadi kemarin, masuk diakal kalau dia melupakan hal-hal rutin seperti ini.

"Kau kenapa, Kei? Wajahmu sedikit pucat pagi ini, sakit?" Luna mengeluarkan selembar tisue dan mengelap wajah Keira yang masih sedikit berkeringat.

"Ah, tidak, hanya, aku buru-buru datang ke sekolah tadi, bersama Abby. Kau tahu kan, setiap bersamanya pasti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."

"Mesranya", Luna terkekeh kecil.

"Lu! Yang seperti ini bencana!" kau bisa lihat Keira sedikit merajuk ketika mengatakan ini.

Lagi-lagi Luna hanya tersenyum sambil terus mengelap keringat Keira. Matanya terfokus pada tisue di tangan, tidak memperhatikan Keira yang saat itu menatapnya dengan sorot aneh yang biasanya muncul -di anime dan manga- ketika seorang merasakan perasaan khusus pada lawan jenisnya. Yang jelas tatapan itu tidak pernah muncul sama sekali ketika dia memandang Abby.

"Manusia yuri!" seseorang berteriak dari luar dan pintu dibuka dengan kasar. Keira yang salah tingkah langsung mengalihkan pandangannya pada objek lain di ruangan itu, dan Luna yang terkejut tak sengaja menjatuhkan tisue nya.
"Pembicaraan kita belum selesai! Cepat ikut aku dan lihat siapa tamu istimewa yang datang", Abby langsung menarik kasar tangan Keira, menyeret mungkin kata yang lebih tepat.

"Sopan sedikit Gale! Tidak lihat aku sedang ngobrol dengan orang lain?" Keira menarik tangannya dengan tidak kalah kasar.

"Tidak apa-apa Kei. Lagipula pekerjaanku sudah hampir selesai", dari belakang Luna menjawab.

"Lihat? Tuan puterimu saja bilang tidak apa-apa. Cepat!" Abby kembali menyeret Keira.
"Kami pergi, Lu!" Abby langsung menutup pintu.

Mereka berjalan melintasi ruang olah raga yang jaraknya cukup jauh, melintasi kandang binatang, dan berakhir di gudang tua.

"Tidak bisakah kau menghargai orang yang sedang berbicara, Gale?"

"Maksudmu, orang yang sedang bermesraan? Masalah ini lebih penting! Lihat disana!" Abby menunjuk ke dalam gudang, pada sosok berbulu abu-abu cerah belang putih tebal yang sedang berdiri dengan ekor melingkar di kakinya.

"Apa? Kucing biasa kan?"

"Lihat baik-baik!"

Saat itu si kucing perlahan membesar. Kaki depannya berdiri naik ditopang kaki belakang, punggungnya lurus sampai ke atas. Tapal-tapal kucingnya yang halus perlahan berubah menjadi jari-jari manusia, dan cakarnya berubah menjadi kuku-kuku yang sama tajamnya (kuku inilah yang mencakar Keira di awal cerita). Semua bulu di badannya tidaklah selebat yang tadi, dan -entah muncul dari mana- tubuhnya ditutupi oleh baju berlengan pendek hijau cerah serta celana pendek kuning yang terobek tidak rapi di bagian ujungnya dan bolong pada bagian ekor. Saat perubahan itu terjadi, lonceng kuning di lehernya tak henti bergemerincing tergoyang-goyang.

"Onee-kun!" secepat kilat manusia kucing -yang aku yakin Nite- itu meloncat ke arah Keira dan bersiap menjilat. Sayangnya, dia berhasil ditendang Keira tepat di muka dengan sukses. Itu tidak membuatnya menyerah dan berusaha menjilat Keira lagi.
"Semalaman aku tidak bertemu Onee-kun, rasanya rindu sekali!"

"Heh, kenapa membawa kucing ini kemari?!" Keira masih berusaha menjauhkan Nite.

"Aku masih cukup waras untuk tidak menyelundupkannya kemari! Dia datang sendiri, bodoh!"

"Ya lalu? Apa ada Sathoclea lain yang menyerang? Kalau iya, urus saja sendiri! Yang diincar kan kau, bukan aku!"

"Tidak, nyaa~no. Tidak ada apapun yang menandakan keberadaan Sathoclea lain."

"Lalu kenapa kemari? Merepotkan!"

"Aku ingin main dengan para Onee ku, nyaa~no."

"Mengertilah, Nite. Ini sekolahan, kau tidak bisa ada disini meski dalam bentuk kucing sekalipun. Pulanglah dan tunggu kami di rumah seperti kucing peliharaan yang baik", Abby kelihatannya sedikit menghargai Nite daripada Keira, malahan aku tidak pernah mendengar Keira memanggil namanya seperti Abby.

"Bosaaaaaaaaaaaan...." Nite menggeliat malas.

KRIIIINNGGG

"Dengar? Bel sudah berbunyi dan kami harus masuk kelas. Lakukan sesukamu, asal jangan berkeliaran dengan...dengan wujud manusia!" Keira bersiap pergi.

"Dia benar, Nite. Pulanglah", Abby menyusul Keira dan meninggalkannya sendiri.

Saat kedua partnernya menjauh, muncul binar nakal dari mata Nite.
"Nyaa, tidak ada salahnya melihat-lihat tempat ini", dan Nite kembali berubah menjadi kucing biasa.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


Pelajaran pertama hari itu adalah Sejarah yang membosankan, dengan guru yang membosankan pula. Dia sudah cukup tua dan memakai kacamata tebal, lebih tepat disebut menerangkan pelajaran untuk dirinya sendiri karena tidak pernah berhenti berbicara atau memberikan kesempatan pada muridnya untuk bertanya. Tapi aku yakin kalaupun dia melakukan itu, tidak ada yang mau bertanya atau berkomentar. Kebanyakan murid lebih memilih tidur (Abby tidak menyia-nyiakan kesempatan ini) atau diam-diam membaca komik yang diselipkan diantara buku pelajaran. Sang guru tidak pernah memperhatikan karena dia terlalu sibuk pada perkataannya sendiri. Tapi kau tahu tidak ada murid yang benar-benar membencinya.

Keira memanfaatkan waktu luang itu untuk memeriksa kembali pekerjaan OSIS nya yang belum rampung. Dia mendesah pelan melihat teman sebangkunya telah tertidur pulas entah sejak kapan. Tak habis pikir bintang apa yang menaunginya diatas sana, yang jelas dia yakin bintang itu membawa kesialan. Berturut-turut dia selalu salah mengambil undian dan mendapat tepat yang sama dua tahun ini, di sebelah Abby. Seolah belum cukup, sekarang dia harus berurusan dengan hal-hal yang menurutnya bodoh dan absurd seperti Sathoclea, api kehidupan, ZeaL, dan sebagainya yang tidak ingin dia ingat. Mungkin Keira tidak terlahir dengan bintang yang buruk juga, kurasa, karena di sekolah ini dia menjadi seseorang yang cukup dikenal bahkan mempunyai fans club sendiri (yang anggotanya terdiri dari laki-laki dan perempuan). Dua tahun berturut-turut dia terpilih menjadi ketua OSIS dan ketua klub Anggar.

"Mungkin sumber kesialanku adalah kau", Keira melirik selewat pada Abby yang masih asyik tertidur dan mulai membuat kumpulan liur di pinggir bibirnya. Dia mengalihkan perhatiannya pada jendela yang langsung memberikan pemandangan pucat lapangan sekolah. Dari atas sini dia bisa melihat cukup jelas segerombolan anak yang sedang berlari kecil mengelilingi lapangan. Matanya teralih pada seseorang yang sibuk mencatat absen, kurasa. Luna, rambut pirang panjang yang biasanya dibiarkan tergerai itu diikatnya kali ini. Si sekretaris OSIS mengenakan ikat kepala biru kuning bertuliskan "My Moon" yang entah bagaimana bisa terlihat begitu cocok dipakai olehnya. Kau akan cukup kaget kalau tahu ikat kepala itu pemberian Keira. Dia belajar merajut mati-matian selama tiga bulan dan setelah gagal berkali-kali akhirnya berhasil membuat sebuah ikat kepala yang hasilnya tidaklah serapi buatan toko. Untunglah dia sempat memberikannya tepat di hari ulang tahun Luna bulan lalu, dan Keira berpikir bagaimana mungkin Luna mau memakai benda jelek buatannya.
"Yang penting niat dan prosesnya, bukan hasilnya", ya aku setuju dengan alasan Luna. Toh itu membuatnya tampak makin manis. Tapi karena itu ikat kepala, Luna hanya bisa memakainya saat pelajaran olah raga saja. Tak habis pikir, kenapa mesti ikat kepala? Selera Keira tentang hadiah ulang tahun memang buruk.

Keira terheran, yakin lima menit lalu anak-anak itu masih berlari dengan rapi dan sekarang mulai berkerumun mengelilingi sesuatu. Keira memicingkan mata, dan langsung kesal begitu tahu apa yang ada disana. Nite, dia membuat semua orang -termasuk Luna- melupakan kegiatannya yang langsung sibuk mengelus dan memuji betapa lucunya wajah Nite, betapa halusnya bulu Nite, betapa merdunya suara meongan Nite. Sebenarnya Keira ingin langsung mendatangi Nite dan menendangnya, tapi mengingat disana ada Luna -yang omong-omong sangat menyukai kucing- ditambah jika nanti Nite mulai bertingkah dan membuat semua orang yakin dia adalah kucingnya, Keira hanya terus mengamati dari jendela. Dan kemana guru olahraga? Harusnya dia ada disana untuk mengajar bukan? Sebenarnya guru itu tidak masuk hari ini, sakit sepertinya. Pemandangan itu terus berlanjut sampai pelajaran pertama selesai.

"Abby, cepat bangun! Abby! ABBY!" Keira bereriak kencang ditelinga Abby, membuatnya terlonjak kaget.

"Hei itu menyakitkan! Pelan-pelan saja, aku tidak tuli!"

"Ayo cepat!" Keira menggusur Abby yang masih mengantuk. Dia membawanya keruangan kelas 11-2, kelas Luna.
Disana ada kerumunan kecil, bergegas mereka berdua masuk ke dalamnya. Ternyata Nite -yang dipangku Luna- yang sedang dikerubuti. Tanpa basa-basi Keira langsung menarik Luna, dan menyeret mereka berdua ke ruangan OSIS.

Sesampainya di ruang OSIS, Keira mengunci pintu.
"Ada apa? Kau membuat kucing lucu ini ketakutan", Luna mengelus Nite yang bertingkah manja.

"Pertama, kucing itu tidak lucu sama sekali. Kedua, kucing liar ini milik Abby, jadi Luna, sebaiknya cepat serahkan dia pada Abby agar tidak timbul masalah. Ketiga.."

"Jadi ini kucingmu, Abby?" Luna memotong.

"Uh, oh? Well, iya", Abby yang masih sedikit mengantuk mulai mengerti situasi.

"Wah, kebetulan sekali! Oh ya, pulang sekolah nanti aku boleh pinjam dia tidak? Aku mau pergi ke toko buku membeli beberapa perlengkapan OSIS. Boleh kan? Tentu saja sebagai pemiliknya kau juga boleh ikut, Abby. Itupun kalau kau mau", Luna terus saja mengelus bulu halus Nite.

"Ow, ow, tentu saja tuan puteri. Dengan senang hati aku akan melayani", Abby mengatakan itu dengan nada menggoda, yang aku yakin godaan itu ditujukan pada Keira.

"Aku juga ikut!" Keira menyosor.

"Tidak boleh! Yang diajak hanya aku! Kau khawatir kami akan melakukan sesuatu? Tenang saja, tuan puterimu tidak akan apa-apa. Maksudku, aku tidak se-yuri kau."

"Bu-bukan! Aku juga perlu tahu kan jika ini berhubungan dengan kegiatan OSIS."

"Tidak usah sok-sok menjadi ketua OSIS yang baik. Kau memang munafik!"

"Sudahlah. Kita bertiga -berempat dengan Nite- pergi bersama. Bagaimana?" Luna menengahi.


*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*


Sungguh, Abby menyesal ikut.
Keira dan Luna sibuk mengobrol tentang kegiatan OSIS dan pembicaraan lain yang tidak dia mengerti. Abby jadi merasa terkucilkan, meski tentu saja Luna dan Keira tidak bermaksud demikian. Tapi jika dua orang sudah terlibat perbincangan yang hanya dimengerti oleh mereka berdua dan kau berada diantaranya, mau tidak mau kau akan merasa terkucilkan. Ditambah, sekarang Keira menjadi seorang penjilat yang berpura-pura menyukai kucing dan mengelus kikuk tubuh Nite yang digendong Luna. Pemandangan yang membuat Abby sedikit muak.

Baru saat selesai berbelanja, keberadaan Abby mulai disadari Keira dan Luna. Mereka berpisah di tengah-tengah jalan yang terbelah dua antara barat dan utara.
"Terima kasih sudah menemaniku berbelanja, juga mengizinkan Nite ikut bersamaku. Dia kucing yang benar-benar manis", Luna memberikan Nite pada Abby.

"Tidak masalah. Kurasa dia juga boleh sering-sering menginap di rumahmu, Lu. Iya kan, Kei?"

"Yah, itu lebih baik, kurasa. Aku tidak keberatan."

"Kenapa? Kau tidak keberatan Kei? Kukira ini kucing Abby, kenapa kau yang tidak keberatan?" Luna menatap heran.

"Um, yah, itu.."

"Dia kucing kami berdua, Lu. Kuharap kau tidak marah aku memelihara kucing berdua dengan pangeranmu. Tapi ini bukan keinginan kami, mengerti. Ini hanya kecelakaan", Abby menjawab menggantikan Keira yang tak bisa mengeluarkan alasan.

"Ah, kau benar-benar menyukai kucing sampai-sampai memeliharanya Kei? Aku senang mendengarnya."

"Haha, tentu saja, Lu. Tidak hanya kucing, semua binatang pun aku suka", Keira berkata dengan -entah bagaimana- nada sombong.

"Baiklah, kita berpisah disini. Sampai jumpa besok", Luna berjalan ke arah barat, meninggalkan Keira dan Abby yang berjalan ke arah utara.

"Akting yang bagus, Kei. Terutama bagian ketika kau bilang suka semua binatang. Sukses membuatku ingin muntah."


[ FIN ]



2 Comments Stored:

  1. :laugh:
    kei kei kei kei
    bener² yuri bangetz dah dia..
    hha....



    sip bangetz ceritanya...
    :thumb:

    oya highlight author comment gak bisa..
    yang dari tempatnya kak ardi juga gak bisa...
    aku lum tau kenapa...
    hft...

    ReplyDelete
  2. haha...
    dasar si kei,,,
    ada maunya aja, ngelus2, ckck
    emang bikin sedikit bikin muak seh,,,
    sok :sparkling: gitu

    gk heran si abby mual gitu, aku aja mual...
    hhe


    keep writing, i'll wait for it :slay:

    ReplyDelete

[L]ain Disconnected © 2008 - 2016 | Powered by Blogger | Read Disclaimer

Back To Top