Wednesday, July 29, 2009

I Wanna Touch You

Wednesday, July 29, 2009
Ini fanfic iseng yang aku bikin jam 3 tadi malem pas lagi ga bisa tidur gara-gara mikirin Dakota Fanning. Dan plot cerita na juga ga begitu kuat sih, soal na aku maksa buat ga masukin unsur nudity berlebihan, padahal pengen dimasukin =,=
Jadilah sebuah cerita hambar seperti dibawah ini. Tapi aku harap enjoy yah >_<



I Wanna Touch You

"Woaaaa.." mulutku menganga lebar saat melihat sebuah majalah yang covernya bergambar Dakochan.
"Imut sekali!" aku tak bisa menahan diri untuk tidak berteriak dan meremas majalah itu saking gemasnya.


"Eh mbak, jangan dirusak dong majalahnya. Kalau mau ya beli aja!" loper majalah yang melihat perbuatanku langsung menegur dengan ketus. Yah, tidak apa sih, toh aku memang mau membeli majalah itu. Ditambah di dalamnya ada bonus poster yang cukup besar.

"Hah? Kok posternya risek sih? Ah, bego, kan tadi malajah ini dirisekin sendiri sama aku. Klo tau gini mending tuker diem-diem sama majalah lain deh", aku yang tidak bisa menerima perbuatanku sendiri langsung nomel-ngomel. Tapi tetap saja poster yang sudah setengah berantakan itu aku pajang juga di dinding kamar.

"Kamu makin gede aja ya Dakochan, makin cantik pula", ringisku dalam hati.

***

Dakochan. Idola yang sedang bersinar. Aktingnya dalam berbagai film sering mendapat pujian. Itulah mengapa aku suka padanya. Tapi sebenarnya ada alasan lain.
Aku...mencintainya.
Jika kalian kira ini hanya perasaan cinta seorang fans kepada idolanya, ya mungkin sedikit benar. Tapi yang aku maksud adalah, aku benar-benar mencintainya. Ingin memilikinya, menyentuhnya, menciumnya, dan segudang pemikiran kotor lain yang tidak pantas aku sebutkan.

Ah, aku jadi ingat masa-masa kecil kami dulu.
Tunggu, KAMI?
Ya, kami. Percaya atau tidak, Dakochan adalah teman masa kecilku. Saat umur 7 tahun, Dakochan pindah kesini menjadi tetangga baruku. Dan saat itulah untuk pertama kalinya aku melihat seorang bidadari. Cantik, dan menggemaskan pastinya. Kami mulai menjadi teman bermain yang cukup akrab. Ah sudahlah, aku dan Dakochan sudah tidak bisa seperti dulu lagi.

***

Brum..brum..
Aku terbangun dari lamunanku karena sebuah suara. Kuintip dari jendela kamar kearah suara itu berasal. Ternyata sebuah mobil, tapi milik siapa? Aku tidak pernah melihat mobil itu sebelumnya. Penasaran, aku keluar rumah dan melihat.

"Plat nomornya sih dari luar kota. Sodara tetangga kali. Balik ah, ga asik."

Baru beberapa langkah, aku berhenti.
Tunggu, mobil itu parkir di rumah Dakochan yang lama. Setahuku, rumah itu tidak dijual dan hanya menjadi rumah kosong. Lalu kenapa mobil itu ada disana?
Kembali diliputi rasa penasaran, aku berjalan kembali ke arah mobil itu. Kutinggalkan rumah belum dikunci, rasa penasaranku lebih besar. Pelan-pelan kuintip kaca jendelanya, tapi tidak ada orang. Dengan nekad akhirnya aku memasuki rumah Dakochan yang seharusnya kosong itu. Dan benar saja, pintunya tidak dikunci! Dengan hati-hati aku membuka pintu dengan sebelumnya tengok kanan kiri memastikan tidak ada orang lain yang melihat.
Dan ketika aku masuk, tiba-tiba saja sebuah tangan membekap mulutku dari belakang. Siapa itu?

"Sssstt, diem, ini aku!"

Ini aku? Aku siapa? Siapa orang ini? Dari suaranya aku tahu dia wanita.

"Rain-kun, klo aku lepasin, kamu jangan teriak ya!"

Rain? Dia tau namaku? Tapi bukan itu masalahnya. Hanya satu orang yang selama ini selalu memanggilku dengan Rain-kun. Tapi dia kan...

"Dakochan!" aku berbisik sepelan mungkin.
"Kok? Bisa? Disini?" dengan kaget dan terbata-bata aku bertanya.

"Haha..jangan teriak bukan berarti harus bisik-bisik kan", dia tersenyum.
"Rain-kun! Aku kangen!" tiba-tiba dia memelukku begitu saja. Aku terperanjat tidak percaya, dan seketika jantungku berdetak sangat kencang. Wajahku memerah.

"Bu-bukan itu masalahnya", aku yang salah tingkah langsung melepaskan tangan Dakochan dari pundakku. Sial, padahal sebenarnya aku ingin terus berpelukan!!!!
"Ngapain kamu disini? Maksudku, kok bisa disini? Kamu kan harusnya lagi syuting film baru toh? Kabur ya?"

"Hhhh..." dia menghela napas panjang sembali melemparkan tubuhnya keatas sofa.
"Aku cape, pengen istirahat dulu sebentar. Aku pikir disini ga akan ada yang ganggu. Orang-orang juga pasti ga akan ngira aku bakal kabur kesini. Yang mereka tau rumah ini kan udah kosong."

Ah, apa boleh buat, pikirku. Memang kasihan juga melihat Dakochan yang seperti sekarang. Kerja dan kerja, begitulah kesehariannya. Bahkan setahuku, media pernah berkata untuk masuk sekolah 4 hari dalam seminggu pun sangat sulit, karena saking padanya kesibukan Dakochan.
Aku duduk di sampingnya.
"Terus ga ada yang nyariin?"

"Ngg, pasti ada sih. Tapi tau deh mereka nyari kemana. Tapi sayang juga ya aku pindah. Padahal kan lebih enak tinggal disini bareng kamu. Klo di tempatku yang baru, mereka ngedeketin cuma ada maunya aja, muka manipulasi semua".

Ba-bareng aku? Ga salah denger nih?!
"Tapi ga kerasa ya kamu udah pindah 4 taun. Ngg, kita sekarang 17 taun, berarti kamu pindah dari umur 13 ya".

"Iya, dan udah 4 taun juga aku mesti hidup membosankan kaya gini".

"Manja banget, itu kan resiko!" aku menimpali.

"Ngomong-ngomong manja, inget ga waktu umur 8 taun pas kita maen di taman? Waktu itu kan lagi ada pembangunan, trus ga sengaja tangan aku kena paku terus berdarah. Terus....terus kamu ngisep tangan aku, biar darahnya ga keluar lagi, bilang aku jangan nangis. Klo diinget lagi, waktu itu aku manja banget.

Bagaimana mungkin aku bisa lupa? Saat itu, aku juga berjanji akan terus melindungi Dakochan, menjaganya agar tidak menangis lagi. Tapi klo dipikir sekarang, rasanya itu janji konyol anak-anak yang dengan polos bisa terucap. Tapi bagaimanapun juga, janji tetaplah janji, dan aku akan menepatinya.

Dia mengubah posisinya dari tidur menjadi duduk. Sekarang posisi kami sejajar, sehingga aku bisa melihat matanya yang begitu indah memandangku dengan tulus.
"Untung aku punya kamu, Rain-kun", kata-kata itu menelusup begitu dalam, membuat alian darahku berdesir kencang.
Perlahan wajah kami saling mendekat.
"Aku juga beruntung punya bidadari secantik kamu," sembari berkata demikian, wajah kami semakin mendekat. Sangat dekat, sampai aku pun bisa mendengar setiap hembusan nafas yang keluar dari mulutnya.
Akhirnya, bibir kami bertemu. Tapi baru saja sejenak, aku langsung menjauh dan membuang muka.

"Maaf", hanya itu yang bisa aku katakan.

"Kenapa?"

"Kenapa? Kamu liat dong siapa aku. Aku cuma anak SMA biasa. Nah kamu? Kamu digilai banyak orang! Kamu dicintai semua orang. Egois klo aku pengen milikin kamu sendiri", dengan nada sedih aku berkata.

"Terus kenapa? Sebanyak apapun orang yang cinta sama aku, tapi hati aku tetep cuma ada satu. Dari dulu kamu udah tau kan perasaan itu buat siapa?" Dakochan membelai wajahku dengan lembut.

"Itu dia masalahnya. Dari awal ini udah salah. Kita masing-masing tau klo pada akhirnya perasaan itu ga bakal bisa bersatu sampe kapanpun!"

"Maksud kamu apa? Kamu lupa sama janji kita? Dulu aku janji bakal jadi pengantin kamu, dan kamu janji bakal jagain aku."

"Itu dia Dakochan. Kita ga bisa jadi pengantin. Siapa yang bakal jadi mempelai pria? Apa pernikahan bisa terjadi klo kedua mempelai itu wanita?!" sedikit emosi aku berkata.

"Huh..mungkin kamu bener. Itu cuma janji bodoh yang diucapkan dua anak bego yang ga tau apa-apa. Itu cuma janji yang ga penting", Dakochan bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah tangga, pergi tanpa bisa dicegah olehku yang merasa bersalah.

Ah, bego! Kenapa aku harus berkata seperti itu?! Kalau saja dia tahu, aku sangat ingin menyentuhnya. Tapi aku tidak bisa! Aku tidak pantas untuk orang sesempurna dia. Aku tidak pantas...
Mungin sebaiknya aku pulang saja, pikirku. Lalu aku menaiki anak tangga, mencari Dakochan untuk berpamitan. Dan benar saja, rupanya dia sedang ada di kamarnya yang dulu, meringkuk disana sendiran. Aku jadi tidak tega.

"Maaf lagi. Aku ga bermaksud nyakitin kamu. Aku cuma..." kata-kataku terhenti disana.
"Aku cuma mau pamit. Maaf udah ganggu kamu."

"Tunggu!" dengan segera Dakochan menubrukku daribelakang, memelukku dengan erat.
"Aku ga peduli kamu mau bilang apapun. Kamu mau benci sama aku juga terserah. Tapi yang jelas aku mau ngelakuin hal yang udah lama aku tahan. I wanna touch you.." dia membisikkan kalimat terakhir dengan lembut. Setelah itu dia mulai mencium bibirku.
Aku mulai membalas ciumannya dengan perlahan, takut menyakiti bibirnya yang semerah buah ceri. Aku memeluknya, merasakan tiap lekuk tubunya yang sangat sempurna. Tak pernah kubayangkan hal seperti ini akan terjadi.

"I wanna touch you too.." kubisikkan kalimat itu sambil membimbingnya ke arah kasur. Perlahan tapi pasti, kami mulai melucuti pakaian satu demi satu. Dan akhirnya kami menghabiskan malam itu di rumah ini, rumah yang menyimpan sejuta kenangan antara aku dan Dakochan. Disana akhirnya aku bisa bersama seorang bidadari yang selama ini tidak bisa tersentuh...

[ FIN ]

Parah, cetek banget cerita na.
Ma-maaf Dakochan, aku ga bisa bikinin kamu cerita yang lebih berseni ORZ
Lagi miskin ide :(



9 Comments Stored:

  1. hahah im the first alias pertamax.... okweeee

    ReplyDelete
  2. waw..waw..
    klo Dakota tmn masa kecil kamu, q mau minta tanda tangannya 10 aja. eh..100 deng. klo d jual kan lumayan.
    fufufu..

    ReplyDelete
  3. (nara)
    kkkkkkkkk......
    ceritanya ya gto dehh,, kela can beres macana

    ReplyDelete
  4. (yoza)

    bagus kok, padahal katanya lagi miskin ide :D

    ReplyDelete
  5. wekz....
    gak ada mempelai pria nya..
    jadi itu..........

    ckckck.....

    ReplyDelete
  6. swt niat bgt...

    w sih

    Carol, ttep! Hahaha

    ud mls lyat anna hathaway :)

    Carol aj :D

    ReplyDelete
  7. @akane
    memang begitu..
    kamu tidak tau klo saiaa yuri :3

    @maria
    poto na liat dong Dx

    ReplyDelete
  8. halah..
    dakota..

    ReplyDelete

[L]ain Disconnected © 2008 - 2016 | Powered by Blogger | Read Disclaimer

Back To Top
Iya, yang gua maksud emang Sherina yang itu. Yang mana? Sherina Munaf penyanyi ntuh lah, yang ultra menyilaukan itu. Siapa lagi. Lah emang doski blogger? Ada ceritanya, Jadi gini...
Di satu sisi nyali gua kepancing buat jabanin tantangan itu. Di sisi lain harga diri nggak ngijinin. Setelah pergumulan sengit, harga diri harus ikhlas derajatnya turun dikit dan ngerelain publikasi poto mengenaskan ini.
FYI masih ada aja beberapa blogger yang nggak tau gender gua cewe apa cowo. Nah poto masa kecil ini bakal memperjelas status kelamin gua di KTP. Gini ceritanya.
Gua update status di twitter kaya gini: "Orang yg baca blog saya biarpun sekejap bisa tau aslinya saya dibanding yg udh temenan lama di FB/Twit". Seorang Timeliner merespon "Saya mengenal baik anda dari apa yang anda tulis, you are what you write".
Gua baru sadar ada satu topik yang hampir nggak pernah dibahas di blog ini. Cinta. Selain Dakota Fanning, bisa dipastiin di lapak gua kagak ada satupun yang berhubungan sama cinta.
Ini dia rapper Indie yang tenar gara-gara lagunya yang ngehina salah satu band Indonesia abis-abisan. Sebenernya dia tenar bukan gara-gara lagu itu doang, tapi karena skill rapnya emang nggak bisa dipandang sebelah mata. Dijamin kuping kalian bakal dimanjain sama lirik-liriknya yang nggak murahan.
Banyak banget yang pas pertama kenal, entah itu lewat blog, facebook, forum Nakama, atau cuma selewat liat photo, langsung nanya, "Cewe apa cowo sih?" Pertanyaan yang langsung bikin MALESSSS!!!